Belum usai persoalan terkait krisis kesehatan dan ekonomi akibat pandemi, Indonesia kembali dihadapkan dengan krisis kemanusiaan. Di mana beberapa waktu lalu telah terjadi tragedi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan. Hal tersebut merupakan momok yang kerap kali hadir di tengah masyarakat penganut multikulturalisme.

Ironisnya, pelaku berpikiran bahwa kejahatan yang dilakukan merupakan sebuah kebenaran. Terbukti dari tulisan tangan yang sempat dituliskan sesaat sebelum melakukan aksinya.

Kehadiran agama sebagai penuntun manusia menuju jalan kebaikan, justru disalahpahami untuk membenarkan tindakan keji dan biadab semacam itu. Di sini nampak jika mutu sumber daya manusia para pelaku terorisme cenderung rendah. Bahkan tindakan tersebut hanyalah cerminan bahwa mereka tidak mampu menguasai hasrat dan nafsu.

Kesesatan berpikir diperparah dengan banyak pemimpin muslim yang tidak mengimplementasikan nilai-nilai islam dengan baik. Pemimpin muslim justru lebih memprioritaskan kelompoknya sendiri dan membangun masyarakat islam yang elitis.

Tidak heran jika masyarakat muslim merasa teralienasi dalam mewujudkan kesejahteraannya. Yang kemudian beberapa dari mereka berpaling untuk bergabung dengan kelompok-kelompok ekstrim.

Penulis sependapat dengan pernyataan Gus Dur, bahwa tindak kekerasaan serta terorisme atas nama Islam diakibatkan oleh proses pendangkalan nilai-nilai islam. Presiden ke-empat ini pun menegaskan dalam buku berjudul “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”, bahwa Islam tidak perlu dibela sebagaimana juga halnya Allah. Kedua­duanya dapat mempertahankan diri terhadap gangguan siapa pun.

Tidak elok apabila bunuh diri serta memberikan teror dikaitkan dengan pengorbanan yang sangat mulia bagi agama. Karena dalam ajaran agama Islam, sesorang tidak boleh meninggalkan keluarga hanya karena ingin “mengabdi” Tuhan. Demikian juga kesempurnaan seseorang tidak boleh dicapai dengan mengesampingkan problematika dunia.

Masih banyak aspek lain yang perlu diperhatikan agar kehidupan seimbang, di samping saleh ritual hubungan baik dengan Allah SWT, tapi juga saleh sosial dengan akhlak dan moral yang baik sesama manusia. Kemudian, sebagai umat Islam yang baik berkewajiban untuk senantiasa menjaga kelestarian alam.

Islam dalam Konflik Demak-Majapahit

Penting kiranya melihat sejarah penyelewengan nilai-nilai Islam di Nusantara. Sejak dahulu wajah Islam memang memiliki dua penampakan yang berbeda. Di satu sisi terdapat Islam yang menampilkan sifat toleransi, membaur dengan tradisi dan budaya masyarakat secara damai yang disebarkan dan diajarkan oleh para Wali.

Namun ada juga wajah Islam yang bengis, mudah menjuluki orang lain sebagai kafir dan bernafsu untuk mengubah Nusantara menjadi seperti Arab. Tidak sampai di sana bahkan mereka berupaya merombak ideologi dan tatanan pemerintahan dengan menggunakan unsur pemaksaan dan kekerasan.

Salah satu literatur tentang kemelut konflik Islam yang bengis dapat dilihat dalam novel sejarah, karya Makinuddin Samin yang berjudul “Ahangkara”. Di dalam novel ini beliau menceritakan tentang perseteruan antara Majapahit dengan Demak.

Demak berupaya menyerang Dahanapura atau merupakan wilayah pemindahan Majapahit—yang sebelumnya berada di Trowulan. Tujuan utama serangan tersebut adalah untuk menyatukan Nusantara melawan rambut jagung (Portugis), akan tetapi di tengah penyerangan tersebut ada penyusup gelap.

Penyusup ini memiliki tujuan berbeda yaitu menjadikan serangan tersebut sebagai ajang pemusnahan keyakinan Siwa Sogata di daerah Tuban. Nahas, penyusup tersebut adalah Iksa, beliau merupakan rakyat asli Tuban.

