7 bulan lalu · 698 view · 3 min baca · Politik 99710_45075.jpg

Dialog Sunyi PSI dan Jokowi

Masih tentang debat pertama yang telah usai kita saksikan kemarin. Momen yang masih menyisakan narasi dari seluruh analisis tanda, simbol, dan konstruksi makna yang disampaikan kandidat paslon di panggung, baik dari Jokowi-Ma'ruf atau Prabowo-Sandi.

Grace Natalie, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), duduk di barisan para elite partai pengusul pasangan 01. Posisi duduk mereka tepat di belakang Jokowi-Ma'ruf.

Wajah Grace, malam itu, terekam hanya sesekali di sorot kamera. Itu pun pasti hanya sekadar saja. Sebab, tak ada urgensi menyorot wajah Grace terlalu lama, apalagi untuk urusan debat kandidat capres/cawapres 2019.

Pun partainya Grace, PSI, bukanlah partai pengusul pasangan Jokowi-Ma'ruf. Sebab, PSI di pemilu sebelumnya, di Pileg 2014, belum memiliki suara. Artinya, PSI hanyalah partai pendukung Jokowi yang secara elektoral pertama kali akan bertarung pada 17 April nanti.

Lebih lagi, bila kita menelusuri jejak digital, keberadaan PSI sering dirisihkan, tidak hanya partai politik koalisi lawan BPN 02 Prabowo-Sandi, tapi juga di internal partai koalisi TKN 01 karena sikap-sikap politik yang diambil yang tegas dan dianggap kontroversi. 


Misalnya, kebijakan PSI menolak perda berbasis agama, usulan debat materi korupsi di masa Orba, hingga sikap PSI yang menolak kader dan calegnya untuk poligami.

Pada debat kandidat kemarin, setidaknya ada hal yang membuat Grace sumringah di lokasi debat. Khususnya, saat Grace menyaksikan di depan matanya sendiri Jokowi menanyakan terkait caleg eks narapidana korupsi dan representasi perempuan dalam susunan kepengurusan sebuah partai politik. 

Malam itu, karena lawan debatnya adalah Prabowo, secara otomatis pertanyaan ditujukan pada Partai Gerindra. Warna kalimat Jokowi sangat jelas merujuk pada dirinya yang anti-korupsi dan menjunjung tinggi kesetaraan gender.

Pada konteks ini, tentu wajah Grace bercampur aduk antara senang, terharu, dan bangga. Sebab, menurut data yang ada, pertama, merujuk pada temuan Bawaslu (27/7/2018), hanya PSI satu-satunya partai politik yang tidak mengusung eks narapidana korupsi. 

Hingga akhirnya, di masa revisi Daftar Caleg Tetap (DCT), caleg eks narapidana korupsi hilang pula dari susunan caleg yang diusung Partai Nasdem, PPP, dan PKB yang juga akhirnya tidak mengusung mantan koruptor untuk pemilihan legislatif.

Kedua, soal calon legislatif perempuan yang dicalonkan partai politik di Pileg 2019 nanti. PSI merupakan partai paling banyak mengusulkan caleg perempuan yang jumlahnya mencapai 262 orang dari 575 caleg (45,56 %). Angka ini tentu jauh lebih banyak dari representasi perempuan yang diusung Partai Gerindra yang jumlahnya 213 orang atau sekitar 37%.

Saya melihat ini merupakan dialog sunyi antara PSI dan Jokowi. Sebab, selama ini, pada pertarungan offline dan online, sikap-sikap yang diambil PSI selalu mendukung penuh seluruh kebijakan yang diambil oleh Jokowi.

Pada 12 November 2018 lalu, pada acara ulang tahun PSI yang ke-4, pada salah satu potongan pidatonya, Jokowi membalas dan memuji PSI yang mengatakan, "PSI adalah unicorn politik Indonesia." Kala itu Jokowi membandingkan kehadiran PSI mirip unicorn startup: Traveloka, Bukalapak, Gojek, dan Tokopedia yang menggerakkan usaha memanfaatkan teknologi.

Pun jika kita merujuk unicorn dalam mitologi Yunani, kita akan melihat ilustrasi kuda perempuan berwarna dan bertanduk yang diyakini memiliki kekuatan menyembuhkan dan memurnikan. Memurnikan komitmen politisi Indonesia terkait kesetaraan gender dan menyembuhkan Indonesia dari penyakit akut korupsi.


Tentu saja, bagi PSI, dua pertanyaan Jokowi itu sangat penting. Pertanyaan yang dalam tataran paradigma sangat substansial dan penting dalam politik kita hari ini. Substansi itu dalam tataran metode berpikir bisa dipahami sebagai paradigma kritikal, yaitu usaha untuk menghilangkan ide-ide yang salah (fallacy) melalui kritik dan menawarkan kebaruan melalui formulasi ide besar.

Pada konteks semiotika yang lebih positif, saya teringat salah satu novel yang ditulis oleh Mario Puzo yang berjudul Omerta.

Pada satu kisah, sosok Don Raymonde justru mengkehendaki dan menginginkan seorang anak angkat berusia 10 tahun bernama Astorre yang akan menjadi penerusnya. Padahal Don Raymonde bukannya tidak punya anak, ia memiliki 3 (tiga) orang anak.

Tapi Raymonde justru mempercayakan semua hal yang ada pada dirinya pada Astorre melalui hukum kesetiaan. Pun Raymonde sadar bahwa Astorre bukan sembarang anak, sebab Astorre adalah anak dari Don Zeno, sosok pemimpin yang paling disegani dan penuh optimisme.

Sama halnya dengan Astorre, Jokowi sangat menyadari bahwa PSI bukan pula merupakan partai pengusul langsung dirinya seperti partai-partai lain yang telah mengikuti pemilu terlebih dahulu. PSI hanyalah partai anak-anak muda yang hadir belakangan. 

Tapi pada bacaan saya, Jokowi sangat menginginkan PSI lolos dari jeratan threshold 4%, dengan cara dialog sunyi melalui hukum kesetiaan. Setia untuk tetap menjadi partai yang anti-korupsi dan partai yang pro terhadap kesetaraan gender. Karena PSI adalah anak-anak muda generasi optimis itu.


Artikel Terkait