Kegiatan OSPEK atau banyak dikenal sebagai proses pengenalan kampus memang agenda wajib yang diselenggarakan oleh sebagian besar kampus di Indonesia sudah selesai pada rentan bulan agustus hingga september. Selain ajang perkenalan kegiatan ini juga sebagai ajang gengsi mahasiswa lama untuk memperkenalkan dirinya sebagai senior dari mahasiswa baru di kampusnya. Sebagai mahasiswa lama mereka memposisikan diri sebagai seorang yang tahu betul perihal dunia perkampusan dari lingkungan, sosial hingga budaya kampus.

Mereka juga menjelma sebagai guru-guru bagi mahasiswa baru perihal dunia kampus selain dari dosen akademik yang ada di kampus masing-masing. Orang-orang lama ini menyebut mereka senior dan mahasiswa baru mereka sebut dengan junior mereka, dari kesan pertama pelegalan nama itu sudah memberikan kesan bahwa senior lah yang tahu dan junior lah yang tidak tahu.

Penyebutan senior dan junior memang sudah biasa di kalangan dunia perkampusan, akan tetapi sebagian mahasiswa baru juga aslinya enggan dengan budaya tersebut karena memang kesanya juga sebagai junior akan menjadi orang pinggiran atau kelas bawah dalam strata sosial di dunia kampus.

Untuk sebagian orang yang bisa memposisikan diri sebagai senior bagi juniornya mungkin akan terjalin hubungan yang baik dan harmonis bukan kesanya sebagai diktator, akan tetapi bagi sebagian orang yang tidak bisa memposisikan diri sebagai senior yang baik bagi juniornya maka hasilnya akan berdampak pada karakter dan mental dari seorang junior tersebut. Posisi senior junior memang menjadi problematika yang sudah lama dan juga menjadi kasta sosial yang kurang jelas di struktur sosial dalam dunia perkampusan.

Junior yang menghamba pada senior

Dalam sebuah kasta sosial di dunia kampus sebagai junior memang selalu di bawah para seniornya, bahkan untuk bisa sejajar dengan seniornya pun sangat mustahil. Senior pun dalam posisi ini juga sangat pandai menempakan perananya sebagai karakter seseorang yang lebih tahu segala hal daripada seorang juniornya, hal tersebutlah memang yang menjadikan senior tersebut lama kelamaan akan menjadi diktator untuk para juniornya.

Kondisi tersebut juga didukung dimana seorang junior tersebut secara sadar maupun tidak sadar sudah menghamba kepada para seniornya. Sebenaranya para junior itu sungkan kepada para seniornya, akan tetapi lama kelamaan dari perasaan sungkan tersebut menjadikan sebuah sistem baru yang dimana para junior menjadikan para seniornya sebagai dewa dan para seniornya pun menglelgalkan hal tersebut.

Di dalam prosesnya apalagi kalau mahasiswa sudah masuk dalam sebuah organisasi kampus baik yang internal kampus maupun eksternal kampus, praktik jabatan sosial sebagai senior dan junior akan sangat terasa di sebuah lingkup organisasi tersebut. Kasta atau jabatan sosial sebagai senior dalam sebuah organisasi menjadikan beberapa orang sebagai penguasa atau bisa di bilang orang yang sempurna di hadapan para juniornya. Kondisi tersebut juga sejalan dimana pola pemikiran dari para juniornya yang beranggapan bahwa seniornya itu tahu akan segala hal, padahal terkadang pembuktian dimana senior itu tahu akan segala hal itu masih minim sekali.

Di dalam posisi ini, selaku junior kampus maupun junior organisasi terkadang terlalu heran atau sangat mudah untuk takjub kepada hal-hal baru terutama dalam kasus ini yakni senior mereka sendiri. Dengan perasaan keheranan ataupun takjub yang bagi penulis terlalu berlebihan inilah melanggengkan proses diktator para senior kepada para juniornya.

Senior menjadi diktator untuk juniornya

Selaku senior terkadang mereka juga ada yang sadar dengan proses diktator yang mereka terapkan untuk para juniornya, ataupun ada yang tidak sadar tentang apa yang mereka telah lakukan tersebut. Proses diktator para seniornya mungkin sekarang sudah tidak terlalu terlihat secara kasat mata, akan tetapi dalam sebuah budaya dan penanaman keyakinan masih langgeng dengan adanya proses diktator. Bahkan mungkin banyak para senior kampus ataupun organisasi tidak mengiyakan jika mereka ditanya apakah mereka melanggenkan proses diktator kepada juniornya.

Kalau kita melihat di era sekarang memang sudah jarang terlihat, akan tetapi tidak hilang sepenuhnya. Akan tetapi dalam sebuah kultur budaya dan penanaman pola pikir ini masih sangat terasa di ruang lingkup dunia kampus apalagi dalam sebuah organisasi. Apalagi dalam lingkup sebuah organisasi tersebut yang menjalin ikatan kekeluargaan yang erat sekali, hal tersebutlah yang memang terkadang melanggengkan seorang oknum yang berlabelkan senior menjadi seorang diktator kepada junior-junionya.

Selain dari kultur budaya organisasi yang memang seperti itu, ada sebuah ambisi tersendiri dalam jiwa para senior itu untuk tetap eksis dalam organisasi bahkan ketika mereka sudah purna dalam struktural organisasi tersebut. Karena mereka beranggapan bahwa dengan proses diktator ini yang bisa menjadikan mereka akan di kenang sampai generasi-generasi berikutnya.

Masih menjadi sebuah tanda tanya besar apakah proses diktator ini memang salah satu bentuk kaderisasi dalam sebuah organisasi kampus atau memang hanya oknum yang berlabel kan senior untuk menjaga keeksistensinya dalam organisasi tersebut. Terlepas dari banyaknya alasan dari beberapa oknum senior yang menjadi diktator, memang pada proses sebuah organisasi akan menjadi sebuah kelemahan tersendiri dan bisa membunuh karakter serta pola pemikiran dari juniornya tersebut.