“I believe whatever doesn’t kill you, simply makes you stronger.”

—Joker, Batman II, The dark Knight.

Saya mengenal seorang teman yang begitu mengidolakan tokoh jahat rekaan bernama Joker. Dia mengaku sebagai jamaah Jokeriyah (paham yang mengacu pada nilai-nilai baik tak kasat mata Joker) yang separuh taat dan tidak jahat.  

Dia seorang pengikut nilai kebaikan tersembunyi yang Joker bawa. Bagi dia, Joker adalah pembawa pesan kebaikan dari langit. Joker adalah ‘utusan’ Tuhan. Sama halnya kipas angin, kopi, gigi, buku, sabun berbusa super, tisu dan sepatu yang juga adalah ‘utusan’ Tuhan. Kelaparan dan nasi kuning juga adalah ‘utusan’ Tuhan. Apapun objek yang padanya dapat membuat kita belajar memaknai keberadaan Tuhan adalah ‘utusan’ Tuhan, bukan?    

Dan dia bangga menjadi Jokeriyah yang berusaha memaknai kejahatan juga sebagai bentuk lain dari ‘kebaikan’ Tuhan.

Bagaimana caranya manusia paham lebih dalam tentang kebaikan jika tidak ada kejahatan?

Bukankah kejahatan hadir sebagai penegas kebaikan?

Maka kejahatan untuk sementara dapat disimpulkan secara nyeleneh sebagai ‘utusan’ tak kasat mata dari Tuhan bagi sebagian kita. Terkhusus kepada jamaah Jokeriyah senusantara.

Tapi tenang saja. Sebelum saya mewakili dia memaparkan keunggulan-keunggulan menjadi Jokeriyah, dia ingin tegaskan terlebih dahulu bahwa dia bukan antek-antek terorisme, kekerasan atau pencurian atau bahkan pencetus tindakan asosial. Dalam hal ini, dia masuk dalam kategori orang yang sedikit gila dan sering berdelusi melihat nilai kebaikan dari kejahatan. Dia merasa mampu melihat kejahatan melampaui kejahatan.

Apa pasal kenapa dia memilih jalan yang seberat ini?

Sederhananya paham tandingan ini dia pilih untuk melawan orang-orang yang kadang bertindak melampaui kebaikan. Mereka gemar bersorak-sorai, menghancurkan fasilitas publik—kadang-kadang—, bertindak sok-sokan dan ragam aksi lain. Kadang-kadang mereka mengokang senjata, bunuh diri di depan rumah ibadah, membakar rumah ibadah atau mengarahkan misil-misil berhulu ledak tinggi ke rumah-rumah warga sipil.

***

Sepenuh hati dia sebagai jamaah Jokeriyah menerima diri bahwa dia memang cenderung aneh dengan pilihan ini. Tapi bukankah dia menjadi normal karena mengaku aneh? Tapi seaneh-anehnya dia, begitu pula anehnya sebagian kecil orang yang menafsirkan sebuah kepercayaan dengan malfungsi pada kepalanya. Mereka sering berdelusi sebagai staf ahli Tuhan. Akhirnya tindakannya melampaui keinginan Tuhan.

/1/

Kredo Pertama

Jika jumlah orang baik yang memahami hakikat kebaikan-kebaikan semakin kurang, wajar saja jika orang jahat yang punya idealisme lebih layak diidolakan.

Seperti Dr. Quinn dalam Suicide Squad, dia pun mengidolakan Joker dalam beberapa hal sejak dari pikiran. Joker sangat otentik, dan beberapa tindakannya melampaui ‘kejahatan’. Andai saja tindakan Joker tidak merugikan orang lain—dalam kadar yang tak wajar—, tentulah dia akan mengidolakan nilai-nilai tak kasat mata yang Joker bawa dengan sepenuh hati dan setengah mati.  

Bagi dia Joker adalah penjelmaan de Sade dan berhasil melampaui Eichman (seorang tentara yang berperan besar dalam Holokaus) dalam terminologi Hannah Arendt.

Joker hidup dengan kejahatan yang bertaji. Taji itu terlihat tatkala eksperimen sosialnya mampu membuat penonton di bioskop tersentak. Bayangkan saja ketika Joker membuat pilihan rumit bagi penonton dalam menilai kebaikan dan kejahatan, gairah dan kesenangan. Tidakkah dalam hal ini, Joker menjadi sedikit lebih mulia dari penganjur paham-paham kebencian yang membuat orang jadi tak berpikir?

Dalam film Batman II, The Dark Knight, ada potongan kejadian di mana Joker memberi pilihan bagi orang-orang di dua kapal berbeda. Satu kapal dipenuhi para orang-orang yang sepertinya baik, dermawan dan kaya. Kapal yang satunya dipenuhi para tahanan dengan kejahatan-kejahatan terburuk yang pernah mereka lakukan. Masing-masing kapal diberi pemicu ledak. Kapal satu diberi pemicu ledak untuk meledakkan kapal yang lainnya. Jika tidak ada yang memilih meledakkan satu sama lain maka Joker yang akan meledakkan kedua kapal.

