Disuatu hari hiduplah seorang anak yang pendiam, tidak ingin berbicara kalau tidak ada keuntungan baginya, dikala itu usianya 13 tahun, berjenjang di SLTP (MTs Nurul Qur’an). Hari-harinya dipenuhi rasa ingin belajar bahkan berjalan-pun membawa buku atau kitab untuk dihafalkan dan disetorkan kepada ustadz atau guru. Peringkat di kelas selalu mengalami peningkatan, mulai dari peringkat 5 di kelas 7, peringkat 3 di kelas 8, dan peringkat 1 di kelas 9. Walaupun sudah sekolah, rasa ingin mencari ilmunya sungguh menakjubkan, sehingga Dia memutuskan untuk mondok yang satu yayasan dengan sekolahnya yaitu pondok pesantren Nurul Qur’an. Tapi sayangnya anak ini dijauhi oleh teman-temannya dikarenakan sifat pendiam dan suka menyendiri. Anak tersebut bernama Yusuf Al-Mansyur. Pagi yang cerah ada temannya yang bertanya.

Sahal        : Suf, kenapa kamu selalu diam dan tidak mau bergabung atau berkumpul bersama teman-teman yang lain?.
Yusuf        : Aku punya alasan , mengapa sifatku seperti ini. Alasannya adalah waktu yang terbuang sia-sia.

Alasan tersebut membuat Sahal berfikir bahwa pentingnya waktu seperti yang pernah didengar dari gurunya (waktu bagaikan pedang, apabila tidak bisa menggunakan dengan baik makan pedang tersebut bisa melukai). Sebenarnya Yusuf merasa terbebani dengan sikapnya yang seperti itu. 

Yusuf        : kok rasanya begitu-begitu saja ya. Nggak ada yang baru. Lantas apa yang harus aku lakukan untuk mengubah sifatku yang seperti ini.

Berkali-kali perasaan seperti itu muncul di benak Yusuf.





***

Matahari terbit memancarkan sinar yang begitu sejuk, waktu sekolahpun tiba. Santri berangkat dari pondok, sesampai di sekolah ada pengumuman.

Pratama    : Selamat pagi!, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan, bahwa ada satu ekstra yang wajib dikuti oleh seluruh siswa yaitu ekstra pramuka.
Sahal        : kira-kira ekstra apa ya Suf?.
Yusuf        : Entahlah, kita dengarkan dulu pengumumannya.
Sahal        : Oke, siap.
Pratama    : Ekstra tersebut adalah pramuka.
Akbar         : Haduh, ternyata ekstra itu lagi, di sekolah lainpun sama ekstra ini yang diwajibkan.

Suasana kelas berubah menjadi gaduh sehingga gurupun mencoba untuk menenangkannya.

Guru        : Harap semua tenang. Perhatikan apa yang telah disampaikan oleh Pratama. Apa ada informasi lain yang ingin disampaikan?.
Pratama    : Sudah Bu, Cukup itu saja.

Sampai di pondok semua santri yang notabelnya pelajar membahas tentang ekstra yang diwajibkan di sekolahan yaitu ekstra pramuka.

Sahal        : Belum tau soalnya di kelas cuman diumumkan bahwa ada ekstra yang diwajibkan yaitu ekstra pramuka.
Dika        : Mungkin Pratama lupa menginformasikan mulai aktif pramuka kapan. Soalnya di kelasku telah diinformasikan bahwa hari Ahad pramuka sudah mulai masuk.

Satu tahun pun berjalan, masalah yang dihadapi oleh Yusuf (sifat pendiam) akhirnya terpecahkan.

Yusuf        : Aku tahu hal apa yang harus dilakukan untuk bisa akrab kepada teman-teman.
Sahal        : Apa itu Suf?.
Yusuf        : Aku harus aktif berorganisasi terutama di bidang kepramukaan. Soalnya melalui bidang tersebut rasa ingin bersahabat bertambah bahkan ilmu yang hanya sekedar teori bisa aku terapkan di lapangan.

Diakhir kelas 9 Yusuf memiliki sifat akrab kepada teman-temannya bahkan Dia-pun mewakili sekolah untuk mengikuti event Jambore Nasional X 2016 di Cibubur, Jakarta. Sedangkan teman-temannya selalu bertambah mulai dari dalam daerah maupun di luar daerah.

***

Kehidupan berganti kejenjang yang lebih tinggi, yaitu SLTA. Yusuf memutuskan untuk tetap meneruskan di Madrasah Aliyah Nurul Qur’an, yang dimana Madrasah Aliyah Nurul Qur’an adalah yayasan yang memiliki jenjang MI, MTs, MA jurusan IPA (tahun 2021 ditambah jurusan IPS), bahkan SMK jurusan Multimedia. Begitupun dengan guru-gurunya menyarankan untuk meneruskan di Madrasah Aliyah Nurul Qur’an.

Guru        : Mau meneruskan dimana, Suf?
Yusuf        : Insyaallah tetap di Nurul Qur’an, Bu
Guru        : Saya juga setuju berkaitan dengan keputusanmu itu, Suf. Karena apabila seseorang ingin sukses harus istiqomah di dalam satu wadah pendidikan, artinya tidak pindah-pindah sekolah.
Yusuf        : Iya, Bu. Kiyai Ku juga berbicara seperti itu.

Berbeda dengan Sahal, teman Yusuf. Dia memutuskan untuk mendaftar di sekolah negeri.

Sahal        : kamu mau meneruskan dimana ?
Akbar        : Aku insyaallah meneruskan di sekolah swasta, kamu gimana?
Sahal        : Aku insyaallah meneruskan di sekolah negeri.
Akbar        : Kamu yakin!, Yusuf saja ingin meneruskan di Nurul Qur’an.
Sahal        : iya, Aku yakin. Berbeda sekolah bukan berarti persahabatan semakin pudar, tapi dari perbedaan sekolah tersebut kami bisa saling adu keunggulan atau adu kecepatan dalam mencari ilmu. Pada akhirnya aku juga akan kembali kepada Nurul Qur’an karena Nurul Qur’an telah memberikan apa yang aku butuhkan untuk tampil di masyarakat yaitu berupa mental.
Akbar        : iya, Hal. Silahkan ngga apa-apa. Lagian semua sekolah juga baik. Ketidakbaikan sekolah itu tergantung pada diri kita masing-masing.

Setelah lama berdebat akhirnya percakapan selesai, dan kini masing-masing dari lulusan Madrasah Tsanawiyah Nurul Qur’an menyebarkan sayapnya dengan cara menyebar diseluruh penjuru dunia guna mencari ilmu dan akhir dari mencari ilmu adalah kembali kepada Nurul Qur’an.