Bukan hal baru jika pejabat banyak mengembat uang rakyat. Korupsi merupakan suatu tradisi, tak hanya para petinggi karena siswa SMA ternyata sudah mewarisi.

Stop, Jangan bingung dulu. Mari dengarkan ceritaku

Berawal dari orientasi di SMA, aku bingung memutuskan organisasi mana yang sekiranya cocok dengan kemampuan, eh lebih tepatnya kemauan. Banyak pilihan yang disosialisasikan, mulai dari OSIS, organisasi menonjol di sekolah yang terlihat keren dengan jas almamater.

Ada juga Pramuka, kebanyakan anggotanya berkulit hitam tapi tetap menawan. Lalu Palang Merah Remaja, biasanya mereka seperti malaikat jadi penyelamat saat upacara. Dan ada juga Pecinta Alam yang suka mendaki gunung, menuruni lembah, sampai climbing di berbagai tebing.

Semua organisasi sangat menarik, tapi diri ini tak mampu menjadi Naruto yang punya seribu bayangan, maka aku memutuskan satu organisasi sebagai pilihan. Seperti organisasi pada umumnya, aku diajarkan tentang tugas dan tanggung jawab, mengikuti lomba, dan membuat suatu kegiatan sesuai rencana dalam program kerja.

Saat itu, tibalah program kerja untuk mengadakan lomba akan dilaksanakan. Pemilihan panitia telah ditentukan, dan aku mendapatkan tugas sebagai bendahara. Penyusunan proposal segera dilakukan, aku pun segera menyusun anggaran pengeluaran. Bersama salah satu teman, kami mencari harga pasar untuk setiap barang yang dibutuhkan agar estimasi cukup memenuhi kebutuhan.

Mulai dari harga makanan, sewa kursi, dan sewa gedung, semua telah disesuaikan dengan harga yang telah ditanyakan. Lembar kertas anggaran dana diserahkan kepada sekretaris untuk dimasukkan ke dalam proposal kegiatan. 

Setiap organisasi memiliki satu guru pendamping yang telah ditunjuk dari pihak sekolah. Kami selalu mengonsultasikan proposal kegiatan kepada guru pendamping agar bisa direvisi.

“Anggaranmu gak cukup ini, mending dilebihkan, kalau sisa bisa buat kas tapi kalau kurang siapa yang mau ngasih utangan?” perintah guru pendamping saat kami mengajukan anggaran. Menurutku benar juga ya, daripada kekurangan dana lebih baik sisa, bisa buat tambah pemasukan uang kas yang pas-pasan.

Setelah mendapat revisi, kami segera melakukan perubahan. Kami membuat anggaran baru yang nominalnya dilebihkan dua kali lipat dari nominal yang sebelumnya. “Ini gak berdosa, kan, kalau dilebihkan?” tanya seorang teman. 

Seketika terkejut mendengar pertanyaan tersebut. “Ngga papa. Tadi, kan, Bu Guru sudah bilang, daripada kekurangan dana, mending bersisa. Toh sisanya juga buat kas kok,” jawab ketua kegiatan. Oh iya juga ya, hati kembali tenang dan tidak merasa berdosa.

Selesai revisi, proposal kembali kami serahkan. Dana yang turun sesuai rencana dalam estimasi. Kegiatan dapat terlaksana dan seperti yang telah dikatakan, uang sisa kegiatan cukup banyak bahkan jika tidak diganti, estimasi sebelumya sudah mencukupi.

Sisa uang dimasukkan ke dalam kas organisasi untuk berjaga-jaga apabila tiba-tiba butuh dana. Pola penyusunan anggaran terus berulang, setiap bendahara kegiatan selalu dibekali untuk melebihkan nominal anggaran, dengan alasan yang sama supaya tidak kekurangan dana.

Seperti tradisi, dari kakak kelas sampai adik kelas, semua telah paham mengenai cara penyusunan anggaran. Tidak ada pihak yang merasa dirugikan maupun diuntungkan sehingga tidak ada pula permasalahan.

Saat bertanya pada teman yang berbeda organisasi, ternyata mereka melakukan hal yang sama. Hampir semua organisasi pasti melebihkan anggaran dana. Bukan cuma dua kali lipat, bahkan ada yang sampai lima kali lipat lebih banyak untuk bisa sekalian membiayai panitia sehingga tidak perlu iuran dana.

Siswa SMA yang masih perlu bimbingan hanya bisa taat pada nasihat guru pembimbing. Akan tetapi, beberapa ada nasihat yang tidak tepat. Bukan melatih kemampuan bertanggung jawab, yang ada malah melatih menyelewengkan anggaran.

Melebihkan anggaran berlipat-lipat dengan alasan agar tidak kekurangan dana merupakan salah satu tindak kejahatan. Walaupun tak sampai belasan juta, tapi tindakan tersebut merupakan bibit dari korupsi.

Masyarakat Indonesia masih rendah memahami korupsi. Banyak orang berpikir bahwa sebutan koruptor hanya cocok untuk orang yang bekerja di kantor, entah kantor perusahaan maupun kantor pemerintahan.

Padahal jika mau memikirkan, sebenarnya setiap orang pasti pernah melakukan korupsi. Nominalnya saja yang berbeda-beda. Bukan cuma penggelapan uang ratusan juta yang layak disebut korupsi, uang ratusan ribu jika diselewengkan pun juga layak disebut korupsi.

Siswa yang terbiasa melebihkan anggaran akan berpikir bahwa hal tersebut tidak salah karena untuk kebaikan bersama. Mereka tidak mengambil keuntungan pribadi karena kebutuhannya masih dicukupi orang tua. Namun, bila sudah besar nanti, ketika kebutuhan diri sendiri tidak terpenuhi, maka segala cara akan dilakukan untuk mendapatkan keuntungan.

Salah satunya dengan melakukan korupsi, melebihkan anggaran dana dalam pengajuan agar bisa dinikmati sisanya. Sudah bukan hal baru perilaku ini terjadi. Semua kalangan pasti pernah melakukan, baik pekerja bangunan maupun pegawai kecil yang diserahi tanggung jawab keuangan.

Seperti tindak korupsi yang sampai saat ini masih menghantui, mungkin sebelumnya berawal dari kebiasaan melebihkan anggaran dengan alasan agar tidak kekurangan dana. Oleh karena itu, salah satu solusi dari korupsi adalah introspeksi diri. Semua lapisan masyarakat, baik tua maupun muda, entah kaya atau orang tak punya, semua wajib introspeksi diri.   

Apabila semua pihak mau membenahi diri sendiri, bukan mustahil apabila jumlah kasus korupsi mulai mengecil. Kuncinya ya cuma sadar diri dan mau untuk memperbaiki. Kalau tidak mau, ya jangan heran jika uang rakyat selalu diembat pejabat.