Pilihan mereka menjadi sangat sederhana. Membunuh atau dibunuh atau mati bersama. Tak ada pilihan lain. Dan selanjutnya terlihatlah bahwa pilihan penonton terhadap suatu tindakan mencirikan sifat aslinya.

Bayangkan saja, kira-kira bagaimana benturan nilai-nilai yang dianut tatkala disambar keadaan demikian. Tapi itu menjadi hal yang wajar bagi jamaah Jokeriyah. Setiap hari jamaah Jokeriyah terbiasa membenturkan nilai-nilai—yang dianggap—sebagai persepsi kebaikan atau kejahatan yang dianut dalam lingkungan tertentu dengan kondisi-kondisi alamiah manusia jika berada dekat dengan kematian. Bagi pengikut Jokeriyah dan sesuai motto Joker, tak ada kata berhenti untuk melawan kebuntuan anggapan kebaikan yang klise tanpa alasan dengan nilai-nilai baik dari kejahatan yang bertaji.

Kredo kedua

“Pikiran yang kejam tidak diperlukan untuk melakukan suatu kejahatan yang brutal. Kejahatan yang brutal bisa mengambil rupa wajah orang baik-baik, orang-orang biasa.”

Kredo kedua ini setidaknya mengajarkan kita agar waspada. Kejahatan di sekeliling kita bukan hanya berpotensi dilakukan orang bertampak seram, preman atau sederet gimik dengan konotasi serupa. Bahkan orang dengan dandanan rapi dan tampak alim juga punya peluang yang sama melakukan tindakan kejam dan brutal. Coba lihatlah di sekeliling kita. Tindakan keji—merampas hak orang lain—seperti korupsi bisa saja dilakukan oleh orang yang berjas dan bersepatu mengkilat. Atau bahkan mereka yang beribadah dengan rajin bisa menjadi pembunuh.

Dalam bahasan sub bagian kredo kedua ini, saya mewakili dia yang seorang Jokeriyah akan membahas lebih terperinci bahwa kejahatan tidak selalu terkait dengan orang jahat. Orang baik pun dalam keadaan tertentu bisa melakukan tindakan yang jahat.

Adalah Adolf Eichmann, seorang tentara Nazi yang terlibat dalam kasus pembunuhan pada orang-orang Yahudi. Setelah melarikan diri ke Argentina, akhirnya ia ditangkap dan dibawa ke pengadilan Yerussalem, Israel.

Sebelumnya orang-orang menganggap Eichmann pasti adalah orang yang pada dasarnya kejam dan biadab. Tak mungkin orang baik bisa melakukan hal tersebut. Sudah pasti pikiran-pikirannya dipenuhi kebencian. Pastilah ia adalah penjelmaan setan. Pastilah ia tak memiliki lagi rasa kemanusiaan dalam dadanya.

Berbeda dengan anggapan kebanyakan orang, salah satu filsuf berdarah Yahudi, Hannah Arendt melihatnya dari sudut pandang lain. Di mata Arendt—setelah mengikuti sidang yang bertujuan untuk mengadili tindakan Eichman dalam peristiwa Holokaus sampai selesai—, ia menyimpulkan sesuatu. Bahwa orang biasa, dandanan wajar dan berpikiran baik mampu melakukan kejahatan brutal terhadap manusia lainnya, tanpa merasa benci, ataupun merasa bersalah.

Argumen Arendt ini seringkali disebut dalam terminologi banalitas dari kejahatan. Artinya suatu situasi, di mana kejahatan tidak lagi dirasa sebagai kejahatan, tetapi sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, sesuatu yang wajar dan tak apa-apa jika dilakukan.

Argumen ini Hannah Arendt dapatkan juga dari hasil pengamatannya terhadap orang-orang Jerman biasa selain tentara Nazi. Orang jerman biasa kala itu umumnya dapat dianggap tidak memiliki pikiran jahat, atau bukan tipikal manusia yang tak berperikemanusiaan. Tetapi mereka berpartisipasi aktif di dalam suatu tindak kejahatan brutal dalam peristiwa yang dikenal sebagai Holokaus. Argumen ini jugalah yang mengagetkan para pembaca pendapat-pendapat Hannah Arendt tersebut. Apakah argumen ini benar tidak hanya untuk kejadian tersebut?

Kunci untuk memahami perilaku Eichman dan masyarakat biasa yang terlibat kala itu adalah ketidakberpikiran dan kekurangpekaan imajinasi. Ketidakberpikiran seseorang—misalnya ketika ia melakukan tindakan dengan mengekor saja pendapat tertentu—membuat suatu tindakan menjadi wajar baginya, termasuk tindakan yang mengerikan.

