Pernahkah Anda membeli makanan di warung makan ataupun restoran yang masakannya super enak, tetapi kemudian Anda memutuskan untuk tidak akan kembali membeli di warung itu. Hal itu pernah saya alami, dengan alasan kehigienisan makanan.

Jadi ceritanya malam itu, istri saya ingin makanan berkuah. Karena malas keluar rumah, saya coba buka aplikasi pemesan makanan online. Beberapa kali pilihan saya sodorkan ke istri. Akhirnya jatuh pada menu Tom Yam. Segera pencet pesan, beberapa saat kemudian sudah mendapatkan driver.

Tidak berapa lama berselang, makanan datang karena memang jaraknya tidak jauh dari rumah, kurang lebih 2,5 kilometer saja. Tom Yam 2 (dua) bungkus langsung dibuka dan disantap sebagai menu makan malam kami. Tentu saja ditemani sama nasi. Dalam hitungan menit, Tom Yam sudah ludes. 

Anak-anak dan istri kompak menyatakan kalau Tom Yamnya enak dan seger. Istri bilang, “Yah, kapan-kapan coba makan di sana ya”. Tentu saja kalau request dari istri, saya tidak akan kuasa menolaknya. 

Beberapa waktu kemudian, istri menginginkan Tom Yam lagi, tetapi dibungkus saja. Segera saya buka aplikasi online, untuk melihat nama warungnya, karena saya lupa nama warungnya. Untuk memastikan lokasi dan arah menuju warung tersebut, saya buka Google Map, terus meluncur ke lokasi.

Perjalanan lancar karena masih di jalan besar, tetapi ketika Google Map mengarahkan untuk berbelok menuju jalan dan gang-gang sempit, hati ini jadi ragu. Arahnya menuju ke pinggir sungai. Perlahan-lahan kendaraan saya arahkan untuk mengikuti peta. 

Beberapa saat kemudian, Google Map memberitahu kalau tujuan saya sudah sampai. Saya pastikan Google Map benar. Di depan bangunan rumah dengan ukuran kecil itu, terpampang banner ukuran 2x1 meter, dengan tulisan nama warung  tersebut. Persis sama dengan yang diaplikasi pemesan makanan.

Agak ragu juga untuk turun dari kendaraan, karena itu bukan warung, tetapi rumah tinggal. Keraguan itu saya tepis kuat-kuat, karena ingat pesan dari istri. Nanti urusan bisa panjang kalau tidak membawa pulang makanan pesanannya. 

Akhirnya saya turun dari motor, ucapkan salam sambil ketuk pintu. Tidak lama kemudian pemilik rumah keluar, dan menanyakan keperluan. Tentu saja saya jawab mau pesan Tom Yam. Sejurus kemudian saya dipersilahkan menunggu di teras. 

Sembari menunggu, saya mainan HP dan sesekali melihat sekeliling dan dalam rumah. Kaget seketika, saat melihat ke dalam rumah yang terlihat langsung dapurnya. Dapur rumah itu kotor, dengan peralatan masak dan etalase yang dipenuhi debu dan banyak kotoran cicak. 

Ditambah lagi dengan lingkungan sekeliling yang kumuh dan jorok. Karena memang berada di kawasan slum area (kawasan kumuh)Dengan tingginya kepadatan rumah serta sanitasi yang kurang baik, menjadikan pemandangan kurang sedap di mata. 

Hasil pandangan mata dari warung Tom Yam itu, saya ceritakan ke istri. Tentu saja beberapa saat setelah dia melahapnya, demi menjaga ketentraman hati dan perasaannya. Alhasil, istri berkomentar mengapa saya masih tetap saja membelinya. 

Demi menjaga perasaan istri, saya hanya nyengir saja, menghindari debat yang bisa berkepanjangan. Jadi selama ini, saya memang membeli Tom Yam melalui aplikasi pemesan makanan online. Tidak tahu kondisi riil warung Tom Yam tersebut. 

Sebetulnya masakan Tom Yam di warung tersebut sangat enak dan harganyapun sangat terjangkau di kantong. Apalagi kalau dibandingkan jika kita membeli Tom Yam di restoran atau mall, bisa diadu rasa dan harganya.

Pada masa pandemi corona ini, kita dituntut untuk selalu menjaga kesehatan. Salah satunya dengan melakukan PHBS (Perilaku Hidup Besih dan Sehat) yang digalakkan Kementerian Kesehatan. Rasa yang enak dan harga yang murah, terpaksa kami pinggirkan dahulu, yang utama adalah kehigienisan makanan.

Mungkin ada sebagian orang yang tidak mempermasalahkan, tetapi mungkin sebagian lagi yang risih dengan kondisi seperti itu. Apalagi dimasa pandemi ini, kita dituntut untuk lebih higienis agar tidak mudah terserang penyakit. Kita diminta untuk selalu mencuci tangan pakai sabun.

Apalagi bagi para pelaku usaha kuliner. Menjaga kebersihan dan kehigienisan baik dalam proses memasak maupun penyajian makanan, merupakan suatu kewajiban. Selain itu juga menjaga lingkungan tempat usahanya.  

Citra bersih dan sehat dari pelanggan tentu saja sangat dibutuhkan oleh para pelaku usaha kuliner. Hal ini tentu saja untuk menjaga agar pelanggan tetap setia bahkan bisa menjadi humas untuk menyebarkan citra positif kepada orang lain. Implikasinya pelanggan bisa menjadi bertambah. 

Memang dibutuhkan kesadaran dan kemauan dari pelaku usaha kuliner untuk menerapkan standar minimum kesebersihan dan higienis dalam mengelola usaha kuliner ini. Juga dibutuhkan peran dari pemerintah untuk mengawasi dan memantau penerapan aturan kepada para pelaku usaha kuliner.

Kita sebagai konsumen mempunyai pilihan, mau membeli makanan dengan proses memasak yang higienis atau tidak. Tentu saja pilihan itu ada konsekuensinya masing-masing. Mau makanan yang enak, higienis tapi mahal. Atau makanan yang enak, tidak higienis tapi murah, Anda yang menentukan.