Al-Azhar Cairo PLG
4 bulan lalu · 212 view · 4 min baca menit baca · Cerpen 61544_65314.jpg

Dia atau Dia?

Ini aku. Seorang yang sangat suka berkhayal. Entah itu berkhayal tentang mimpi ataupun berkhayal tentang masa depan. 

Dan, suatu hari, saat aku sedang asyiknya berkhayal, tiba-tiba aku didorong oleh seseorang. Mengagetkan saja! Khayalanku terpotong karena dia. Sebenarnya sangat kesal, tapi jika tidak dihentikan aku bisa ditabrak oleh truk.

“Kalau jalan itu hati-hati. Seenaknya saja jalan, memangnya jalan ini punyamu?” protesnya. 

Kutatap dia, seragam sekolahnya sama denganku. “Siapa kau?” tanyaku.

“Baiklah, kalau ini maumu. Kuperkenalkan aku Adnan Adhani,” jawabnya.

Aku melangkahkan kakiku. Suara derap kaki dapat terdengar karena sekarang aku berada di tempat yang sepi. Rasanya aku capek menghadapi realitas. 

Mengapa semua ini hanya terjadi padaku saja? Apakah tidak ada yang lain yang sama denganku? Tentu saja, itu karena aku berada di 2 garis yang berbeda. Bingung rasanya jika aku harus memilih di antara keduanya. Apakah aku harus memilih dia atau dia?

Flashback

Aku Ananta Sandrina. Biasanya aku dipanggil Nanta. Aku selalu saja suka melamun, entah apa yang spesial tapi tetap saja kegiatan itu selalu ada. Hingga suatu hari, seseorang berhasil mengalahkan lamunanku itukan diriku ini, “Adnan Adhani,” ujarnya. Oke, namanya Adnan.

“Buat apa kamu di sini? Bukannya kamu ini adalah tim pramuka yang termasuk dalam bidang penting?” tanyaku.

“Itu karena aku harus jajan dulu. Sekalian ingin memberitahukan ke orangtua juga. Eh, kamunya malah melamun sambil jalan. Pake acara enggak lihat truk lagi. Untung ada aku, coba tidak, kamu bakal digilas jadi adonan tuh,” jawabnya. 

Kuakui orangnya sangat humoris. Tapi, itu hanya berlaku sebentar. Dia terkenal oleh cewek-cewek di kelasnya. Yang kutahu dari temanku, dia menyukai salah seorang murid perempuan di kelasnya, Alya.

“Kenyataannya, dia enggak bakal menyukaimu, pertolongan itu juga hanya keberuntungan saja,” ujar temanku, Keysha.

“Ya, sejak dia tahu kalau aku menyukainya, dia tidak pernah menyapaku sama sekali. Ternyata memang benar kalau dia tidak menyukaiku. Dia menyukai orang lain. Mungkin saja, saat itu aku hanya jadi bahan pelampiasan,” ujarku. 

Baiklah, dia menyukai yang lain, aku biasa-biasa aja. Toh, mungkin kita masih belum ditakdirkan. Lebih baik, aku membiarkannya saja. Namun, selalu saja ada anak yang membuat gosip tentang hubunganku dengan Adnan. Ya Tuhan, mau mereka apa? Hingga pada suatu hari, aku mendengar suatu gosip yang sangat menyakitkan hatiku.

“Eh, dengar-dengar si Adnan udah pacaran sama si Alya,”

“Hah? Yang bener? Lalu si Nanta gimana?”

“Katanya sih si Adnan pernah marahi si Nanta gara-gara si Nanta sering ngejar dia. Lalu Adnan ilfeel sama Nanta dan berpindah ke Alya,”

“Kayaknya sih ya, si Adnan emang udah suka sama Alya sejak dulu, cuma si Alya-nya aja tidak peka. Lalu si Nanta datang dan Adnan jadiin Nanta bahan pelampiasannya deh,”

“Apa? Pelampiasan? Pasti sakit banget tuh ya. Bayangkan kalau jadi Nanta, mungkin aku udah bunuh diri karena enggak kuat menahan realita,”

Aku terkejut. Apa benar perkiraanku selama ini? Aku hanya menjadi bahan pelampiasan saja. Sementara, perasaanku selama ini tidak pernah diperhatikan. Aku memegang dadaku. Jadi, selama aku ada di sini, aku hanya dianggap ada sebentar saja? Maaf Adnan, aku harus menjauh darimu.

