Kala mentari menampakkan wujudnya, secercah cahaya membangkitkan asaku.

Ketika rembulan mulai mengintip malu-malu
Terkadang aku mampu tegar, kadang gundah, keduanya menjadi satu.

Kumpulan rasa yang biasa ku tuangkan dalam larik-larik sendu.

Kupandang sebatang pohon dan merpati, bercengkerama dari balik jendela.

Nuansa romansa begitu jelas membuai keduanya.
Seakan aku mendengar bagaimana, mereka menyatakan sumpah setia.

Untuk bersama-sama selamanya.


Musim berganti, waktu pun tak bisa tinggal diam.
Si merpati beranjak, meninggalkan sang pohon tanpa pesan.

Dalam kegamangan, keceriaannya hilang, dan raut wajahnya memusam.

Rantingnya kering, dahannya layu, warna batangnya berpudaran.

Hari ke hari, siang dan dalam, ia jalani tanpa arti.
Meski sekuat hati bertahan dalam terpaan badai dan hujan,

tetapi tetap tak mampu ia melawan kerinduannya sendiri.

Mengais sisa-sisa rangkaian mimpi dan harapan.
Setetes air mata tumpah tanpa diminta.

Tatkala cerita pohon dan merpati sampai di ujung cerita,

yang tanpa ada rasa saling kepercayaan, cinta kandas bersama nestapa.


Menyesal tiada lagi berguna.
Aku menitip janji kepada embun esok yang akan datang.

Bahwa setidaknya, ia akan sedikit menyejukkan hati yang kerontang.

Sekaligus aku titip pesan kepadanya yang tersayang.

Lekaslah datang. Tanpamu, separuh gairah dan hasratku kini mengilang.

Adalah namamu yang memiliki berjuta arti di dalam hidupku.

Tapi untuk saat ini, dalam remahan puing-puing penantianku,

hanya lewat angkasa akan ku curahkan setiap kata yang belum semua sempat terucap.


Adakah Harapan Itu

Ku sambangi gugur bunga pada celah-celah tirai yang ternganga.

Memadukan antara asa dan kesinisan yang saling memusuhi.

Ku temukan secarik lembar bertuliskan pesan terbakar semburat pendar cahaya.

Yang selamanya tak pernah bisa ejakan.


Bagaimana aku bisa memejamkan kembali mataku malam ini.

Sedang tabir perjalanan membeku, menjadi butiran kekosongan.

Seperti yang pernah ku saksikan melalui kealpaan tangga lagu.

Tolonglah, bagaimana aku akan mampu menjadi seorang aktor di dalam imajinasiku lagi.


Apakah di luar sana akan ku dapatkan setapak jalan.

Paling tidak, aku bisa terus berjalan-mengikuti akhir yang diingininya.

Barangkali ada juga ternak-ternak liar akan menemani pulas tidurku.

Di bawah terjangan matahari yang menghangatkan keabadianku.


Simfoni Yang Hilang

Sekelumit misteri, satu per satu usai kita uraikan.

Kita, adalah pengendali ruang dan masa yang tak pernah terkenang.

Di ujung waktu yang telah kita tentukan, tiada penyesalan yang luput menemui ujung.

Kita, lebih daripada misteri yang pernah terjumpai.


Mungkin kita tak akan pernah bisa, menyaksikan sepasang bocah laki-laki dan perempuan tumbuh bersama-sama.

Tetapi, memilihkan takdir untuk itulah yang paling tepat.

Di ujung waktu yang telah kita tentukan.

Bayangan pada segala awalan yang pernah menganteri,

Pada akhirnya, kita sendirilah yang mengentikan seluruh simfoni penghujung malam.


Yang Tak Terlihat

Seorang berjanggut lebat duduk di antara bebatuan yang dialiri sungai.

Matanya terus menatap ke sekililing dengan rakusnya.

Mulutnya tak luput berhenti mengucapkan mantra-mantra.

Hanya dia dan Tuhan yang dapat mendengar apa yang diucapkannya.


Sepasang camar tak dinyana hinggap pada salah satu ranting tua.

Mengibas-ngibaskan ekornya lalu bersiul mesra untuk pasangannya,


Wajah pria itu memerah bagai api yang murka.

Sesaaat dia beranjak membawa tongkat berwarnakan putih bernoda-seputih janggutnya, meski tubuhnya masih sekokoh batu.

Dengan hati-hati dia melangkahi bebatuan berlumut.

Riak air seolah berjalan lebih lambat dari sebelumnya.


Dia berlabuh di suatu tempat yang tak jauh dari gubuk tuanya.

Dia membuat nyala api unggun,

Meski pada jam 5 sore matahari masih terlalu terik hari itu.

Dalam benaknya, pria itu hendak menghanguskan rerumputan liar.


Entah bagaimana, dia justru mematikan api yang sudah membesar.

Kali ini perhatiannya mengarah kepada ternak kelincinya.

Tergopoh-gopoh dia mengancurkan kandang kelinci yang dibangunnya sendiri.

Berhamburan seluruh yang ada di dalamnya.


Akhirnya dari dalam tas persehi, dia mengeluarkan secarik kertas, pulpen, spidol yang selalu dibawanya.

Si pria berjenggot mulai menulis yang dialaminya hari itu.


Memilih Berhenti

Teruntuk siapa saja yang ku tuju.

Diriku telah menjadi renta dalam penantian.

Jari jemariku tak lagi selihai dulu, dalam menuliskan doa-doa untuk menemukanmu.

Tak ada lagi kata-kata puitis dalam menyanjungmu oleh sebab akalku yang kian melemah.


Hasratku kini tergerus oleh badai kesunyian.

Rambutku terus berevolusi, detak jantungku selemah kapas diterbangkan siulan camar.

Hari-hari hanya ku lewati bagai rimba pada setiap malam.

Gubuk kecilku tak kuasa lagi menahan serangan waktu.


Aku ingin kamu tahu bahwa,

Berhenti terkadang adalah keputusan paling baik yang pernah dibuat oleh anak manusia.

Saat lelah, berhenti akan mengurangi letihmu.

Saat penuh energi, berhenti juga akan melipat gandakan kekuataanmu.

Untukku, berhenti berarti menghentikan pencarian cinta akan cinta sejati.


Baris

Sekelompok semut berebut pandang.

Mengintip satu per satu, menelisik jarum jam.

Di satu sudut ruangan gulita.

Seluruhnya meregang nyawa tak tersisa.


Apabila malam telah tiba.

Serangga lain turut tersiksa.