Baru-baru ini saya mencoba untuk ikut dalam salah satu kelas digital yang banyak bertebaran iklannya di media sosial. Dengan begitu banyaknya ragam topik yang diiklankan, saya mencoba memilih topik yang masih nyambung dengan minat saya, supaya gak rugi-rugi amat kalau ternyata nanti kelasnya kurang greget. Setidaknya materinya masih bisa saya pelajari untuk menambah ilmu.

Maka, setelah melakukan perdebatan batin yang cukup singkat selama tiga hari empat malam, akhirnya saya putuskan untuk meng-klik kolom berwarna pada salah satu iklan yang umumnya ada tulisan, 'daftar sekarang', atau 'ambil promo sekarang'. Dan yang saya klik adalah kelas yang di beri judul Basic Smartphone Photography.

Iya, benar, saya memilih kelas yang dari judulnya, sepertinya mudah dipraktekkan, fotografi dasar dengan menggunakan smartphone - telepon genggam cerdas. Dan dalam pemahaman saya yang sederhana ini, saya mengartikan judul kelas ini, belajar memotret dengan hp ( handphone) - telepon genggam. Apa susahnya motret pake hp? Begitu pikir saya.

Nah, lalu, ketika tiba waktunya kelas di mulai, tampak di layar platform zoom pesertanya ada lebih dari seratus orang. Dan kemudian seorang anak muda, laki-laki, mulai berbicara di layar. Dia memperkenalkan dirinya sebagai pengajar di kelas itu. Sewaktu anak muda ini menyebutkan umurnya sebagai bagian dari sesi perkenalan diri, saya cukup terkejut dengan angka yang diucapkannya, tujuh belas tahun. Langsung terbersit kata hebat di pikiran saya. Anak seusia ini, di masa sekarang ini, bisa mengajar di kelas digital online seperti ini dan pesertanya banyak pula. Hebat sekali! Kata saya, membatin sendiri.

Kelaspun dimulai dan pembahasan materi mulai dipaparkan. Untuk seorang yang masih berusia tujuh belas tahun, anak muda ini sangat menguasai materi layaknya seorang fotografer profesional. Bicaranyapun menggunakan istilah-istilah teknis rumit seputar fotografi.  Penjelasannya disampaikan dengan sopan, runut dan rapih. Pemuda yang pintar. Namun sayangnya otak saya yang sederhana ini tidak sanggup menampung penjelasan yang sedemikian rumit tingkat tinggi. Maka, alhasil, hampir separuh dari durasi kelas yang selama dua jam itu, dengan posisi video yang terlihat off di layar zoom, sayapun tertidur.

***

"Gua benci kerjaan gua!" curhat salah seorang teman di suatu malam.

"Kenapa?" tanya saya.

“Iya, gaji udah dipotong separo, tunjangan dihapus, eeehh kerjaan malah jadi rangkap-rangkap. Gak fair!" ocehnya dengan berapi-api.

“Terus?" tanya saya menanggapi lagi.

"Gua mau berhenti, pindah, ganti kerjaan. Tapi sekarang lagi pandemi, apa-apa lagi susah! Gua butuh duitnya". keluhnya lagi.

"Yah, terus mau gimana?" lanjut saya.

"Yaudah, terima nasib! Tapi duit segitu mana cukup, anak dua, uang sekolah, uang belanja, bayar listrik, air, belum lagi cicilan! Bisa gila! Mana cukuuppp!!" teriak teman saya melalui speaker telepon genggam, mengalahkan suara adegan baku hantam drama sinetron yang sedang tayang di televisi di ruangan sebelah.

"Lu kan bisa masak, bisa bikin kue juga. Open PO ( Pre-Order) aja, jualin online di instagram kek, facebook, whatsapp juga bisa. Atau masukin ke tokopedia aja" saran saya. "Buat tambahan pemasukan”.

"Mana ada waktunya! Lu gak tau apa, sedari pagi gua urus dua anak sekolah online! Terus belum lagi kerjaan kantor. Belum lagi masak, bersih-bersih, cuci, nge-pel!" teriaknya nyaris histeris.

"Yaudah... Sabar..." kata saya yang kemudian mengalihkan pembicaraan untuk menghindari histeria lainnya.

***

Kadang tidak mudah bagi orang seusia saya, yang hampir separuh masa dewasa menikmati masa keemasan jaman konvensional, mengakui bahwa jaman itu sudah lewat masanya, sudah berganti, dan sudah saatnya menerima perubahan.

Perubahan ke arah digital, apalagi di saat pandemi sekarang ini terjadi lebih cepat, lebih masif, yang seringkali menimbulkan kebingungan baru untuk saya.

Mungkin karena selama ini saya merasa sudah berada di zona nyaman. Dengan berdalih bahwa generasi sekarang ini jauh lebih enak, lebih beruntung karena bisa menikmati hasil kerja keras generasi sebelumnya, mungkin sebenarnya saya enggan dan takut melepaskan kenyamanan yang saya pikir saya miliki.

Digitalisasi yang didominasi generasi muda sekarang banyak melahirkan terobosan baru yang membuat saya kagum. Namun sering juga saya mendengar selentingan yang berkata, "Yah dia mah enak, bapaknya siapa... Dari sananya sudah kaya...". "Sekolahnya dimana dulu dong, lulusan luar negeri, jelaslah...". Dan masih banyak lagi komentar-komentar serupa yang bertebaran menjadi toxic di kalangan orang-orang yang mungkin enggan berubah, enggan melepaskan pola lama yang sudah terlanjur menjadi terlalu nyaman buat sebagian orang.

Apakah si anak muda yang mengadakan kelas digital tadi tidak melakukan usaha, mencurahkan banyak energi dan perhatian untuk project-nya sehingga bisa menjaring seratusan lebih peserta? Mungkin saja fasilitasnya sudah tersedia karena dukungan keluarganya, orang tuanya, teman-temannya, tapi kalau cuma fasilitas saja tanpa ada usaha apa-apa, apakah akan bisa berjalan?

Dan dalam kasus teman saya tadi, dia merasa dirampas kenyamanannya, berteriak telah terjadi ketidakadilan, merasa hidupnya tiba-tiba menjadi kacau, ruwet. Padahal, teman saya dan si anak muda, mendapatkan kesempatan yang sama untuk bisa beradaptasi pada perubahan. Situasinya bisa berbeda, kemampuan masing-masing juga berbeda, tapi kesempatannya sama. Tergantung bagaimana si teman saya, si anak muda dan juga saya sendiri mau mengakui dan menerima perubahan yang sedang terjadi.

Mungkin, ketika kita mulai bisa menerima perubahan, kesempatan akan menghampiri. Mungkin, ketika kita berhenti fokus pada masalah dan mulai berpikir tentang solusi, peluang akan terlihat.

Saya sendiri menggunakan kemungkinan itu dengan nekat mengambil kelas digital berikutnya dengan topik berbeda, daaaann ternyata pengajarnya adalah anak muda lagi, kali ini remaja perempuan. Semoga saja saya tidak tertidur lagi kali ini.