Dua bulan menjelang dibukanya bilik suara untuk warga Jakarta, langkah Ahok yang sebelumnya sempat tertatih-tatih, kini terlihat semakin tegap dan mantap. Sempat terhempas dihantam badai Pulau Seribu, Ahok yang begitu menggebu untuk sekali dayung  bisa sampai, terpaksa  harus menepi. Ia tak kuasa menahan tangannya untuk mendayung ke arah yang tidak dia kehendaki, dan ia pun dipaksa untuk semakin menjauh dari labuhan di mana hatinya tertambat sudah.

Andai ia terus mendayung menantang badai, sangat mungkin perahunya sudah terbalik. Dan tidak ada yang tahu dengan pasti bahwa itu juga akan menjadi akhir dari sejarah Sang Petualang asal Belitung. Dan berbeda dengan apa yang pernah diucapkannya: "Mati Adalah Keuntungan," kisahnya justru bisa berakhir sebagai seorang penista. Sungguh tidak beruntung untuk seorang petarung dari Belitung.

Untunglah badai berangsur reda, dan perlahan namun pasti, Ahok juga  mulai berhasil mengendalikan keadaan. Badai yang tadinya begitu dahsyat menghempaskannya, kini mulai bersahabat dan sudah berbalik arah untuk mendorong lajunya. Dengan cepat ia pun berhasil rebound, dan waktu ke depan sepertinya akan terus memihaknya sampai ia tiba dan berlabuh di Balai Kota.

Jika badai yang sudah sedemikian dahsyat ternyata tidak mampu mengandaskannya, lalu dengan apa ia bisa dihambat?

Lolosnya Ahok dari hempasan Badai Pulau Seribu bisa jadi telah membuat para pesaingnya di Pilkada DKI menjadi frustrasi. Agus Yudhoyono, sosok yang senang berlari di trotoar, melompat dari panggung, dan melempar wacana bantuan tunai, kini harus menghadapi kenyataan yang begitu cepat berubah.

Dan ternyata tidak mudah, tidak seperti yang telah dibayangkannya sebelumnya. Ia, dengan petunjuk sang ayah, juga dibantu oleh GPS barunya sedang mencoba membangun kepercayaan diri. Sembari meneropong dari jauh, diamatinya Ahok dengan seksama dan hampir karam dihantam badai penistaan yang berhembus dari Pulau Seribu. Dan konon isunya,  turut juga dibantu oleh angin dari Cikeas.

Ia pun sudah dua kali lari menghindari debat, melompat dan kabur dari panggung yang ditunggu pemirsa. Dengan melempar alasan lebih memilih untuk bersama dengan rakyat, ia membuat upaya untuk bisa menghindar dari kecerdasan Ahok. Ia  juga merasa ngeri dengan jebakan silat lidah Anies Baswedan, yang sangat lihai dalam mereduksi prestasi dan kinerja kontestan yang menjadi pesaingnya.

Dan memang, Ahok bukanlah tandingan yang sepadan untuk Agus Yudhoyono. Seorang pemula yang belum seumuran jagung mengenal seluk-beluk politik dan rumitnya mengelola birokrasi, dan siapapun pasti tahu akan hal itu. Selain cerdas, Ahok adalah seorang pekerja keras dan sangat berintegritas. Ia seorang pemberani, dan juga tidak kenal kompromi.

Walau sering dituduh tak punya hati, namun Ahok ternyata sangat manusiawi dan selalu jujur dengan nurani. Berkali-kali ia dituduh kolusi dan korupsi, namun sampai saat ini tidak satupun yang terbukti. Justru, para penuduhnyalah yang kerepotan karena harus memberi klarifikasi kepada  Komisi Pemberantasan Korupsi usai tertangkapnya M. Sanusi di kasus suap reklamasi.

Soal program kerja dan kinerja, sulit menemukan celah guna mencela Ahok, apalagi untuk dibandingkan dengan Ahok, yang  dalam  tempo dua tahun sejak memegang kendali Jakarta, hasilnya begitu nyata. Siaga Waduk Katulampa kini hanya tinggal cerita. Banjir besar yang sering melumpuhkan Jakarta, perlahan dan pasti semakin terkendali dengan antisipasi dan penanganan begitu rupa.

