Halo, pemuda!

Pernah mendengar ungkapan seperti pada judul? Atau bahkan belum pernah sama sekali? Kita diskusi bareng, yuk!

Diam terusik atau bergerak terinjak adalah frasa yang tidak sengaja muncul saat melihat keprihatinan warga negara khususnya para pemuda yang menyuarakan pendapatnya tapi justru ditenggelamkan dalam diam oleh pihak berwenang.

Tidak asing bukan dengan banyak berita yang tersebar menyinggung perihal penyampaian pendapat ini? Kemudian perlahan tenggelam dengan berbagai berita yang tidak jelas kepentingannya? 

Timbal balik yang diberikan dari pendapat juga "itu lagi dan lagi". Belum ada perubahan signifikan yang dapat diterima oleh masyarakat.

Lantas, manakah saat ini yang lebih baik untuk dilakukan? Diam tapi terusik atau bergerak namun terinjak?

Diam di sini dalam artian kita bungkam, tidak menyampaikan pendapat kepada publik secara lisan maupun tulisan.  

Kemudian disambung dengan kata terusik. Seorang pemuda yang dengan ciri khasnya berpendapat di muka umum, bergelora menyuarakan suaranya, kemudian dia berubah menjadi bungkam. Tentu dia akan merasa terusik tidak nyaman karena kebiasaannya berganti atau berubah.

Sama tidak nyamannya dengan bergerak terinjak.

Bergerak adalah lawan dari diam. Kita menyuarakan pendapat kita, maju ke depan atau naik ke atas mimbar untuk menyuarakan pendapat, kemudian didengar oleh orang banyak.

Melegakan setelah turun, namun tidak untuk timbal balik setelahnya. Banyak pendapat yang diterima, banyak pendapat yang dijawab saat itu juga. Namun berapa pendapat yang dijadikan bahan kajian, diajukan dalam rapat, dan diolah setelahnya?

Seakan kita ditenggelamkan dalam diam, dipaksa untuk diinjak, agar semua itu tidak perlu terlihat lagi, tidak perlu menjadi perdebatan lagi.

Kita mungkin saja dibantah dengan, "Apakah kalian tahu pendapat kalian itu disampaikan atau tidak dalam rapat kami?" 

Jelas saja tidak tahu. Tidak ada yang memberitakan, tidak ada yang mengabarkan, dan tidak ada perubahan yang dapat dilihat oleh mata dan dirasakan dampaknya.

Diam ataupun bergerak adalah pilihan setiap pemuda. Namun menyuarakan pendapat adalah hak untuk setiap rakyat. 

Jika pada akhirnya kita memilih untuk diam. Tidak akan ada lagi gangguan kepada yang berwenang, bagaimana beliau akan mengetahui keluh kesah masyarakatnya? Apakah akan ditanya satu persatu? Apakah akan disebar kuesioner untuk diisi? Tentu tidak!

Apakah mungkin cara kita bergerak masih salah? Tidak sesuai dengan aturan? Melanggar norma masyarakat?

Mungkin iya untuk beberapa kasus, namun langsung diatasi di tempat bukan?

Lantas untuk pergerakan yang sesuai dengan undang-undang, sesuai dengan aturan, baik, rapi, bersih, sudah dapat diterima pendapatnya? Kembali kepada tadi. Iya diterima, namun apakah diproses setelahnya?

Soekarno pernah berkata, dan ini yang selalu kita dengar saat Hari Sumpah Pemuda, "Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia!"

93 tahun kita telah merayakan Hari Sumpah Pemuda. Sudah lebih dari 10 pemuda yang maju untuk menyuarakan pendapatnya, menegakkan keadilan, meminta kebenaran. Tapi apa yang bisa diberikan oleh beliau yang berwenang?

Demo yang entah sudah berapa kali telah dilakukan, pemuda yang meninggal di medan tempur karena 'ketidaksengajaan' aparat, dan masih banyak lagi perjuangan yang sudah dilakukan. Namun hasilnya?

Untuk demo yang sampai merusak lingkungan, menimbulkan kerugian, dan justru tidak melahirkan tujuan awal dari demo tersebut, siapakah pelakunya? Ya rakyat! Memang benar rakyat pelakunya. Karena sudah jelas rakyat yang demo, rakyat yang bakar, rakyat yang turun ke jalanan. 

Namun, akankah hal itu terjadi jika pemerintah dengan tenang menerima suara kita, usulan kita, mengobrol sembari minum kopi ramai-ramai, kemudian bertukar pikiran dari sisi rakyat dan sisi pemerintah? Tidak. 

Tidak akan ada api yang menyala jika tidak ada bahan bakarnya.

Untuk sekarang, mungkin bergerak masih menjadi pilihan. Karena siapa lagi kalau bukan kita para pemuda yang maju mewakili suara rakyat?

Jangan sampai para pemuda berada di titik malas dan akhirnya acuh dengan keadaan negara. Karena pada dasarnya, pemudalah yang memulai, pemuda yang bergerak, dan pemuda yang akan membela rakyat.

Perkiraan tahun 2030-2040, Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk yang tidak produktif (di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).

Pemuda yang mencakup rentang usia 15-24 tahun tentu akan mendominasi saat masa bonus demografi terjadi. Lalu, apakah kita akan menyiapkan pemuda yang diam, atau yang bergerak?

Jawabannya ada pada para remaja dan pemuda di masa sekarang. Menjadi pilihan para remaja untuk diam menyaksikan kebebasan wewenang, atau bergerak untuk meminta keadilan. 

Serta menjadi tanggung jawab para pemuda untuk menyiapkan remaja yang siap terjun ke pertempuran, atau yang diam di depan layar televisi sembari mengemil jajanan.

Indonesia adalah milik rakyat dan bukan hanya milik yang berwenang.

Indonesia adalah tempat rakyat bukan hanya tempat yang berwenang.

Indonesia adalah rumah kita semua. Tempat kembali untuk setiap perantauan panjang. Tidak akan ada ruginya jika kita menyiapkan tempat kembali terbaik, untuk kemudian diwariskan kepada anak cucu kita.

Salam.