2 bulan lalu · 79 view · 5 min baca menit baca · Sejarah 13493_17827.jpg
hipwee.com

Diaspora Kertas

Ada sebuah lirik lagu yang menarik untuk mengilustrasikan diaspora kertas dari masa ke masa, liriknya berbunyi “bagai kepompong mengubah ulat menjadi kupu-kupu” sebagaimana kertas telah mengalami perubahan dalam diasporanya di setiap peradaban manusia.

Diaspora kertas yang dapat ditemui pada peradaban manusia dimulai dari pahatan pada batu. Awalnya manusia menuliskan sesuatu dengan menggunakan media sesuai dengan capaian teknologinya. Sebagaimana peradaban awal manusia memulainya dengan peradaban batu, tidaklah mengherankan teknologi pengolahan batu semakin maju.

Peradaban Mesir kuno, Yunani kuno, India kuno dan Nusantara di masa lalu mengembangkan teknologinya berbasis pada pengolahan batu. Manusia berburu membutuhkan batu, membangun kuil dan istana dengan batu dan tulisan yang diekspresikan manusia dalam bentuk prasasti yang dipahat.

Selain batu media tulis yang dapat dijumpai pada peradaban manusia yakni pelepah daun. Ada banyak tulisan-tulisan manusia dituangkan dalam pelepah daun sebagaimana yang dikenal dalam tradisi tulis Bugis-Makassar yang dikenal dengan istilah lontara (dari daun Talak). Tulisan manusia yang menggunakan media pelepah daun dapat ditemukan dibanyak peradaban termasuk di Mesir dengan menggunakan daun Papirus.

Penemuan kertas oleh T’sai Lun di Cina mengawali babak baru dalam diaspora kertas. Bila dulu manusia ingin menuangkan ekspresinya dalam tulisan menggunakan media batu dan daun, tetapi dengan penemuan kertas membuka ruang kemudahan bagi manusia dan bisa dikatakan salah satu tonggak peradaban manusia.

Seolah laju perkembangan kertas dari zaman ke zaman mengalami perkembangan yang sangat drastis, penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg di Jerman seakan membuat perkembangan kertas semakin maju. Ada banyak sendi kehidupan manusia semakin maju dengan perkembangan teknologi yang terkait dengan kertas.

Kemajuan peradaban tentunya berbarengan dengan kemajuan teknologi, hal tersebut terlihat dan berdampak dalam teknologi pengembangan kertas. Dari tiap peradaban mulai peradaban batu hingga peradaban berbasis mesin, juga menunjukkan kemajuan teknologi menghasilkan kertas.

Kertas dalam diasporanya dalam peradaban manusia dapat dilihat bahwa dari segi bentuk kertas senantiasa mengalami perkembangan. Dari yang terbuat dari batu hingga yang terbuat dari kayu, tetapi kertas dari segi fungsi sebagai media menuangkan tulisan tentunya tidak mengalami perubahan.

Sebagaimana kepompong, ulat dan kupu-kupu, dari segi bentuk ketiganya berbeda tetapi hakikatnya sama yakni mahluk hidup. Kertas juga demikian batu, daun dan kertas yang diolah dari kayu, secara bentuk berbeda. Artinya dapat digambarkan bahwa perkembangan kertas tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi.

Lalu, pertanyaannya apakah mungkin diaspora kertas akan berlanjut ke bentuk yang lain ? tentu bila dilihat perkembangan teknologi digital akan tergambar bahwa diaspora kertas akan mengalami keberlanjutan. Tentu kita sudah mengenal surat elektronik atau e-mail, kalau dulu sepasang kekasih ingin bertukar kabar maka pilihannya adalah menulis surat. Namun, sekarang sepasang kekasih bisa saling mengirim e-mail atau lewat medsos.

Persoalan kertas memang menimbulkan problem tersendiri, apalagi kertas merupakan olahan dari kayu. Sehingga produksi kertas pada dasarnya berdampak pada penebangan pohon, sedangkan menurut aktifis lingkungan hidup menyuarakan pengurangan penebangan pohon. Sebab, pohon menjadi sangat penting untuk mengurangi efek rumah kaca.

Seruan-seruan penanaman pohon dan pengurangan penebangan pohon semakin semarak diserukan oleh berbagai kalangan. Bukan hanya kalangan aktifis lingkungan bahkan dikalangan pemerintah telah menggalakkan berbagai program terkait penghijauan dan reboisasi terhadap hutan-hutan yang gundul.

Ketergantungan kertas dalam kehidupan memang sedemikian besarnya, apalagi dikalangan kampus yang banyak membutuhkan kertas mulai dari buku hingga tugas-tugas mahasiswa sangat menggantungkan diri pada kertas. Tentu dibutuhkan sikap bijak terkait persoalan kertas dan hubungannya dengan pohon.

Dalam biologi dikenal istilah irreversible artinya perkembangan mahluk hidup dari anak-anak hingga dewasa, membuat mahluk hidup tidak dapat kembali kebentuk semula. Dengan meminjam istilah tersebut terhadap kasus kertas, tentu solusinya bukan kembali kebentuk semula yakni batu.