Dengan normalisasi sungai dan kali, bencana banjir kini semakin tertangani. Bahkan, sungai dan kali di Jakarta makin jernih dan bersih. Itu bukan lagi mimpi, apalagi hoax. Itu fakta dan bukan hasil rekayasa. Jika tidak percaya, datanglah ke Jakarta. Belum lagi rencana pembangunan tanggul dan juga kesiagaan  pompa yang terus diawasi, kini menjadikan warga Jakarta bisa merasa lebih lega.

Serapan anggaran, walaupun masih belum maksimal  namun  output-nya ternyata sangat jauh bila dibandingkan dengan  yang sudah-sudah, yang hampir selalu habis tanpa sisa. Diserap oleh siapa, ke mana, untuk apa, dan juga bekasnya  tidak begitu dirasakan warga. 

Birokrat DKI yang dulunya manja dan bertingkah kini sudah berubah. Berani saja pungli, kalau tidak segera diganti. Birokrasi tugasnya melayani, bukan duduk di kursi sambil menghitung uang masuk di laci, menunggu bel pulang berbunyi.

Belum cukup?

Anda warga DKI dan punya masalah? Laporkan saja, pasti diresponi. Jika belum puas di hati, Balai Kota menanti setiap pagi. Sesuatu yang tidak pernah ada di seantero negeri, seorang gubernur mau mendengar curahan hati, dan seringkali memberi solusi melebihi ekspektasi. Bahkan, kawinan warga sangat sering disatroni. Dan juga tidak lupa, pasti selalu diamplopi. Apalagi?

Entahlah, bila harus ditambah dengan puluhan ribu unit rusun dengan fasilitas sekelas apartemen untuk menampung warga yang direlokasi. Dan juga disertai pemberdayaan warga rusun, Transjakarta gratis, fasilitas kesehatan,  hingga turnamen bola antar anak rusun yang bisa mengantarkan mereka sampai ke Eropa. 

Ratusan  RTPRA, wajah baru Kali Jodo, hijaunya taman Waduk Pluit dan RTH yang belum disebut. Layanan Transjakarta yang semakin baik dan terintegrasi, KJP dan beasiswa untuk mahasiswa yang diterima di PTN, KJS dan layanan kesehatan yang semakin baik, pembangunan Masjid, Marbot diumrohkan, tolong dilanjutkan...

Tentu siapapun akan berpikir, dan tidak cukup hanya dengan dua kali berpikir sebelum sesumbar mengklaim dirinya lebih baik dan lebih hebat dari petahana. Itulah yang sepertinya sangat menggentarkan hati Agus Yudhoyono, sehingga ia lebih memilih bermain aman dan selalu menghindar. Ia lebih merasa nyaman bermain dari jarak jauh dengan terus meniru resep lama sang ayah, yakni pencitraan.

Lain lagi dengan Anies Baswedan, yang juga tadinya (sangat mungkin) berharap Ahok terpeleset dan jatuh di "Jalan Penistaan." Memperhatikan situasi yang kini mulai berbalik arah, ia pun kembali menggunakan jurus lamanya. Sebelumnya,  ia memulai spekulasi dengan menempelkan topeng Foke di wajah Ahok untuk sungai bersih di Jakarta.

Maksud Anies ternyata tidak direstui Google, yang tetap pada pendiriannya bahwa semuanya  itu tetap karena Ahok, bukan Foke. Lalu, Anies pun mulai berpikir keras guna mencari strategi yang lebih halus, namun bisa sangat dalam menusuk. Tentu, Anies Baswedan  yang lumayan pintar itu sangat pandai menemukan kata guna menyamarkan fakta. Dengan demikian, ia berharap prestasi dan kinerja Ahok hanya akan terlihat samar.

Hal ini tentu sangat diharapkannya mampu mengurangi kredit poin yang diberikan warga kepada Ahok. Sambil ia dengan gaya santunnya mencoba terus memikat hati warga untuk bisa mencuri  kredit poin  yang sudah dikantongi Ahok. Sesekali, ia pun berupaya dengan cara halus dan lihai mengeksploitasi gaya bicara dan ucapan Ahok untuk bisa memikat hati warga yang diharapkannya bisa terpancing dengan isu kesantunan.

