(Maha) siswa
6 bulan lalu · 359 view · 4 menit baca · Agama 39292_67376.jpg
Wikepedia.org

Di Zaman Gila Ini Kita Harus Gila

Dulu saya paling mendewakan orang-orang yang saya anggap suci. Meskipun seperti orang katakan, hijau luarnya, merah dalamnya. Tapi, sikap saya berubah ketika ada seorang ustaz-politisi ketahuan korupsi, menipu dengan modal tampang suci. Luluh lantak kepercayaan yang saya bangun. Ternyata di zaman gila harus ikut gila, ya.

Betapa hipokritnya manusia-manusia saat ini. Semuanya harus ditanggalkan demi tuhan baru bernama jabatan. Saya tak begitu meyakini sejak awal, bahwa di organisasi yang katanya mempunyai slogan; berteman lebih dari bersaudara ternyata saling senggol, Saling menjatuhkan. Slogan tinggal slogan,  yang terkatakan berbanding terbalik dengan apa yang terjadi.

Dunia  terbalik. Mengutip judul sinetron yang paling digandrungi ibu-ibu rumah tangga. Mau dipungkiri atau tidak, dunia kita seperti telah mengalami terbit matahari dari barat dan tenggelam di ujung timur, lebih lengkapnya terbit di Aceh, tenggelam di Papua yang kemarin ribut masalah Freeport. Sampai-sampai, ibu-ibu dan bapak-bapak lupa perannya masing-masing.

Di dunia yang sudah terbalik, kita memang dituntut gila. Jika tidak gila, dipastikan jadi tidak kebagian roti. Bagaimana tidak, orang-orang sudah terpuaskan dengan hanya kenyang sendiri meski di sekitarnya lapar melanda. Asas gotong-royong, apa sekadar dimaknai dalam arti saling tolong menolong jika ada imbalan. Saya tidak tahu itu. Yang pasti kita dituntut gila. Gila dalam artian harus berpikir jernih melihat peluang seperti Mr. krabs yang menjadikan pekerjanya bernilai uang.

Harus menjadikan orang lain sebagai korban terlebih dahulu, sebelum jadi korban. Saat seperti ini berlakulah ungkapan Hobbes, Homo homini lupus.  Mau minta tolong benerin rumah, genteng bocor dan sebagainya semuanya harus dihitung uang. Ikhlas dan menolong secara sukarela bukan zamannya. " Bro, zamannya sudah berubah," kata temanku. Di zaman gila, kita harus menendang.

Hobbes yang mengungkapkan itu memang sudah tahu watak asli manusia. Watak aslinya saling menyingkirkan. Tapi, karena agamalah manusia bisa jinak. Bagaimanakah ketika beragama tidak jinak juga? Saling mengkafirkan, menyalahkan yang tak seiman dan tak sewadah. Saya pikir, itulah mengapa, Tuhan memerintahkan kita berlindung dari manusia yang hatinya setan atau setan yang berwujud manusia.

Zaman kegilaan memang sulit membedakan mana yang benar-benar gila dan tidak. Mana yang setan dan pura-pura jadi setan. Sebab, semuanya sudah sama. Sama rata, sama rasanya. Tak pura-pura jadi setan, kita dianggap polos. Saya kira betul, ucapannya Tan Malaka, di hadapan Tuhan ia beragama, di hadapan manusia ia komunis. Sebab tidak tahu mana setan, mana juga manifestasi Tuhan.

Zaman kegilaan identik dengan zaman materialisme. Zaman di mana semuanya diukur dengan bisnis menjanjikan. Jangan tanya, kekuasaan untuk apa. Untuk memperkaya dirinya sendiri. Ucapan yang seolah-olah mewakili suara Tuhan hanya ada di panggung debat politik dan orasi kebangsaan yang tak pernah menyentuh sisi terdalam bangsa.

Orang ikhlas di zaman kegilaan adalah orang polos. Begitulah kata teman-teman diskusi di limited group HMI. Tak ada salahnya pernyatan itu. Memang kenyatan sudah demikian. Dalam konteks Nusantara, dulu masyarakatnya dikenal dengan masyarakat gotong-royong. Tapi berubah ketika generasinya menjadi berpikir realistis nama agung dari matre. Akibat dari sistem yang tak berpihak, ciri khas ikut tergerus.

Sistem kapitalisme yang terlalu mementingkan diri sendiri adalah biang keladinya. Ia ada karena sengaja dipelihara oleh manusia-manusia bermental setan. Pemuasan diri serta enggan melihat sekitarnya jadi patokan utamanya. Maka tak heran ada ungkapan, saya bekerja mereka tidak. Orang-orang lemah semakin terjepit.

Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin papa. Ungkapan populis sekaligus pesimis. Mengapa Tuhan ciptakan orang-orang miskin? Pertanyaan ini muncul ketika merasa Tuhan tak adil. Saya sadar, benar kata dosen yang kadang muncul sifat kelakarnya suatu hari di ruang kuliah,  Tuhan tak sekejam itu. Sampai akhirnya, saya tanyakan lagi, orang miskin bukan sekedar jadi pelengkap kepentingan mereka, kan Tuhan?

Robbanaa maa khalakta hadza baatila. Ucap saya suatu ketika setelah mengamati pasar dengan segala kegiatan dan harapan orang-orang tertindas disana. Saya tetap membenci sistem yang menjepit mereka. Saya juga berpikir, sekedar membenci sistem tak mengubah keadaan. Sekedar memolesi retorika dengan ungkapan bernada populis ketika diskusi adalah kenaifan. Ini kerjaan orang-orang intelektual seperti aktivis-aktivis yang pura-pura membela, kan?

Sekedar ikut gila di zaman gila tak membuat kita jadi gila. Sebab, kita tetap sadar. Saya kira dari titik inilah kenyataan terbaca. Ikut gila untuk mencari solusi keluar dari kegilaan. Hanya orang gila yang sadar bisa keluar dari kegilaan. Muhammad SAW konon katanya hadir di tengah-tengah kegilaan, sebelum akhirnya, ia mendapat petunjuk dari Tuhan. Iqra' perintah pertama,  bahwa keadaan harus diperhatikan dan diresapi batinnya.

Orang yang tak ikut gila atau ikut gila tapi tak sadar dari kegilaan adalah orang-orang rugi. Orang-orang langit yang tak mau tahu dimana pijakannya di bumi. Ia rugi karena waktunya dihabiskan hanya untuk jadi ikan mati, Mengapung di atas permukaan air. Yang akan habis takdirnya di wajan penggorengan jadi santapan. Masih untung, jika jadi sperma atau vitamin. Bagaimana jika jadi feses? Tamat sudah.

Zaman kegilaan menuntut keadaan kita. Menuntut jadi pelacur sebelum akhirnya jadi wali. Menuntut juga memahami, dunia tak senyaman daun kelor dan tak sepedih yang dibayangkan. Hai orang-orang beriman, kunjungilan Tuhan demi keridhaan-Nya. Bilanglah pada-Nya. Segala keunggulan-Nya tanpa cacat, Segala ciptaan-Nya begitu harmonis namun mahluk-Nya bernama manusia sering menyobek tenunan-Nya.  

Yunus as adalah pelajaran bahwa zaman gila tak boleh ditinggalkan. Dan Muhammad SAW adalah bukti keluasan hatinya di tengah-tengah masyarakat gila. " Tuhan, saya tak membedakan mereka"saya catat di Qureta.  Di zaman gila memang harus ikut gila, supaya tahu solusinya dan keluar dari kegilaan.