Tidak sedikit yang mengatakan dan menganggap bahwa diam itu tidak peduli sekitar. Padahal stigma tersebut belum tentu benar. Nyatanya banyak dari mereka yang memilih diam namun, otaknya terus berfikir langkah apa yang tepat untuk selanjutnya?.

 Orang yang diam bukan berarti tidak peduli keadaan sekitar. Orang yang diam tidak selamanya tidak peduli, karena di suatu waktu nanti hatinya akan tergerak dengan sendirinya tanpa sadar untuk mempedulikan keadaan sekitar. 

Banyak orang disekitar kita yang tanpa mereka sadari telah setuju dengan stigma tadi "diam berarti tidak peduli". Lalu bagaimana dengan kita, apakah setuju dengan stigma tersebut atau tidak setuju dengan stigma yang mereka yakini? 

Tidak sedikit kejadian yang terjadi akhir akhir ini. Banyak diantaranya yang melibatkan kepedulian sosial. Pada satu hari di tahun 2022 ini di sebuah kampus negeri ternama terdapat seorang mahasiswa yang dikenal pendiam dan sedikit menutup dirinya dari teman temannya. 

Dia membangun benteng sebegitunya untuk memberikan jarak dan tidak membiarkan orang lain mengetahui tentang nya. Ntah apa maksud dan tujuan dia melakukan itu semua yang jelas dia kurang suka dengan lingkungan yang ramai. Bisa dibilang dia ini pribadi yang introvert. Ya, dia biasa dipanggil Tia oleh teman temannya. 

Dikelilingi banyak orang di kampus pun Tia masih merasa sepi. Dia menundukkan kepala saat melewati lobbly gedung yang nampak ramai mahasiswa sedang berlalu lalang. Tiba-tiba saja dari arah belakang ada dua orang yang merangkulnya, sedikit terkejut karena ada yang mau merangkulnya. Dia pun menoleh ke sisi kanan kirinya, ternyata teman sekelasnya sendiri. 

Agak canggung memang bagi dia yang tidak pernah dekat dengan temannya. Tapi, itu bukan suatu masalah yang berarti bagi dua temannya itu. Mereka pun berjalan beriringan menuju kelas dengan sesekali terlontar candaan dari mereka, namun Tia memilih diam saja, sesekali menanggapi dengan senyuman saja.

Memang sulit untuk dekat dengannya karena dia memang menutup dirinya dari banyak orang. Ingin dua temannya tadi bisa berteman dekat dengan Tia, sayangnya Tia ini pribadi yang sulit didekati. 

Hari demi hari dia lalui sebagai mahasiswa di Universitas tersebut. Banyak sudah kejadian kejadian yang dia alami, bahkan hampir setiap hari ada saja kejadian atau kelakuan teman temannya yang abstrak. Di suatu waktu saat kelas, dia terlihat duduk di barisan paling belakang pojok kanan tempat favoritnya. 

Saat itu dia menyadari kalau didalam kelas masih kurang satu mahasiswa yang belum datang ke kelas sebut saja namanya Ani. Awalnya si dia tidak terlalu memikirkannya, tapi lama kelamaan dia akhirnya menghubungi temannya yang belum masuk itu dan menanyai ada kendala apa sehingga belum sampai kelas. 

Sembari menunggu jawaban dari Ani, Tia memutuskan untuk membaca buku novel yang dibawanya. Sampai satu notif berbunyi di HP nya. Tia mengeceknya siapa tau Ani sudah membalas dan ternyata benar itu balasan dari Ani. 

Ani mengatakan kalau motornya di kost tiba-tiba saja mogok ntah karena apa. Setelah menimang apa yang akan dilakukannya, Tia keluar kelas dengan terburu buru dan segera menanyai posisi Ani sekarang. Ya, Tia memutuskan untuk menjemput Ani agar bisa sampai kampus dengan cepat. 

Sesampainya mereka di kampus, dengan terburu buru mereka menaiki tangga menuju kelasnya   di lantai empat. Capek memang tapi itu bukan suatu masalah bagi Tia. Tia dan Ani sampai di depan kelas yang pintunya sudah tertutup dan terdengan seorang dosen yang sedang menerangkan materi. 

Dengan ragu Ani mengetuk pintu, ketukan pertama tidak berhasil menghentikan dosen tersebut. Pada ketukan ketiga barulah dosen tersebut berhenti menjelaskan. 

Perlahan pintu terbuka dan memperlihatkan mahasiswa di kelas dan juga dosen memusatkan perhatian pada Ani dan Tia. Perlahan Ani menjelaskan mengapa mereka bisa terlambat masuk kelas dan akhirnya dosen mengizinkan mereka untuk mengikuti kelas hari itu. 

Saat selesai kelas, Tia pun mengantarkan Ani ke kost nya kembali, namun ada yang aneh. Saat diperjalanan Ani tiba-tiba saja seperti orang yang mengkhawatirkan sesuatu, cemas, serta panik. Sesampainya di kost, "ada apa?" tanya Tia. Ani hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tetes demi tetes air matanya jatuh membasahi pipi. "Ibuku sakit, dan sekarang di rumah sakit" jawab Ani dengan berlinang air mata. 

Mengingat motor Ani yang masih mogok di kost, akhirnya Tia mengantarkan Ani untuk pulang ke rumahnya. Memang tidak dekat jaraknya, tapi Tia tidak mempermasalahkan itu yang penting Ani bisa pulang terlebih dahulu. Itulah Tia, pendiam tetapi banyak tindakan yang dilakukan. 

Diamnya seseorang bukan berarti dia tidak peduli dengan keadaan sekitarnya namun, dia sedang memperhatikan sekitar dan bergerak sesuai dengan situasi dan kondisi. Tetapi, tidak peduli sudah pasti dia akan diam saja. 

Bisa saja orang yang diam merupakan orang yang paling berpengaruh pada lingkungan sekitar, jadi jangan menilai seseorang dari bagaimana dia mengekspresikannya tapi lihatlah dari semua perilaku yang dia perbuat.