Ia pun mengulangi taktik yang sama dengan menyebut Ahok hanya membangun benda mati, istilah yang diberikannya untuk infrastruktur yang dibangun di bawah kepemimpinan Ahok. Ia berharap warga bisa terpesona dengan permainan majas yang dipertontonkannya. Ia berupaya membuat  perasaan warga  termanja dengan permainan kata yang membuatnya seakan berbeda dengan istilah "Pembangunan Manusia."

Anies mungkin lupa, Jakarta bukanlah sekolahan yang begitu mementingkan sastra dengan gaya bahasa dan terminologi. Jakarta butuh substansi atau bukti, tidak cukup hanya dengan janji, apalagi belum pernah terbukti. Infrastruktur yang dibangun oleh Ahok justru untuk memanusiakan manusia Jakarta. Bagaimana supaya warga bisa nyaman dan aman tinggal dan beraktifitas di Jakarta.

Demikian juga dengan pembenahan layanan birokrasi. Semuanya ditujukan untuk memanusiakan warga, bagaimana supaya birokrat DKI melayani warga seperti melayani diri mereka sendiri. Itulah yang disebut manusiawi. Rusun layak huni dibangun untuk warga yang tinggal di kawasan kumuh dan bantaran kali. Fasilitas pendidikan dan kesehatan dibenahi, dan warga difasilitasi untuk mendapatkan berbagai kemudahan yang menjadi hak mereka.

Kesempatan kerja diperluas dengan adanya pasukan warna-warni untuk membantu warga Jakarta. Dengan demikian, mereka  yang mendapat pekerjaan dan memiliki usaha bisa hidup mandiri dan mengembangkan potensi diri. Inilah pembangunan manusia yang sebenarnya, bukan dengan memberikan bantuan tunai atau bantuan sosial dengan jor-joran dan terus memanjakan warga.

Pemerintah, tugasnya adalah memfasilitasi dan menyiapkan sarana dan prasarana yang baik dan memadai serta terjangkau. Membuat regulasi, menciptakan iklim usaha dan investasi yang baik untuk terciptanya lapangan kerja dan usaha demi keadilan sosial. Bukan mengurusi dan menyiapkan semua kebutuhan warga supaya mereka bisa duduk tenang minum kopi sambil menonton televisi. 

Tentu dalam kampanye janji-janji seperti itu memang  sangat sering kita dengar. Namun,  tentulah warga sangat bisa membedakan  masanya kampanye dan kehidupan nyata.

Dan memang, tidak mudah bagi Anies Baswedan karena hingga saat ini, dibandingkan dengan Agus Yudhoyono, posisinya pun masih ada di bawah. Untuk menahan laju Agus, ia pun sesekali melemparkan jab yang diharapkannya bisa membongkar titik lemah Agus.

"Siapa Agus? Berapa jumlah orang yang sudah pernah dipimpinnya? Apa yang sudah pernah dia buat untuk warga Jakarta?"

Jab Anies Baswedan yang begitu telak mengena sudah pasti membuat wajah Agus memerah. "Pukulan"  Anies Baswedan memang sifatnya hanya pancingan, namun tidak kurang telah membuat banyak penonton terhenyak dan mulai ragu akan kebenaran informasi yang mereka dengar tentang kehebatan Agus.

Sebelumnya memang, selalu digaungkan dengan massif bahwa prestasi militer Agus sangat luar biasa. IP-nya begitu maksimal. Belum lagi dengan kegantengannya yang sudah pasti akan disukai oleh kaum ibu-ibu dan juga pemilih wanita. Entahlah, apa pula relevansi kegantengan dengan Jakarta yang beradab dan lebih baik.

Tentu masih banyak lagi kehebatan lain Agus, seperti: melompat dari panggung, terjun dari dek kapal ke pantai di Pulau Seribu. Belum lagi dengan janji-janjinya yang sangat menggiurkan. Dan yang paling heboh adalah, nilai tunainya. Wow, fantastis!

Dan ini tentu perlu mendapat perhatian serius dari Anies Baswedan, jika ia masih berharap untuk memiliki asa seandainya ada putaran kedua. 

Begitulah Ahok, setelah diterpa badai Pulau Seribu yang super dashyat, dengan kulminasi Demo Super Damai 212, ia pun kini melangkah dengan pasti. Dan tentu, semua itu tidak terjadi begitu saja. Semua itu merupakan bukti bahwa Ahok benar-benar sangat teruji dan sudah terbukti.