Teman kecilku…

Betapa rindunya aku padamu, setelah sekian tahun kita terpisah. Kini, aku tak tahu kamu dimana. Zaman dan waktu telah memisahkan kita. Andai kuingat, awal kita bertemu sampai hari-hari yang selalu penuh dengan canda tawa dulu. Sungguh, air mata ini tak bisa kubendung. 

Mengapa dalam kehidupan ini harus ada perpisahan? Apa ada pertemuan tanpa akhir? Karena aku mau itu! 

Biar pertemuan kita yang dulu tak berakhir sampai kapan pun. Karena aku tak sanggup berpisah darimu. Kini, kenangan-kenangan dulu selalu mengundang air mataku. Dimana, kala kita sedang bermain-main kecil tanpa mengenal bosan . 

Teman kecilku, kamu dimana? Apa waktu tidak ingin mempertemukan kita? Jika memang iya, mengapa dulu kita sempat dipertemukan?

Kini, kita sudah sama-sama beranjak dewasa. Rasaya baru kemarin masa kecil itu bersama kita, hingga tak terasa masa remaja pun telah kita lewati. 

Teman kecilku…

Kini kita sudah memiliki kehidupan masing-masing dan kehidupan yang berbeda. Mungkin, saat ini, kamu sedang menikmati indahnya kehidupanmu. Sedang aku lagi menikmati pahitnya kehidupanku. Ditambah jauhnya jarak kita menjalaninya. 

Tapi kini, aku tahu jarak kita sudah dekat. Tapi waktu masing enggan bersahabat dengan kita. 

Teman kecilku…

Aku rindu canda tawamu yang selalu kau tampakkan dulu tanpa kau sadari. Dan aku pun baru menyadari bahwa canda tawa yang dulu rupanya bisa mendatangkan cinta. 

Cinta yang kupendam hingga sekarang!

Ya Allah,

Jangan Kau ingatkan aku pada suatu masa “masa lalu” yang tak mampu membendung air mataku. Karena masa itu adalah bahagiaku yang hilang – yang tak akan mungkin kembali. 

Dan hamba juga tak ingin mengingat masa kini. Karena masa ini adalah deritaku. Derita karena jauh dari tumpuan hati yang sejati.

Tapi, ingatkanlah aku pada masa depanku yang pasti akan bahagia. Karena masa depan adalah kebahagiaan abadi dengannya dalam keluarga kecil. Meski itu hanya mimpi. Tapi, hamba yakin bahwa itu akan menjadi nyata. Nyata!

Perasaan apakah ini?

Ya Allah! Keringkah air mataku? Atau sudah lenyapkan ia di hatiku? Apa aku harus menyesali perasaan ini? melupakan dia dalam ingatan, dan memudarkan dia dalam pandangan.

Tapi, bisakah aku atasi semua itu? Aku yakin bisa, tapi aku tak mau membiarkan ia pergi dari ragaku. Karena dia adalah nyawaku. Nyawaku!

Apa aku rela mengusir dia hanya karena cerita orang? Tidak! Tapi, apa aku harus membiarkan dia hidup dalam hatiku – yang sewaktu-waktu bisa mengiris perasaanku?

Ya Rabby! Aku tak mengerti dengan keadaan ini. jangan Kau biarkan aku merindui orang yang telah bahagia. Dan jangan Kau biarkan aku merinduinya melebihi rinduku padaMu.

Ku tak mampu…

Mengapa bahagia itu cepat berlalu sampai membiarkan sendiri menghampiriku? Apa masih ada celah waktu untuk menuju masa lalu? biar aku harus berjalan seribu langkah lagi, aku mampu. Demi meninggalkan duniaku yang pilu.

Tapi, dimana harus kucari kunci pintu deritaku? Biar kuterbebas dalam ruang penat penuh debu. Karena sungguh aku ingin bebas seperti waktu dulu.

Rabbku,

Wahai pemilik sekalian alam, kapan Kau datangkan padaku orang yang bisa menyemangatkan hidupku? Kapankah datang giliranku merasakan apa yang mereka rasakan wahai pemilik sekalian alam? Dimana dia – orang yang akan mengisi hari-hariku?

Kaki yang selalu mengiringi jalanku. Tangan yang akan menuntun langkahku. Mata yang selalu mengawasi gerakku. Dan jiwa yang setia mendampingiku. Lama sudah kuterpuruk dalam lembah kesepian. Hanya ditemani lamunan yang tak pasti.

Engkau pemilik jagat raya, kapan Kau turunkan belas kasihmu padaku yang mungkin bisa merubah hidupku – hidup yang selalu berkabut. Pilu.

Semua telah berlalu…

Kudengar, saat ini, kamu tak lagi mengingatku. Padahal, saat ini, hatiku terus merindumu. Dimana keadilan itu? Dulu sempat kau ucapkan bahwa hanya aku di hatimu, yang takkan mungkin terlupakan dan tergantikan. 

Kemana ucapan itu? Apa semua yang ada di bumi ini tak mau berpihak padaku? Hingga tak satu pun mendengar cerita batinku. Pada siapa kutitipkan rindu ini? karena hatiku tak sanggup lagi menampungnya. 

Bulan yang dulu selalu memberikan terangnya, kini redup seketika menutup jalanku. Mentari yang dulu selalu memberikan hangatnya, kini melempar panas di tubuhku. 

Burung yang dulu selalu menghiburku dengan nyanyian merdunya, kini seakan membisu tak menegurku. Lalu, siapa lagi yang kupunya saat ini? satu yang tersisa, yaitu bayangmu. Bayangmu!

Kau datang lagi…

Dalam lamunku, kau hadir lagi. seolah tak mau pergi dari benakku. Padahal, kau tahu aku akan pergi jauh meninggalkanmu. Karena kutahu, kau hadir tidak untuk selamanya di hatiku. Tapi, aku pun tak memungkiri tak semudah itu melupakanmu.

Walau aku melangkah jauh dari bayangmu, aku yakin bayangmu akan selalu mengikutiku. Andai aku bisa, aku akan lari ke masa kecilku – masa dimana kau selalu dekat denganku.

Kurampungkan tulisan di atas sesaat setelah kak Lin, pemilik diary ini, masuk memergokiku kala itu – di kamarku. Terpaksa kucuri dan kutulis ulang catatan usangmu sebelas tahun yang lalu – yang terselip di antara tumpukan baju di lemarimu – karena aku kehabisan bahan bakar untuk menulis.

Semoga bahagia dengan keluarga masing-masing.

Adikmu,