Kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat (National Institute of Literacy).  Melalui pengertian tersebut dapat kita pahami bahwa pengertian literasi adalah lebih dari kemampuan baca tulis, melainkan berhubungan dengan keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu. Definisi literasi menunjukkan paradigma baru dalam memaknai literasi dan pembelajarannya. Kini hakikat ber-literasi secara kritis dalam masyarakat disangkutpautkan dengan proses memahami, menganalisis, serta mentransformasi teks. Sehingga dapat simpulkan bahwa literasi merupakan kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis.

Perdaban suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuannya, sedangkan kecerdasan dan pengetahuan di hasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang di dapat, sedangkan ilmu pengetahuan di dapat dari informasi yang diperoleh dari lisan maupun tulisan (Kompasiana, 2017). Sehingga semakin banyak penduduk suatu wilayah yang haus akan ilmu pengetahuan, akan semakin tinggi pula tingkat peradabannya. Menetapkan budaya literasi sebagai salah satu  indikator membangun negeri, merupakan keputusan yang tepat. Pasalnya penelitian-penelitian telah menunjukkan bahwa hampir seluruh negara dengan peradaban maju di dunia memiliki warga dengan tingkat literasi yag baik, seperti indeks minat baca yang tinggi dan kualitas hasil tulisan yang mampu bersaing secara global.

Mantan Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Hatta Rajasa (2016), berpendapat bahwa tidak ada suatu bangsa yang ungguh di dunia tanpa adanya manusia yang unggul dan tidak ada manusia yang unggul tanpa unggulnya pengetahuam  disertai dengan minat baca yang tinggi. Menjadikan kegiatan membaca sebagai suatu budaya menjadi mudah untuk diimplementasikan apabila aktifitas membaca menajdi sebuah kegiatan yang dianggap kebutuhan, bukan hanya kewajiban. Kebodohan harus ditanamkan sebagai penyakit besar utama, sehingga seperti membutuhkan makan dan minum untuk terbebas dari lapar dan haus, kegiatan membaca dibutuhkan untuk terbebas dari kebodohan. Semangat membaca saat ini sudah diimbangi dengan teknologi informasi yang semakin memudahkan seseorang mendapatkan suatu sumber bacaan.

Keberadaan buku tidak akan tertinggal selama manusia tidak berhenti menggali pengetahuan. Pengetahuan adalah kebutuhan mutlak peradaban, sehingga keberadaannya akan kekal selama di muka Bumi, manusia masih melanjutkan kehidupan. Zaman semakin berkembang menuju era masyarakat tanpa kertas (paperless society)  yang diperkenalkan oleh Frederick Wilfrid L. (1978), dimana bentuk buku dan distribusi informasi sudah mengikuti keadaan kekinian dengan digantikannya bentuk lembaran kertas menjadi bentuk yang serba elektronik. Meskipun zaman semakin digital, namun keberadaan buku-buku elektronik nyatanya tidak mampu menggantikan seni membaca buku  dalam lembar-lembar kertas. Ada beberapa hal yang akan berbeda dan tidak tergantikan rasanya ketika kita membaca buku secara konvensional, seperti membalikkan lembar demi lembar kertas dengan aroma yang khas, sentuhan jemari yang membalik halaman dengan hati-hati, seolah memperkuat hubungan antara hati dan intelegensi, serta aksara yang sedang kita nikmati.

Eksistensi buku mungkin akan tergerus seiring dengan melemahnya minat generasi penerus untuk mendistribusikan semangat literasi, ditambah pula dengan meluasnya bacaan-bacaan yang bersifat elektronik, namun produksi buku tidak berhenti kecuali karena bahan baku pembuat buku yang sudah sudah tidak ada lagi. Ketika hutan industri yang menyediakan kayu-kayu sebagai bahan baku pembuatan kertas sudah tergusur oleh gedung-gedung tinggi. Kehidupan dunia akan terancam dengan gaya penghidupannya sendiri. Hutan industri sebagai sumber produksi utama mebel, kertas, dan bahan-bahan terbuat dari kayu lainnya banyak yang dieksploitasi. Eksploitasi berlebihan dan penggunaan bahan-bahan yang tergolong masuk dalam kategori pemborosan ini suatu saat akan mendatangkan hambatan bagi kelanjutan hidup umat manusia. Semakin memasuki era globalisasi, pengetahuan seharusnya berbanding lurus dengn langkah-langkah preventif yang dirundingkan bersama untuk menjaga sumber daya alam di tengah masifnya pembangunan infrastuktur agar pembangunan berkelanjutan dapat terus dilakukan tanpa merusak dan mengancam kelestarian sumber daya alam, terutama hutan yang jumlahnya saat ini terus berkurang karena aturan pemanfaatannya telah beralih menjadi kegiatan eksploitasi berlebihan.

