"Cewek matre, cewek matre, ke laut aje!" Begitu lirik sebuah lagu. Padahal, yang matre bukan cewek saja. Cowok juga pasti. 

Hari gini, siapa sih yang tidak butuh uang? Uang memang bukan segalanya, tapi bisa "mengatur" segalanya. Uang yang berfungsi sebagai alat tukar itu bisa ditukar dengan apa pun. Ini untuk menukar barang dan jasa, sampai menukar "harga diri" pun.

Bagaimana tidak? Karena (butuh) uang, kita akan menghalalkan segala cara agar dapat memilikinya. Kita yang mungkin jujur, ketika diperhadapkan dengan uang, akan menjadi tidak jujur.

Kita yang mungkin tidak begitu tertarik dengan uang karena memiliki konsep hidup sederhana akan menjadi tidak sederhana ketika ingin memiliki barang teknologi yang lagi muncul di pasaran. Masalah yang muncul ketika kita tidak memiliki uang kita bisa jadi pencuri misalnya.

Atau kita yang ingin bergaya hidup "simple" tapi karena di sekeliling kita, orang-orang memiliki banyak harta benda, materi, kita pun ingin dan ikut arus mereka. Kita pun bekerja dengan "menyikut" banyak orang agar cepat memiliki uang.

Harga diri kita hilang, karena prinsip kita hilang. Namun, ada konsep lain dari "harga diri" yang hilang ketika berbicara tentang uang. Ya, ketika kita menagih uang kita di orang lain. Kita yang kehilangan harga diri ketika meminta hak kita itu sendiri.

Misalnya, ketika kita membantu orang lain, yang lagi membutuhkan pinjaman uang. Ada beberapa kasus yang kualami sendiri. Aku beberapa kali ngutangin uang ke orang tapi ada yang belum dikembalikan.

Waktu "mereka" dipinjamkan uang, kita percaya, karena mereka dengan percaya diri berkata akan segera mengembalikannya. Misalnya, waktu kita ngekost, terkadang di tanggal tua kiriman sudah habis. Kita pasti mencari teman yang punya uang berlebih walau di tanggal tua tetap bisa makan enak.

Atau di saat kita sudah bekerja, ada teman bahkan sanak saudara datang meminjam uang untuk kebutuhan yang mendesak mereka. Dan mereka tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi selain kepada kita.

Jadi kita pun akan meminjam uang pada mereka. Namun, terkadang, ketika mereka sudah punya uang, mereka melupakan utangnya. Padahal, kita juga membutuhkan uang tersebut. Mau ditagih tapi kita yang ragu, malu, dan bahkan merasa tidak nyaman. Kita jadi "gregetan" sendiri.

Jadi seperti acara Reality Show, Seberapa gregetnya kamu hari ini? Kalau itu ditanya pada yang memberi utangan, seberapa gregetnya kamu hari ini? mereka (pasti) akan menjawab; dia yang utang, aku yang malu tagih.

Janji Manis seperti Kampanye

Kita si pemberi utangan hanya jadi ingat janji-janji manis mereka ketika akan meminjam; "Aku minta tolong banget.", "Bisa di TF (transfer) secepatnya, maaf, ini sudah mau tutup. Please!", "Aku akan balikin uangnya, secepatnya.", "InsyaAllah, akan saya kirim balik secepatnya", "Kalau ayahku/ibuku sudah gajian, aku langsung ngasih uang kamu.", " Tunggu aku gajian bulan depan, ya.", "Maaf merepotkan, terima kasih.", "Sehat selalu, ya, say.", dan sebagainya.

Seperti janji kampanye para politikus yang manis di awal, pahit di akhir (karena tidak terbukti dan dibuktikan). Namun, bagi para peminjam uang, di tengah-tengah mereka meminjam uang kita, ada manis-manisnya gitu, ketika kita mencoba dengan hati-hati meminta karena takut mereka tersinggung, "Gimana, say?"

Jawab mereka; "Baru ada setengah, gpp ya?", "Tunggu, ini sudah mau TF ke ATM.", "Maaf ya, uangnya masih kupake, nanti ya." , "Besok aku bayar ya.", "Ini aku lagi cari pinjaman dulu, aku tahu kamu pasti sudah butuh uangnya." , "Sabar ya, uangku belum cair.", dan sebagainya. Padahal, bukan urusan kita karena yang kita tahu, mereka seharusnya sudah membayar.

Mereka menghilangkan kepercayaan kita dari mereka. Okelah, kalau begitu kita pun tidak akan mempercayai mereka lagi. Walau sebagian dari mereka ada juga yang memang langsung membayar utangnya, sebagian lagi lupa, atau pura-pura lupa, dan sebagian lagi PHP (Pemberi Harapan Palsu).

Aku Membuat Mereka Percaya Padaku

Aku pernah meminjamkan orang uang dan juga pernah meminjam uang pada teman se-kost waktu kuliah dulu karena uang kiriman dari ayahku sudah habis. Saat itu, aku tidak berani meminta pada ayahku yang pegawai negeri itu, karena gajinya juga datang diawal bulan. Dan jatah perbulanku memang seharusnya berakhir dalam sebulan.

Kembali ketika meminjam uang teman se-kost tadi, ketika awal bulan, saat aku sudah mendapat kiriman. Uang teman itu segera kukembalikan. 

Aku tidak mungkin bisa hidup tenang ketika aku masih berutang dan lagi makan enak. Kemudian teman yang aku pinjam uangnya lewat di hadapanku. Rasanya, makanan enak bisa jadi hambar. 

Seingatku, aku hanya beberapa kali meminjam uang sama teman se-kost atau dan pada sahabatku. Selebihnya, aku diam-diam ke pegadaian memasukkan anting dan cincin untuk digadaikan karena aku memiliki rasa malu untuk meminjam terus. 

Ketika aku malu sama teman untuk meminjam uangnya, aku ke pegadaian. Ketika aku malu sama pegawai pegadaian, karena keseringan datang menggadai dan menebusnya, aku ke pasar menjual anting atau cincin itu. Pikirku, kalau ada uang, pasti barang-barang seperti itu bisa dibeli kembali.

Sehingga, ketika pulang, ibu dan nenek yang selalu memberiku barang-barang tadi selalu heran, ketika aku tidak beranting, atau dan  bercincin. Aku pasti menjawab terus-terang bahwa semuanya aku jual jika akhir bulan aku tidak punya uang. 

Mereka pun, baik ibu dan nenek memberiku, membelikanku lagi. Dan kelakuanku masih sama seperti yang sudah-sudah ketika setiap tahun pulang ke rumah. Tapi, mereka tidak pernah marah, karena mereka tahu aku kuliah di tempat yang beda pulau dengan mereka, merantau. Dan mereka percaya, aku akan melakukan yang terbaik pada hidupku di kampung orang. 

Kembali ke soal utang, aku selalu membayar utangku tepat waktu. Semoga, orang lain juga begitu. Aku pun "berjanji" tidak akan ngutangin uang ke orang lagi ketika mereka tidak bisa dipercaya alias php.

Sehingga kalau ditanya; seberapa gregetnya kamu hari ini? Hari ini aku sudah melunasi utang-utangku!

(Btw, sudah awal bulan ini, bayar utang dong, sudah gajian kan? He he...)