Manusia sejatinya tidak akan pernah lepas dari sebuah masalah setiap waktunya. Pada setiap masalah ini pastinya memiliki tingkat kesulitan yang berbeda beda, tergantung dari pola pikir manusia yang menyikapinya.  Ada yang tingkat kesulitannya rendah ada juga yang tingkat kesulitannya tinggi. 

Kalimat dibalik kesulitan ada kemudahan merupakan kalimat yang tanpa kita sadari sering dialami. Dan menjadikan kalimat tersebut sebagai sumber inspirasi untuk motivasi. Pasang surut masalah silih berganti, namun kita bisa melewatinya dengan mudah sesuai dengan kalimat motivasi yang bermunculan.  Tapi, bagaimana prosesnya agar kesulitan itu bisa kita lewati dengan mudah?  Dan bagaimana cara menyikapi kesulitan ini agar bisa diterima dengan mudah?

 

Proses tidak menghianati hasil

Sejatinya, dalam menyikapi sebuah masalah baik yang sulit maupun mudah pasti setiap manusia akan mencoba menyelesaikannya dengan berbagai macam cara. Dari cara termudah hingga cara yang memerlukan berbagai pengorbanan. Tapi dari berbagai macam cara ini pasti akan sebanding dengan hasilnya, bahkan bisa mendapat kepuasan yang berlipat.

Mengenai hal ini, Allah SWT memberi firmannya di Al-Qur’an pada Surah Ar- Ra’d ayat 11 yang berbunyi.

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ

“Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d : 11).

Pada firman diatas Allah SWT menyampaikan bahwa nasib seorang manusia tidak akan berubah secara mudah tanpa keinginan dan kerja keras manusia itu sendiri. Ini artinya, keberhasilan, kemudahan, keburukan, dan kesulitan dari sebuah masalah yang dihadapi manusia bergantung dari manusia tersebut. Bila seseorang sudah bertekad, maka apapun kesulitannya pasti bisa dilewati dengan mudah.

Namun, keinginan dan kerja keras juga tidak akan sepenuhnya berhasil apabila tidak diiringi dengan bertawakal kepada Allah SWT. Pada Al-Qur’an Surah Al Imran ayat 159, Allah SWT bersabda.

فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ…

“…. . Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.”  (QS. Al-Imran : 159).

Jadi, apabila kita melakukan usaha dengan bersunggung-sungguh yang disertai dengan bertawakal kepada Allah SWT niscaya semua kesulitan dapat dilewati dengan mudah. Ini dikarenakan Allah SWT juga menolong kita. Dengan begitu proses yang kita lakukan pasti tidak mengkhianati hasil.


Dalil Dibalik Kesulitan Ada Kemudahan

Untuk menyikapi adanya kesulitan agar bisa dilalui dengan mudah, Allah SWT menyampaikan hal ini pada Al-Qur’an Surah Al-Insyirah ayat 5 dan 6.

( )فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا ( ) إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah : 5 – 6).

Pada ayat tersebut dijelaskan untuk meyakinkan manusia bahwa Allah SWT memberikan kesulitan yang juga disertai kemudahan. Bahkan bacaan ini diucapkan sebanyak dua kali. Ini artinya, sebanyak apapun kesulitan yang kita alami pasti sebanyak itu juga diberikan kemudahan. Allah SWT pasti tidak akan memberikan umatnya kesulitan melebihi kemampuan umatnya sendiri.

Hal ini juga ditegaskan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an pada surah At – Tholaq Ayat 7.

( )لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا مَآ اٰتٰىهَاۗ سَيَجْعَلُ اللّٰهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُّسْرًا …

“… . Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” (QS At- Tholaq : 7)

Pada hadist riwayat Ahmad dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :  وَعْلَمْ أَنَّ فِيْ الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيْرًا وَ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. - أخرجه أحمد

“Ketahuilah, sesungguhnya pada kesabaran terhadap apa yang engkau benci mempunyai kebaikan yang sangat banyak. Dan sesungguhnya pertolongan itu bersama dengan kesabaran, kelapangan bersama kesusahan, dan bersama kesulitan itu ada kemudahan". (HR Ahmad 5/19 no: 2803.)

Jadi, bila kita menyikapi kesulitan dengan sabar dan bertekad untuk berusaha serta bertawakal agar terlepas dari kesulitan tersebut maka Allah akan memberikan kemudahan yang tidak terduga. Yakinilah hal tersebut, karena pada Tafsir Alquran Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 8/154, Dar Thoyibah, Ibnu Katsir mengatakan, “Janji Allah itu pasti dan tidak mungkin Dia mengingkarinya.”.