Apakah aku yang bekas pelacur sudah tak pantas untuk mencintai juga dicintai?

Pertanyaan itu merupakan wujud dari keinginan yang manusiawi. 

Sekalipun aku bekas pelacur, aku tetaplah perempuan yang masih punya hati yang ingin dicintai juga mencintai. Aku tetaplah perempuan yang membutuhkan sosok laki-laki yang bisa menjadi tempatku bersandar melepas penat, tempatku pulang kala hati sedang risau, tempatku berbagi cerita kala seisi dunia tak lagi mendengarku. 

Kadang hati ingin menangis sejadi-jadinya membayangkan jalan yang telah ku tempuh dimasa lalu. Tapi semua hanya sia-sia. Semua tak akan merubah apa-apa.

Penyesalan itu tak akan mampu merubah keadaan seperti sedia kala. Tak akan mampu menghapus stigma ‘perempuan bajingan, perempuan tak bermoral’ yang telah melekat didiriku. Tak akan mampu mengembalikan keperawananku.

Aku telah melalui itu semua. Aku telah melalui masa dimana aku harus menanggung hinaan dari semua kalangan. Bahkan dari mereka yang selalu berceramah tentang memanusiakan manusia. Pada akhirnya, mereka juga yang merendahkanku karena sebuah pekerjaan yang begitu hina. 

Sebenarnya aku risi dengan orang-orang yang menempatkan keperawanan sebagai suatu kehormatan bagi seorang perempuan.

Begini, jika keperawanan ku sudah hilang, apakah kehormatan ku sebagai perempuan juga ikut hilang? Jika kehormatan ku telah hilang, lantas aku bebas untuk dihina, sampai-sampai dikatakan bahkan derajatku lebih rendah dari seekor anjing?

Tapi bukankah manusia selalu punya pilihan? Soal aku yang dulu menjadi pelacur juga pilihan. Pilihan karena himpitan ekonomi dan jerat kemiskinan yang melanda. Soal aku yang berhenti melacur bukankah itu juga pilihan? Pilihan untuk kembali hidup seperti sedia kala meski apa yang dianggap orang-orang itu kehormatan sudah tidak lagi aku punya.

-ooo-

Aku lalu bertemu denganmu. Hati kecilku berkata kau adalah orang yang bisa membangkitkanku dari keterpurukan. Memapah ketika seisi dunia mematahkan. Memahami saat semua orang menghakimi. Mendukung kala semua orang merundung. 

Dan betul, yang aku rasakan saat ini adalah cinta. 

Kau datang membawa harapan bahwa semua orang layak untuk dicintai bahkan untuk diriku yang dulu perempuan jalang. Kau perlu tahu, sejak kedatanganmu aku perlahan bangkit dari jurang masa lalu yang selalu saja terbayang dengan jelas. 

Aku merasa, kau adalah sosok yang tepat untukku melabuhkan rasa. Begitu pula denganmu.

Pada akhirnya, kita pun mencoba meleburkan rasa. Kita mencoba berjalan beriringan. 

Menjadi kekasihmu tentu ada beban tersendiri yang terus mengusik. Pasalnya, hingga detik ini, ada satu hal yang belum aku ceritakan. Bukan berarti aku menutup diri. Bukan berarti aku tidak ingin berbagi kisah. 

Aku rasa belum waktunya untuk membagikan kisah itu. Aku takut kau akan meninggalkanku jika nantinya kau tahu perihal masa laluku yang begitu kelam. Aku takut kau akan pergi jika kau tahu bahwa aku adalah bekas pelacur.

Biarlah waktu membawa kita pada rentetan peristiwa yang membuatku bersyukur pada semesta karena telah mempertemukan kita.

Tapi kembali, pada setiap malam, aku selalu dibayang-bayangi pertanyaan dan rasa bersalah kepadamu. 

“Apakah kau akan tetap mencintaiku jika kau tahu aku adalah bekas pelacur?”

“Apakah sikapmu akan tetap seperti ini jika kau telah tahu masa laluku?”

"Bagaimana bisa kau mencintaiku? Sementara tubuhku sudah disetubuhi banyak lelaki?"

Pertanyaan-pertanyaan itu selalu saja datang yang membuat air mataku tumpah tanpa pamit. 

Baik, aku akan membuat semuanya menjadi jelas. Aku tidak mau terus-terusan dibayanyi rasa bersalah. Aku akan menceritakan semua ini. Apapun reaksimu, aku sudah siap dengan semua itu. Bahkan ketika kau memilih meninggalkanku pun aku sudah siap dengan kesendirian tanpamu. 

-ooo-

Aku memintamu untuk menemuiku ditempat pertama kali kita bertemu. Tempat dimana rasa ini muncul. Dan bisa jadi, ditempat ini pula rasa itu harus dikubur. 

“Aku bekas pelacur” kataku dengan suara parau. Seperti ada air mata yang ingin tumpah tapi masih bisaku tahan.

Kau malah membalas dengan senyum dan berujar “Aku mencintaimu berarti aku siap menerima segala kekuranganmu. Bahkan kau bekas pelacur. Bukankah cinta saling menerima masing-masing kekurangan? Bukankah cinta saling melengkapi dalam setiap perbedaan?” 

“Tapi bagaimana dengan pendapat orang-orang tentang aku, siapkah kau menerima itu?” 

 “Aku tak peduli dengan apa yang dikatakan orang-orang. Aku mencintaimu sejak pertama kali bertemu hingga hari ini” jawabmu langsung

Aku terdiam. Aku hanya menatapmu dengan mata yang berkaca-kaca. 

-ooo-

Perlahan, kau terus berusaha menghadirkan senyum dihari-hariku yang suram. Kau paham, bahwa cinta bukan hanya sekedar hubungan, tapi juga dukungan. Kau memahami, bukan menghakimi. Kau memapah, bukan mematahkan. 

Akan tetapi masih ada beberapa pertanyaan yang terbesit dalam hati, bisakah kita hidup bersama dalam keluarga kecil dimasa depan? Bagaimana dengan kedua orang tuamu? Bagaimana dengan keluargamu? Bagaimana reaksi mereka jika nantinya mereka tahu masa laluku? 

Pertanyaan itu ku biarkan bertaburan dilangit malam bersama bintang nun jauh disana. Tanpa sadar, air mataku tumpah tanpa pamit. Biarlah itu menjadi misteri. Biarlah itu terjawab nanti. Bukan saat ini. 

Yang pasti, malam ini izinkan aku bersyukur karena telah memilikmu kemarin, hari ini, esok dan semoga selamanya.