Namun, beliau mendalami agama di pondok pesantren milik Ki Gede Basir. Kedangkalan dalam menyerap ajaran dan nilai-nilai Islam, membuat beliau merasa paling benar dan meremehkan penganut agama lain.

Hal tersebut dapat terjadi lantaran di pondok tersebut, santri ditanamkan keyakinan bahwa yang berlawanan dengan ajaran Islam dianggapnya musuh yang harus dimusnahkan. Niat untuk memurnikan ajaran Islam tersebut tidak dibarengi dengan pengetahuan yang cukup, sehingga kekerasaan dianggap sebagai satu-satunya jalan yang harus dilakukan.

Dari sekilas cerita tersebut dapat dilihat bagaimana proses pendangkalan nilai-nilai Islam terjadi sejak zaman kerajaan. Dengan menggunakan pemaksaan dan kekerasan mereka beranggapan sudah menjadi umat paling beriman.

Dalam novel tersebut unsur pemaksaan dan kekerasan hadir lantaran adanya Ahangkara. Ahangkara merupakan sifat keakuan yang ditimbulkan dari adanya ketidaktahuan (Awidya) dan juga jiwa yang kotor (Samkoro).

                                                                                                                          

Islam dan Perjuangan Kemanusiaan

Sebenarnya ada berbagai macam cara untuk berjuang di jalan Allah SWT. Salah satunya dengan membela hak-hak kaum mustadh’afin. Banyak dari kalangan umat Islam yang teraniaya oleh keserakahan korporasi. Ruang hidup yang dimiliki habis tergusur dan tergantikan dengan industri perusak lingkungan.

Dapat diambil contoh dari konflik Kendeng yang tidak kunjung berkesudahan. Lahan pertanian yang digunakan untuk memenuhi kebetuhan sehari-hari akan dijadikan bangunan pabrik semen. Petani (yang juga muslim) di sana terus menerus berjuang mempertahankan petak-petak sawah dari ketamakan korporasi.

Permasalahan ini akan begitu kompleks, melihat disatu sisi pembangunan pabrik akan mengancam keberlanjutan ekosistem lingkungan, dan berpeluang menutup akses warga untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Itu baru satu dari puluhan konflik yang disebabkan oleh korporasi, serta terang benderang mendustakan firman Allah SWT. Adapun bukti korporasi telah mendustakan firman Allah SWT adalah mereka berbuat kerusakan di muka bumi (QS Al-A’raf 56) serta memakan harta orang lain dengan cara yang dzalim (QS Al-Baqarah 188).

Hingga pada akhirnya, perjuangaan Islam bukan hanya menyoal seputar pergulatan utopis semata, namun dapat memberikan kebermanfaatan bagi umat. Isyarat perjuangan ini kerap luput oleh lembaga-lembaga Islam atau bahkan umat Islam pada umumnya, dari dulu hingga sekarang. Sehingga, Islam seolah-olah selalu ketinggalan dalam menangani persoalan akar rumput.


Relaksasi Perbedaan 

Tidak dimungkiri bahwa “Al Islamu mahjubun bil muslimin” yang artinya kehebatan dan keindahan Islam justru tertutup oleh prilaku umat Islam sendiri. Korelasi pernyataan ini tentu sangat relevan untuk melihat fenomena Islam sekarang.

Sebagian umat Islam cenderung melihat segala perbedaan sebagai sesuatu yang bertentangan. Persoalan hidup seakan hanya bertumpu pada benar atau salah, bahkan tidak berusaha menyentuh kulminasi dari esensi. Sehingga, pada akhirnya menumbuhkan sentimen dan primordialisme tinggi di kalangan individu maupun kelompok.

Padahal, semestinya kesadaran akan perbedaan mampu membuka ruang demi memperkuat persatuan. Karena bagaimana pun manusia dengan segala kelebihannya tidak akan sanggup hidup tanpa kehadiran manusia lainnya. Mereka akan senantiasa menolong dan ditolong, karena itu adalah seni dalam meniti jalan semesta.

Berjalan di atas air tentu merupakan suatu mukjizat. Namun berjalan di atas bumi ini dengan damai adalah mukjizat yang lebih besar (Jhon Gray, 2001).