Sebagai salah satu wadah pembentuk karakter bangsa, sekolah merupakan lokasi para "Nation Builders" Indonesia dipersiapkan agar sanggup berjuang membawa Indonesia bersaing di kancah global. Seiring dengan  perkembangan zaman. Tantangan di dunia pendidikan juga menjadi semakin besar, hal ini yang seharusnya mendorong para siswa mendapatkan pengalaman belajar yang mumpuni.

Namun, dunia pendidikan yang ada di Indonesia saat ini memiliki beberapa kendala yang berkaitan dengan mutu pendidikan. Terbatasnya akses pada pendidikan masih menjadi permasalahan utama. Kemudian jumlah guru yang belum merata, serta kualitas guru yang ternyata masih kurang. Hal inilah yang menyebabkan kondisi pendidikan yang monoton.

Najelaa Shihab sebagai seorang pendidik Indonesia sering menyampaikan bahwa pendidikan di Indonesia memerlukan akselerasi akses, peningkatan kualitas dan kesetaraan. Untuk mewujudkan itu semua, kolaborasi pemerintah, pendidik, orang tua, dan keluarga adalah hal mutlak yang diperlukan. 

Karena pendidikan bukan sekedar tanggung jawab pemerintah atau guru saja, tetapi tanggung jawab bersama. Najelaa Shihab menggambarkan itu semua ke dalam kalimat yang selalu dijadikan motivasi baginya untuk terus berkarya, “Pendidikan adalah belajar, bergerak, dan bermakna.” Selain itu, Najeela Shihab juga memiliki slogan "Pendidik adalah kita, semua murid semua guru."

Kunci dari permasalahan-permasalahan pendidikan yang ada di Indonesia adalah kesadaran individu tentang pendidikan. Jika setiap individu sadar mengenai pentingnya sebuah pendidikan, individu tersebut akan peduli terhadap keadaan pendidikan. Dengan begitu akan terjadi perbaikan dan perkembangan di dalam dunia pendidikan.

Perkembangan bahkan kemajuan pendidikan Indonesia dapat digapai dengan menanamkan komitmen, kepercayaan diri, dan refleksi. Ketiga unsur ini adalah unsur-unsur yang harus dimiliki oleh setiap individu agar memiliki mental yang kuat. Sehingga dapat bersaing secara global.

Komitmen adalah hal pertama yang wajib dimiliki oleh setiap individu yang menginginkan sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Karena ketika seseorang sudah memiliki komitmen, maka orang tersebut akan memiliki keterikatan terhadap diri sendiri dan tujuannya. 

Ketika seseorang sudah memiliki komitmen maka orang tersebut akan memiliki rasa keterlibatan dan loyalitas. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam sebuah komitmen adalah tujuan yang jelas. karena tujuan adalah sebuah hasil yang menjadi target sebuah komitmen.

Kepercayaan diri merupakan unsur kedua yang menjadi unsur pendukung dari komitmen. Dengan memiliki kepercayaan diri, seseorang dapat meyakinkan dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu. 

Dengan modal ini seseorang akan berani melakukan berbagai macam ekspolasi yang akan berdampak pada pengalaman yang dimilikinya. keberhasilan dalam sebuah lembaga pendidikan tentu diharapkan berprestasi dengan baik, baik di dalam belajarnya maupun dalam kegiatan lainnya. 

Dalam proses pembelajaran, rasa percaya diri merupakan salah satu factor intern pendukung keberhasilan individu akan potensi yang dimilikinya. Rasa percaya diri sangat penting untuk ditanamkan kepada setiap individu. 

Seseorang yang selalu beranggapan bahwa dirinya tidak mempunyai kemampuan, merasa dirinya tidak berharga. Hal ini merupakan ciri bahwa individu tersebut mempunyai rasa percaya diri yang rendah. 

Setiap individu memiliki lingkungan yang berbeda-beda, sehingga hal itu mempengaruhi kepribadian pembentukan rasa percaya dirinya dan tentu berpengaruh terhadap semangat belajarnya.

Socrates pernah berkata: “Hidup yang tidak direfleksi tidak layak dihidupi.” Lalu agar layak dihidupi, hidup harus direfleksi terus menerus. Jadi, syarat agar hidup layak dihidupi, maka hidup harus direfleksikan. Kata-kata ini bermakna anti kemapanan, selalu dinamis, aktif, terus bergerak, berkembang. Jangan sampai terjerat dalam ngarai kebekuan.

Tetapi refleksi itu apa? Refleksi adalah bergerak mundur untuk merenungkan kembali sesuatu yang sudah terjadi dan dilakukan. Ini adalah suatu yang harus dilakukan dengan sadar dan terencana. Tidak spontan. 

Untuk itu perlu diberi ruang dan peluang. Di sana orang merenungkan apa yang sudah dilakukannya. Gerak mundur ini harus dilakukan agar kita mendapat kekuatan baru untuk melangkah ke depan. 

Ibarat atlet lompat jauh, ia harus terlebih dahulu bergerak mundur untuk mengambil ancang-ancang agar dengan itu ia bisa meloncat jauh ke depan. Atau seperti anak panah, yang ditarik ke belakang dengan tali busurnya dan dengan itu anak panah bisa melesak ke depan dengan cepat laksana kilat menuju sasaran.

Gerak refleksi atau gerak mundur ini, harus dilakukan juga dalam hal pendidikan atau belajar sebab hanya dengan itu orang bisa mengetahui dan memahami secara kritis tentang apa saja yang telah terjadi dan dicapai. 

Untuk melakukan ini sangat diperlukan sebuah keberanian besar. Karena dalam melakukan kegiatan ini sering terlihat sisi buruk dari sebuah pendidikan. Tetapi jika kita sudah memiliki komitmen dan kepercayaan diri, kita akan terus melakukan hal ini terhadap pendidikan. 

Kemudian kita akan selalu mencari kritik terhadap pendidikan dan cara belajar. Karena untuk membuat sebuah kemajuan adalah melihat sesuatu dari berbagai macam sudut pandang.

Dalam teologi pembebasan Gustavo Guttierez (1968), atau filsafat pendidikan Paolo Freire, dengan gagasannya yang terkenal dan sekaligus judul bukunya: Pendidikan Sebagai Praxis Pembebasan (1984), yang juga menjadi idealisme pendidikan Kahlil Gibran dalam bukunya Sang Nabi (1986). Sebuah kegiatan aksi-refleksi-aksi ini penting dilakukan jangan sampai orang mengulang kesalahan yang sama, sebab even a donkey will not stumble over the same stone. Di sini sejarah dan pengalaman bisa menjadi guru yang baik