Ketika jari tengah (middle finger) diacungkan serta digerak-gerakkan secara ofensif, maka secara tidak sadar sang pelaku sedang berfilosofis gestur phallic. Gestur ini mewakili organ genital maskulin, yaitu batang penis.

Sementara jari-jari lainnya yang ditekuk menggambarkan testisnya yang gemuk dan berisi. Tentunya, saat bergestur phallic ini, berarti Anda telah menawarkan “barang berharga” Anda tersebut kepada orang yang dituju. Jika sasarannya feminin yang lagi kehausan, bisa jadi bukan sarkasme yang lahir, malah sebaliknya: softcore, kenikmatan.

Itulah sejarah digitus impudicus, gestur yang cukup lama berkembang di Yunani Kuno. Fungsi gestur tersebut multafsir, sesuai sasarannya: jika maskulin, ya jelas minta kelahi dan tampar-tamparan.

Hingga terkenal sebuah epik drama pada tahun 424 SM ketika seorang penulis lakon bernama Arestophanes memasukkan gestur digitus impudicus tersebut di dalam naskah dramanya. 

Seseorang karakter drama bernama Strepsiades, memerankan adegan yang bergestur digitus impudicus, mengacungkan jari tengahnya ke arah Socrates, maka jadilah ia filsuf besar yang pertama kali diacungi jari tengah dalam sejarah peradaban manusia.

Gestur ini berevolusi istilah menjadi flipping bird di negara-negara barat dan akhirnya menjadi tren gestur umpatan di dunia. Semua itu ada pelopornya. 

Emosi pada diri manusia yang terkumpul dalam satuan: kegembiraan, keterkejutan, kesedihan, amarah, ketakutan, dan kebencian, dalam perkembangannya, selalu diiringi dengan ujaran-ujaran yang menyertainya, termasuk lahirnya gestur digitus impudicus tersebut.

Baca Juga: Menyoal Sarkasme

Umpatan selain dalam bentuk gestur yang ofensif juga biasa diucapkan untuk mengungkapkan emosi kemarahan. Pun begitu, bisa juga digunakan sebagai ekspresi yang lain, seperti ketika takjub ataupun terkejut. Kata umpatan juga berfungsi sebagai bentuk sapaan dan gurauan kepada orang yang mempunyai hubungan akrab. Tergantung relasi keduanya.

Umpatan adalah perkataan keji yang diucapkan karena marah. Mengumpat berarti mengeluarkan perkataan yang buruk karena marah pada seseorang. Atau berfungsi sebagai hinaan yang sarkas.

Di antara bentuk-bentuk umpatan tersebut, ada yang menggunakan nama-nama hewan, nama anggota tubuh, kata sifat, dan unsur pembentuk lainnya.

Bila dilihat dari segi ekspresi kebahasaan, umpatan merupakan suatu usaha penuturan untuk menyampaikan perasaan dan pikiran dalam bentuk satuan-satuan bahasa tertentu yang dianggap paling tepat dan paling mengena terhadap sasaran.

Fungsi umpatan juga kompleks. Kebanyakan digunakan secara terang-terangan. Mereka gunakan kata umpatan untuk melampiaskan emosi dan gejolak hati yang terpendam. Hal itu menunjukkan bahwa kata-kata itu muncul karena pendekatan afektif yang dinilai akan menimbulkan kekuatan, yaitu ketika seseorang sedang marah.

Ketika seseorang berada pada kondisi seperti itu, dia akan mengucapkan kata-kata umpatan tanpa disadari. Dengan mengucapkan kata-kata umpatan, dia akan merasa puas karena emosinya diluapkan dengan kata-kata umpatan.

Selain itu, kata umpatan juga menjadi kebanggaan oleh kelompok tertentu, yaitu sebagai lambang identitas diri atau kelompok. Biasanya kata umpatan yang difungsikan untuk hal ini jelas digunakan oleh kalangan remaja. Kata umpatan juga dapat digunakan sebagai jalan atau cara mengekspresikan sebuah agresi tanpa kekerasan.

Selain itu, ada lagi yang namanya etnofaulisme. Ia adalah panggilan atau sapaan terhadap sekelompok yang berasal dari etnis tertentu yang merujuk kepada kata hinaan, semisal: Rusia anjing, Israel babi, Indon pecun, Negro kera, dan lainnya.

Sebagaimana digitus impudicus yang dipelopori oleh perbendaharaan filosofis Yunani Kuno, etnofaulisme bisa jadi dipelopori atau dipengaruhi oleh penyebutan-penyebutan asosiasi sifat binatang yang ada di dalam Kitab Suci.

Dari Kitab Suci, setiap umat dapat mengambil informasi tentang sikap, kelakuan, dan sejarah umat terdahulu yang pernah mendapat label-label kebinatangan. Kemudian, berkembanglah label-label binatang tersebut menjadi ujaran-ujaran keseharian sebagai umpatan yang ofensif.

Asosiasi sifat binatang sering dimunculkan dalam kaitannya dengan pemberian label sebuah perbuatan dosa atau perbuatan yang berkualitas sangat rendah. Inilah asosiasi tersebut:

  1. binatang ternak (Al-Araf: 179)
  2. anjing (Al-Araf: 176)
  3. kera/monyet (Al-Baqarah: 65)
  4. babi  (Al-Maidah: 60)
  5. laba-laba (Al-Ankabut: 41)
  6. nyamuk (Al-Baqarah: 26)
  7. keledai (A-Jumuah: 5)


Yang lagi trending, etnofaulisme kera. Etnis tertentu dilabelkan seperti monyet, binatang yang mempunyai kekerabatan yang jauh dari manusia. Labelisasi kera atau monyet terkenal di Kitab Suci untuk etnis Yahudi yang melanggar hari Sabat (Sabtu).

Tidak ada asosiasi dan korelasi antara monyet/kera dengan unsur pigmentasi (warna kulit) atau perwajahan (lay out wajah manusia). Kita paham bahwa etnis Yahudi itu ganteng-ganteng dan seksi-seksi dengan pigmentasi yang cerah. Labelisasi permonyetan dalam Kitab Suci menjurus pada sifat dan karakter “serakah”.

Semua asosiasi binatang dengan manusia di Kitab Suci adalah korelasi sifat dan karakter. Jadi sangat salah jika umpatan etnofaulisme dimunculkan hanya dengan melihat pigmentasi dan perwajahan.

Tapi apa lacur, masyarakat mencari cara termudah untuk membuat etnofaulisme dengan memproduksi umpatan dengan hanya melihat pigmentasi dan perwajahan.

Ketika hitam dengan otot muka yang kuat, disebutlah monyet atau kera. Ketika gendut suka makan nan menggemaskan, maka dimunculkan etnofaulisme babi dan lain sebagainya. Sangat disayangkan sekali, monyet yang mereka sebut dengan ofensif, dihubung-hubungkan dengan hal lainnya; semisal, tingkat tanggung jawab dan kecerdasan.

Sudah saatnya kita hindari segala umpatan dan etnofaulisme. Biarkan Kitab Suci mencatatnya sebagai sejarah beradaban karakter umat manusia. Kita tak perlu ikut-ikutan memproduksinya sebagai ungkapan yang rasial dan ofensif.