Pengertian pemanfaatan hutan adalah kegiatan untuk memanfaatkan kawasan hutan secara adil dan optimal dengan tetap menjaga kelestariannya (Forest Act, 2017). Tujuan dari pemanfaatan hutan berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dan Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan adalah untuk memperoleh manfaat hasil dan jasa yang bersumber dari sumber daya hutan secara optimal, adil, dan lestari untuk sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat. Hutan mempunyai fungsi dalam berbagai pemanfaatan produksi, antara lain berupa hasil hutan kayu, bukan kayu, maupun pemanfaatan jasa lingkungan. Salah satu jenis hutan yang yang kayunya diambil untuk diperjualbelikan dinamakan hutan industri. Jumlah hutan industri di dunia, khususnya Indonesia semakin berkurang dari waktu ke waktu karena kegiatan illegal-logging serta aktifitas pemanfaatan hasil kayu hutan tanpa memiliki izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK). Pemanfaatan yang melenceng dari aturan tersebut merupakan sebuah ancaman terhadap keberadaan hutan.

Salah satu tindakan yang dapat dilakukan untuk mewujudkan masyarakat yang paham akan ancaman-ancaman keterbatasan sumber daya alam adalah dengan meningkatkan pengetahuan melalui kegiatan  budaya literasi. Kebiasaan membaca dan menulis tentu mampu menjadi kegiatan berkelanjutan sebagai langkah preventif menghadapi ancaman terhadap menipisnya jumlah hutan industri yang menunjang sektor perindustrian suatu negara. Menjaga hutan telah menjadi urgensi menjaga peradaban. Budaya membaca dan menulis dapat menjadi langkah terobosan untuk menjaga hutan melalui distribusi pengetahuan akan pentingnya keberadaan hutan untuk menunjang kemajuan industri.

Media elektronik tidak mampu sepenuhnya menggeser peran media konvensional dalam memengaruhi minat baca, nyatanya keberadaan buku dan media cetak masih masif di kalangan masyarakat sebagai suatu seni memperoleh ilmu pengetahuan dalam pendidikan. Selain itu, seni berliterasi secara konvensional mampu meningkatkan kualitas konsentrasi pembaca sehingga memudahkan pembaca dalam mendapakan pemahaman. Dengan kata lain, literasi konvensional menggunakan kertas mampu digunakan sebagai salah satu indicator dalam meningkatkan pemahaman pentingnya menjaga hutan industri demi keberlanjutan berbagai sektor indutri berbahan kayu, termasuk kertas itu sendiri.

Sebagai bahan refleksi sekaligus memahami realitas, alasan terbesar menurunnya eksistensi buku adalah karena menipisnya bahan baku pembuat kertas, hingga suatu hari habis sama sekali dan tergantikan oleh bangunana-bangunan tinggi, maka saat itulah budaya literasi konvensional, buku dan dengan lembar-lembar kertasnya yang berbau khas, yang dikatakan merupakan jendela dunia, hilang pula dari peradaban. Lantas saat itukah kita bisa berkata bahwa manusia telah kehilangan jendelanya untuk memahami dunia? Akankah konsepsi berpikir secara adil dan bijaksana hilang pula bersama jendela-jendela dunia yang telah tergusur oleh era nir-kertas?

Merawat hutan menggunakan kertas merupakan tindakan mutualis, dimana literasi dengan media kertas mampu membuat propaganda untuk kepentingan pelestarian, perawatan, dan pemanfaatan hutan, pemasok bahan utama produksi. Tentu dialektika ini akan diakhiri dengan konsepsi arif, bahwa semakin seseorang cinta literasi, merindukan karya-karya segar para penulis, para pekerja untuk keabadian, yang kemudian dicetak dan dinikmati dalam lembar demi lembar tulisan, tentulah semakin manusia itu memiliki kesadaran dalam menjaga hutan.