Perkembangan teknologi digital pada dasarnya telah menyediakan solusi, tinggal yang diperlukan pembiasaan dari berbagai pihak untuk terbiasa menggunakan e-paper atau e-mail dan sejenisnya. Tetapi, merubah kebiasaan dari menggunakan kertas hingga menggunakan e-paper tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Persoalan pengalihan penggunaan kertas dengan dalih pengurangan penebangan pohon, pada dasarnya sangat komleks mengingat industri yang terkait produksi kertas, percetakan buku dan usaha foto kopi. Yang tentunya melibatkan banyak pihak terlibat dan pengurangan penggunaan kertas akan berefek pada produksi serta penghasilan mereka.

Berkurangnya produksi kertas akan berdampak pada pengurangan karyawan. Sedemikian kompleksnya persoalan kertas ini, untuk menyikapi perkara tersebut dibutuhkan solusi yang tepat. Sebab, orang-orang yang menggantungkan hidupnya pada produksi kertas mesti juga dipertimbangkan.

Salah satu contoh penutupan pabrik kertas yang terjadi di daerah Gowa Sulawesi Selatan dan tentunya penutupan pabrik tersebut berefek kepada PHK kepada karyawan. Tentu ini hanya contoh kasus yang terjadi di Sulawesi Selatan. Untuk itu pengurangan penggunaan kertas mestinya dibarengi pertimbangan terkait dengan pihak-pihak yang terlibat pada produksi kertas.

Tantangan pengurangan penggunaan kertas tentunya beririsan dengan perkembangan teknologi, yang tidak dapat dihindari. Kehadiran e-book dan e-paper sebagai produk teknologi bisa menjadi solusi untuk mengurangi penggunaan kertas. Apalagi kemajuan teknologi hanya dengan menggunakan gawai dapat mengakses e-book dan e-paper.

Ada fakta yang menarik persoalan penggunaan gawai di Indonesia terkait tingginya penggunaan facebook, twitter dan instagram. Sehingga bisa dikatakan bangsa Indonesia tidak terlalu sulit untuk diajak hijrah dari menggunakan kertas beralih menggunakan e-book dan e-paper.

Tetapi, pertanyaannya apakah bangsa Indonesia bisa mengoptimalkan e-book dan e-paper ? sedangkan dari segi kesadaran literasi bangsa Indonesia berada pada urutan 63 dari 65 negara yang disurvei. Kalau kita menerima data tersebut, maka bisa dikatakan bahwa sejak awal bangsa Indonesia kurang memanfaatkan kertas dalam hal urusan membaca buku.

Untuk itu persoalan diaspora kertas tampaknya akan semakin berkembang mengikuti perkembangan teknologi. Dari diaspora kertas mulai dari bentuk batu hingga kebentuk digital, memberikan gambaran bahwa peradaban manusia senantiasa mengalami perkembangan. Diaspora kertas di abad 21 dapat disaksikan dalam bentuk digital, namun kita masih bisa berasumsi diaspora kertas di abad-abad mendatang tentunya akan jauh lebih canggih lagi.

Mungkin setelah abad 21 ini, manusia tidak akan lagi berkunjung ke museum dan perpustakaan yang menyimpan berbagai manuskrip kertas. Dengan kecanggihan teknologi manusia dapat berkunjung ke museum dan membaca manuskrip kuno tidak lagi berkunjung ke perpustakaan hanya dengan mengunjungi e-perpustakaan.

Diaspora kertas dimasa yang akan datang akan semakin canggih dan mungkin diluar bayangan manusia hari ini. Bayangkan kalau sudah dalam bentuk e-book dan e-paper secara menyeluruh dilakukan, maka untuk mengakses data-data tentunya hanya membutuhkan teknologi gawai yang serba canggih.

Tetapi, sebagaimana aliran romantik yang menggugah akan keintiman masa silam bersama kertas. Mungkin manusia tidak lagi menggunakan kertas seperti kita menulis surat kepada kekasih, mengerjakan tugas kuliah dan surat pengantar dari Pak RT sebab telah berganti e-paper. Namun, manusia memiliki satu kemungkinan yakni kerinduan akan kertas, yang bisa saja dimasa depan ada wisata kertas sebagai obat kerinduan terhadap kertas.

Diaspora kertas secara bentuk masih sangat memungkinkan akan berubah sebagaimana kertas yang berbentuk fisik menuju kertas yang berbentuk non-fisik alias digital. Tetapi, kertas secara fungsi akan tetap sama, seperti dimasa lalu kala sang kekasih dengan intim menuangkan perasaannya pada kertas. Bedanya, dengan surat cinta e-paper mungkin akan cepat sampai dan si pecinta tak akan menunggu siang dan malam menanti balasannya.

Tetapi, bagi penulis kehangatan secara fisik membelai lembaran-lembaran kertas akan senantiasa hadir dalam memori perpustakaan ingatan. Mungkin itu sebabnya, orang-orang berdiaspora memiliki kerinduan akan asal. Diaspora kertas, tentu tak luput dari orang-orang yang merindukan akan bentuknya dimasa lalu. Disinilah kita akan sedikit romantik terhadap kenangan kita terhadap kertas, ditengah laju teknologi yang juga turut mengakut kertas dalam kemajuan.

Artikel Terkait