Eichmann adalah orang biasa seperti kebanyakan kita. Ia juga cerdas dan patuh. Wajar saja jika kita awalnya menduga bahwa tidak ada niat jahat ataupun bakal perilaku kejam di dalam dirinya. Tapi siapa yang menduga kalau Eichman adalah salah satu orang yang berperan besar dalam peristiwa Holokaus?

“Ketercabutan dari realitas semacam itu dan ketidakberpikiran semacam itu”, tulis Arendt, “dapat jauh lebih merusak dari semua insting jahat dijadikan satu.. dan semua ini ada di dalam diri manusia.”

Ketidakberpikiran dan kekurangpekaan imajinasi adalah sisi gelap manusia yang menjadi sumber dari lahirnya kejahatan. Tidak mengherankan, kita dapat menganggap mungkin inilah kejahatan khas abad keduapuluh--dan dua abad dua puluh satu) yang, menurut Arendt, tidak pernah ditemukan sebelumnya.

Dia yakin banyak orang seperti Eichmann. Mereka bukan orang gila. Mereka bukan orang kejam. Mereka orang-orang yang amat normal, dan karena normalitasnya, mereka menjadi menakutkan. Mereka adalah orang-orang yang tak berpikir dan tak memiliki kepekaan yang tinggi pada imajinasinya.

Inilah yang selalu dilawan oleh pengikut jokeriyah dalam pikirannya. Jokeriyah ada sebagai paham pembentur perilaku yang dianggap baik yang tidak disertai pikiran yang jernih. Karena bagi pengikut Jokeriyah, jika tidak bisa menempatkan diri dalam kondisi orang lain, maka imajinasinya sungguhlah tak peka.

Oleh karena itu, wajarlah kita waspada akan kejahatan-kejahatan yang mungkin berkelindan dari orang-orang yang dandanannya kelihatan baik. Berbeda dengan Joker yang melalui dandanannya selalu terlihat tersenyum dan seperti badut sungguh menyadarkan kita bahwa, ia punya visi tak terlihat yang lebih baik dari dandanannya.

Jokeriyah untuk Indonesia

Belajar dari Arendt untuk menyadarkan kita bahwa kejahatan dan kebrutalan bukan melulu hanya berkaitan dengan orang yang seram dari dandanannya, kita bisa menemukan dua ciri mendasar dari fenomena kebrutalan yang dilakukan dengan anggapan dasar pelaku bahwa hal itu baik dan wajar.

Yang pertama adalah ketidaklengkapan persepsi dari pelaku tentang korbannya. Orang bisa menculik, menyiksa, dan memotong-motong tubuh orang lain, karena ia merasa bahwa orang tersebut adalah bukan manusia, melainkan sebagai musuh yang harus dihancurkan sesuai anjuran penafsir kitab suatu kepercayaan.

Yang kedua adalah ketaklengkapan imajinasi tentang korbannya. Orang bisa melakukan banyak tindakan jahat dan tak mampu mengimajinasikan dirinya berada di posisi si korban. Imajinasi yang tak lengkap tersebut dan ditutupi persepsi yang salah akan membuat si pelaku merasakan hal yang dilakukannya wajar-wajar saja.

Joker sebagaimana adalah ‘utusan’ Tuhan, telah mengajarkan kita tentang kekuranglengkapan cara kita melihat sesuatu. Kekuranglengkapan persepsi menurut penganut Jokeriyah mengaburkan pandangan orang tentang dunia dan sekeliling. Hal tersebut akan berdampak tak baik bagi orang lain.

Joker selangkah lebih maju dalam tindakan-tindakannya. Ia tak menutup imajinasinya, tapi mengikutsertakannya. Joker justru membayangkan perasaan dan ketakutan korbannya. Ia melakukannya karena gairahnya. Di sinilah titik balik bagi refleksi kita untuk bertanya. Jika tindakan kejahatan bisa sefilosofis itu, mengapa tindakan kebaikan tidak dilakukan dengan hal yang sama filosofisnya?

Analogi Joker untuk Kita

Anggapplah seekor monyet melihat ikan dalam sebuah akuarium. Karena menganggap si ikan tenggelam, si monyet mengangkat si ikan dari air lalu menaruhnya di meja. Ikan itu menggelepar-gelepar sebelum akhirnya tak bergerak sama sekali. Akhirnya si monyet justru membunuh si ikan. Niat awal monyet adalah menolong si ikan.

Pesan Joker untuk Jokeriyah senusantara yaitu agar jangan sampai seperti monyet dalam analogi di atas. Karena itu Jokeriyah menyarankan pada masyarakat-masyarakat tentang pentingnya berpikir kritis dan reflektif di dalam bertindak dan memahami beberapa hal di dunia, di Indonesia, di kampung dan di dalam diri sendiri.