Masa muda tidak sepantasnya untuk dihabiskan dalam kesenanggan belaka. 

Masa muda adalah masa untuk menanam dan menanam, menanam ilmu untuk dituai manfaatnya di masa depan.

Masa muda adalah masa yang paling tepat untuk menuntut ilmu, karena tidak ada dan tidak mungkin ada hal yang bisa memunafikan hasil dari ilmu yang kita cari di masa muda. 

Apa yang kita cari di masa muda adalah apa yang akan kita tuai di masa tua.

Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena kurangnya hasil yang kita dapatkan dari apa yang kita tanam dimasa muda. 

Tidak jarang dari kita mengalami penyesalan-penyesalan karena kurang memaksimalkan masa mudanya untuk menuntut ilmu.

Dan sebenarnya kebanyakan dari kita paham akan hal itu, namun terkadang belum bisa melawan malas dan hawa nafsunya. 

Habib Musthofa Sayyidi Baraqah, Lc, pernah menceritakan tentang masa mudanya saat sedang belajar alfiyah Ibnu Malik.

Suatu Ketika beliau hendak pergi kesuatu tempat dengan naik kereta, saat masih didalam kereta, beliau bertemu dengan seorang yang sudah cukup tua.

Melihat beliau yang sedang membawa dan sedang menghafal kitab alfiyah Ibnu Malik, orang tua tersebut mendekat mendatangi beliau dan bertanya, “Anta tholibul ilmi ?”, (Apa kamu seorang pencari ilmu ).

Ditanya demikian beliau spontan menjawab dengan tegas, “Na’am ana tholibul ilmi”, (Ya, saya adalah seorang yang sedang mencari ilmu). 

Mendengar jawaban dari beliau seseorang itupun kemudian menyanggahi,“ Kalau saja saya masih muda sepertimu, saya juga pasti akan giat belajar sepertimu”.

Begitulah sanggahan seseorang itu yang menunjukan penyesalan atas masa mudanya. 

Dia merasa dirinya sudah tua dan tidak mampu lagi untuk belajar dengan penuh semangat sebagaimana beliau.

Karena faktor usianya yang mengharuskan ia untuk mencukupi kebutuhanya dan keluarganya.

 Sehingga ia sudah tidak memiliki waktu lagi seperti beliau yang ia temui itu.

Dari penggalan cerita tersebut dapat kita ambil pelajaran, jangan sampai kita meyia-nyiakan masa muda kita, 

karena penyesalan selalu datang diakhir dan waktu pun tidak bisa diulang kembali.

Dan dalam hal menuntut ilmu kita juga tidak asing lagi dengan kata “ilmu yang bermanfaat”.

Ilmu yang bermanfaat merupakan sebuah hal yang paling dicari serta menjadi tujuan utama seorang murid.

Habib Musthofa Sayyidi Baraqah, Lc, juga pernah menyampaikan bahwa Kemanfaatan ilmu merupakan barokah daripada ilmu. 

Barokah ini kita dapatkan hanya dengan adab atau ahlaq yang baik.

Akhlaq yang dimaksud disini adalah akhlaq kepada guru kita, sebagai sumber dari ilmu yang kita cari.

” Apapun perkataan guru, laksanakan ! ini berkah” begitu pernyataan dari Habib Musthofa Sayyidi Baraqah, Lc.

Sebab sebanyak apapun ilmu yang dimiliki jika tidak bermanfaat akan menjadi sia-sia, seperti yang dikatakan dalam sebuah maqolah

العِلْمُ بِلَا عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلَا ثَمَرٍ

“ Ilmu tanpa diamalkan bagaikan pohon yang tidak pernah berbuah”

Orang yang hanya sekedar pintar, tapi ilmunya tidak bermanfaat tidak akan mampu membawa kemaslahatan bagi umat,

namun orang yang mempunyai ilmu yang bermanfaat, ia akan disegani oleh banyak orang.

Karena sejatinya ilmu dapat mengangkat derajat seseorang dan dengan ilmu juga kita akan dikenang sepanjang masa, 

sehingga orang yang ilmunya bermanfaat akan terus hidup meski sudah meninggal.

Terjadinya ilmu yang tidak bermanfaat banyak disebabkan karena kita melupakan satu hal yang paling mendasar dalam masalah menuntut ilmu. 

Apa itu ? satu hal yang harus sangat diperhatikan oleh penuntut ilmu yang menginginkan ilmunya bermanfaat adalah adab.

Ustad Adi Hidayat, Lc, MA dalam salah satu tausyiahnya menyampaikan keutamaan adab diatas ilmu, 

kelemahan kita sekarang adalah banyak orang yang belajar ilmu tapi sedikit yang belajar adab, padahal ulama-ulama pada zaman dahulu itu selalu mendahulukan adab dibandingkan dengan ilmu.

Ketika adab sudah di dapat maka ilmu akan mengikuti dengan sendirinya,begitulah pernyataan dari ustad adi hidayat, Lc, MA.

Pernyataan tersebut memberikan artian bahwa jika kita menginginkan ilmu yang bermanfaat maka kita harus mempunyai adab atau akhalq yang baik.

Jika kita menengok kebelakang, banyak sekali kisah-kisah ulama’ terdahulu yang karena begitu baik akhlaqnya, 

begitu ta’dhimnya kepada gurunya, akhirnya ia bisa mendapatkan banyak ilmu bahkan sebelum gurunya itu memberikan pelajaran. 

Jadi kesimpulanya adalah, untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat kita harus selalu menjaga adab ataupun akhlaq kita kepada guru kita.

Jangan sampai kita melakukan hal sekecil apapun itu yang bisa membuat guru tidak ridho dengan kita,

Yang akhirnya ilmu yang kita miliki tidak bisa menjadi ilmu yang bermanfaat. 

Sebab, meski terkadang kita menemukan seseorang yang bodoh saat berada disuatu lembaga pendidikan, namun berkat ta’dhim dan tawadhu’ nya, sehingga gurunya ridho’ kepadanya, 

maka ia pun akan benar-benar mendapatkan hasil yang luar biasa, ilmunya akan benar-benar menjadi ilmu yang bermanfaat bahkan bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk orang-orang disekitarnya.

Kata- kata singkatnya adalah “ kalau kita ingin ilmunya manfaat, carilah barokah gurunya.”