Ada beberapa karakter dinilai “jahat” di film atau buku, tidak hanya antagonis. Tapi juga ada protagonis yang tidak selalu baik atau bertingkah seperti antagonis, ini dikenal sebagai anti-hero.

Setelah mengetahui cerita kehidupan mereka dari sudut pandang mereka, membuat saya sedikit menilai mereka berbeda. 

Seperti cerita di balik kehidupan karakter antagonis dan anti-hero yang ternyata sangat memilukan sehingga terkadang membuat saya simpati dan empati juga lebih mengerti dari mana sifat kebencian, dan kemarahan mereka datang.

Dari mana sifat “jahat’ itu datang? 

Setiap orang dengan kepribadian yang berbeda, penampilan yang berbeda, dan juga latar belakang kehidupan yang berbeda mencoba berinteraksi, maka semakin besar kemungkinan kita menyebabkan kesalahpahaman karena  perbedaan pendapat, juga dari gampangnya kita menilai orang lain sekilas melalui penampilannya dan sikapnya tanpa data yang jelas.

kesalahpahaman ini bisa menyebabkan konflik dan juga perasaan benci.

Apa yang sebenarnya membuat kita memberikan reaksi negatif kepada orang lain?, apa karena kita kurang mengerti sifat mereka, sehingga saat kita berkomunikasi ada rasa tersinggung dari ucapan kita? atau mereka menilai ada sikap kita yang kurang sopan di mata mereka tanpa kita sadari? Apakah kita harus mengikuti semua aturan orang “baik” pada ukuran standar setiap orang? kebanyakan dari mereka tidak mengetahui detail seluruh cerita, juga tidak memahami sudut padang orang lain, dan tidak tahu pasti kepribadian setiap orang.

Beberapa waktu lalu saya membaca status di twitter dari seorang istri, yang menceritakan suaminya yang waktu itu sedang berada di luar rumah.

Sang suami memberi tahu istri “Ma, saya makan di luar rumah, kamu tidak perlu masak”, lalu setelah itu suami pulang ke rumah dan langsung tidur, si istri merasa kecewa, karena dia belum makan dan dia kira bahwa suaminya menyuruhnya tidak memasak, itu artinya akan dibelikan makanan tapi ternyata tidak.

Banyak netizen yang berkomentar saling menyalahkan dari sudut istri atau suami.

Seperti, “ini salah suami yang selalu memikirkan dirinya sendiri bahwa istri hanya memasak untuk suami” , ada juga yang berkomentar “ini salah istri yang kurang komunikasi”.

sebenarnya siapa yang salah?

Inilah bagian sulit, menentukan siapa yang salah dan siapa yang benar.

saya ingat pernah membaca kalimat seperti ini “hanya karena kamu benar bukan berarti saya salah, kamu tidak melihat dari sudut pandang saya”.

Dari pada meributkan siapa yang benar dan siapa yang salah, kita bisa mencoba memberikan pengertian kepada orang lain, dari sudut pandang kita masing-masing dan menemukan jalan tengah yang lebih damai.

Selain pentingnya melihat masing-masing sudut pandang setiap orang, kita juga perlu melihat keseluruhan cerita sebelum menilai orang lain.

Coba kita pahami sebuah cerita dari internet berikut ini.

“Ada sebuah kapal mengalami kecelakaan di laut, di kapal itu ada sepasang suami istri.

Setelah sekoci penyelamat datang, mereka sadar bahwa hanya satu orang yang bisa naik ke sekoci itu, dan seketika itu si suami mendorong istri ke belakangnya dan dirinya sendiri langsung melompat ke sekoci, si istri yang masih berada di kapal yang hampir tenggelam itu pun berteriak pada suaminya”.

Pertanyaanya, apa yang diteriakkan sang istri? pasti kebanyakan orang akan menjawab “kok tega kamu mas?” atau “aku benci kamu”, bisa juga “aku akan menghatuimu mas”, dan umpatan lainnya, tapi apakah kita sudah mengetahui seluruh ceritanya?

Nah sebenarnya saat sepasang suami istri itu pergi naik kapal, sang istri sudah di diagnosa penyakit parah, dan saat di situasi darurat tersebut si suami langsung bergegas mengambil kesempatan untuk bertahan hidup, untuk siapa? Untuk anaknya.

Dan yang diteriakkan oleh istrinya itu, jawabannya adalah “tolong jaga anak kita mas”.

Bahaya sekali menghakimi orang lain padahal kita tidak tahu keseluruhan cerita di balik sikap mereka.

Saya juga sering mendapat kesalahpahaman dengan orang-orang di sekitar saya, dan tidak tahu bagaimana cara menghadapinya.

Misalnya tetangga saya selalu bilang bahwa saya adalah orang sombong, tidak pernah menyapa mereka saat bertemu, tidak pernah mengikuti kegiatan sosial di lingkungan rumah, padahal nyatanya saya adalah orang yang sangat introvert dan bahkan tidak punya nyali menjemur pakaian di teras rumah juga membersihkan teras.

 

Atau bisa jadi, kita bertemu dengan orang asing dalam satu hari, tapi hari itu merupakan hari yang melelahkan, sehingga menyebabkan kita agak bad mood, dan akibatnya, kesan pertama kita menjadi jelek di mata mereka.

Walaupun di sisi lain ada yang tersinggung atau sakit hati dari sikap “jahat” ini, apakah masih perlu untuk lebih mengerti apa cerita di balik karakter “jahat”ini?

Tapi tidak semua orang ingin mengetahui cerita masing-masing orang, dan tidak semua orang juga ingin menjelaskan alasan di setiap sikap mereka, dan jikapun orang–orang tahu, belum tentu mereka mengerti.

Kesalahpahaman ini bukan sesuatu yang bisa kita hindari setiap muncul dalam situasi apapun, lalu bagaimana cara menghadapinya?

Pendapat saya, mungkin kita bisa lebih bermurah hati lagi untuk mengerti keadaan orang lain, mencoba menganilisa, mencari tahu alasan dari sikap atau ucapan orang lain tersebut, sebelum menyimpulkan sesuatu atau mengambil tindakan.

Perlunya juga simpati dan empati untuk menghadapi orang lain, dan jika argumen terjadi jangan memaksakan diri untuk saling “memenangkan” argumen dengan menunjukan apa yang salah dan apa yang benar.

Ada juga beberapa kesalahpahaman dan argumen yang tidak berakhir bahagia, itu tidak apa-apa, kamu bisa memecahkan masalah itu lain kali dengan kepala dingin, atau sedikit memberikan jarak supaya masalah tidak menjadi lebih besar karena tekanan untuk harus memecahkan masalah saat itu juga.

menjadi salah satu sisi yang bermurah hati juga ada batasnya, kamu bisa mencobanya lagi di lain waktu.

Sebenarnya di kehidupan ini, semua orang pasti saling menilai satu sama lain secara sadar ataupun tidak, ya namanya juga manusia, saya pun juga sering seperti itu, menilai seseorang hanya dengan sekilas walaupun tidak punya tujuan yang buruk sekalipun, menilai seseorang itu selalu kedengarannya negative.

semoga tulisan saya bisa menjadi pengingat untuk belajar lebih memahami cerita dibalik sikap orang lain sebelum menilai orang lain “jahat”.