Selain itu, aku juga pernah dimarahi olehnya. Ya, bukan marah sih, cuma ditegur saja. Ini karena aku sering bertemu dengannya. “Maaf, kali ini jangan pernah mendekati aku lagi,” kata-kata itulah yang membuatku jauh darinya. 

Baiklah, lagian sudah akhir semester dan aku akan bertemu dengan orang lain yang lebih pantas untukku. Semoga harapan itu selalu ada dan sesuai. Setelah liburan akhir semester.

Apa kabar? Ini masih dengan ceritaku. Sekarang sudah saatnya aku membuka lembaran yang baru. Aku bersiap-siap melangkahkan kaki masuk di sekolah. Aku bertemu dengan kawan lamaku. 

Aku duduk dan berdiri di teras depan. Saat aku menoleh ke arah samping, aku melihat dia masuk ke dalam kelas yang tepatnya berada di samping kelasku. Apakah ini kesialan atau keberuntungan?

Hari-hari berjalan seperti biasa. Aku berkenalan dengan teman-teman sekelasku. Sekarang, aku bertemanan dengan seorang murid laki-laki, dia adalah Layreno Jessgerbert. Biasanya orang-orang memanggilnya Adhan. Tapi, aku memanggil dia Dhan, karena lebih enak didengar dan lebih sesuai dengan sikapnya.

“Dhan,” panggilku.

“Apa sih? Minta tolong yang MTK?”

“Ya. Aku bingung yang ini, susah banget!” seruku. Adhan juga pintar dalam akademis.

“Oke, jadi ini ditambah ini dan ini tambah ini…,”

Omong-omng soal Adnan, aku tidak pernah tahu kabarnya. Yang jelas, kabar terakhir yang kudengar adalah dia sekelas dengan orang yang disukainya dan makin lama penggemarnya sangat banyak. Ya, kuharap dia bisa lebih bahagia dibandingkan aku yang masih mengaguminya secara diam-diam.

Saat ini, aku masih menutupi hatiku. Aku tidak mau jatuh cinta duluan. Rasanya sakit jika suatu saat aku tahu bahwa aku adalah seorang pelampiasan, seorang pelarian. Aku tak mau jika itu terjadi. Saat ini, aku berjalan bersama Adhan. Ini karena kerja kelompok dan anggota kami pada kabur semua dan tersisalah kami berdua.

Saat itulah, aku dan Adhan bertemu dengan adiknya Adhan, Ardi. Adiknya masih kecil. Sekitar 4 tahunan gitu. Adhan menggendong adiknya yang masih kecil itu. Aku melihat ke arah mereka. Adiknya sangat imut, aku sampai mau mencubitnya. Adhan mendekati adiknya kepadaku.

“Hoi!” Adhan mengagetkanku.

“Ihhh… Adhan!!! Apa yang kau lakukan? Aku sampai kaget,” seruku. Adhan menggendong adiknya dan berjalan menuju lorong sekolah. Aku mengikutinya.

“Habis kamu melamun sih, entar ketabrak, kamu baru tahu,” katanya. Aku tersentak. Kepalaku memutar kembali ingatan saat pertama kali aku bertemu dengan adnan. Dimana, Adnan menyelamatkanku dari tabrakan maut. 

“Dan,” suara itu mengagetkanku lagi. “Aku tak mau kalau itu terjadi,” sambungnya.

“Kakak, beli permen yuk!” ajak Ardi. Adhan mengangguk. Ardi bergerak senang di gendongan Adhan. Aku tersenyum melihatnya. Tiba-tiba, sandal Ardi terlepas. Aku berhenti dan membungkuk dengan tujuan mengambil sandalnya, bertepatan pula Adhan juga melakukan hal yang sama. Kepala kami terantuk.

“Aw!!” jeritku. Aku memandang ke arahnya. Kami terdiam sesaat. Ardi hanya tertawa kecil.

“Pasti akit kan?” tanya Ardi. Kami menoleh ke arah Ardi. Lalu tertawa.

“Ya iyalah. Masa enggak sakit,” Adhan memasangkan sandal Ardi. Adhan menggendong Ardi lagi. Ardi tertawa di gendongan Adhan. Aku pun mengikuti Adhan sambil tertawa. Tingkah imut Ardi membuatku lupa bahwa sekarang, aku sudah melampiaskan seseorang yang bahkan sudah bisa membuatku tertawa lepas untuk kedua kalinya, selain dia.

Artikel Terkait