We brought nothing into this world and it's certain we can carry nothing out. ~ John Wayne, American actor

Kusentuh rambutnya yang putih kecokelatan, kasar meramus pada kulit merah pucat. Kau tinggal menunggu waktu. Ini elusan sebelum nyawa meregang. 

Ucapkan salam terakhir pada rerumputan nan hijau rupawan. Ia bergidik, mengisarkan kepala ke arahku. Kedua tanduknya bergerak pelan. “Tedong ini yang akan mengantar arwah ke Puya, ke surga.” 

Peter teman lokal menjelaskan. Tedong sebutan masyarakat Toraja untuk kerbau. Di Toraja, kerbau berkubang di tempat istimewa, lebih dari hewan peliharaan, mamalia ini bernilai sakral juga penanda status sosial. Harganya pun selangit, ratusan juta hingga miliaran. Apalagi jenis tedong bonga atau kerbau belang yang biasa digunakan sebagai persembahan dalam ritual Rambu Solo

Rambu Solo’ adalah upacara mengantar arwah ke Puya atau surga dalam kepercayaan Aluk Todolo yang dianut etnis Toraja. Rambu berarti sinar dan Solo’ adalah turun.

Perayaan Rambu solo’ umumnya dilakukan sore hari jelang matahari terbenam. Menurut A.T Marampa, Rambu Solo’ is peformed in the afternoon. It is also called Alum Rampe Matampu. 

Sebelum diupacarakan Rambu Solo’, orang yang meninggal hanya dianggap sakit. Ia dibaringkan, disediakan makan-minum lengkap dengan rokok, dan disiapkan hal-hal lain yang biasa dilakukan semasa sehat, termasuk menonton tv.

Siang itu saya dibonceng Peter menuju desa tempat akan dilaksanakannya upacara Rambu Solo’. Jaraknya sekitar 6 km dari Kota Rantepao. Tak lupa, di perjalanan kami membeli satu slop rokok. 

Mendekati area upacara suasana gegap, semua yang datang berpakaian serba hitam. Di tengah lapang berdiri pondok bambu; lakkian sebagai tempat peti jenazah, lantang karampoan tempat para tamu, dan di kanan-kiri berjejer pondok tempat berkumpulnya sanak saudara atau tetangga.

Pada seseorang yang diduga anggota keluarga mendiang, kami berikan satu slop rokok itu sebagai ucapan turut belasungkawa. Saya merasakan sambutan yang hangat.

Langit menebar tirai kelabu. Garis-garis keemasan sisa Sang Surya meronta menolak gelap. Kabut dari puncak Gunung Sesean melandai menyentuh ujung-ujung Tongkonan. Dingin dan syahdu. 

Tiba-tiba dari belakang pondokan suara menguik terdengar lantang. Satu-satu babi ditancap besi tajam. Tembus dalam merobek bawah perut hingga menyuir jantung. Perih tak terperi. 

Berikutnya, kerbau-kerbau pun ditebas pedang. Suara mengorok keras pecah bersama semburan darah segar. Arhh! 

Tak tahan melihatnya sekarat tanpa ampun. Perutku bergejolak mencium bau anyir menyengat hidung. Orang-orang makin sibuk. Seketika bangkai-bangkai babi dan kerbau melayang seringan kapas terbang menembus kabut, beriringan menandu roh mendiang, melesap menuju nirwana, Puya.

Di tengah lapangan, penari Ma’badong membentuk lingkaran menyanyikan syair ratapan. Semesta hanyut dalam kesedihan terdalam, ...kami sisa tinggal air mata, di tempat yang duka ini, pada bapak yang kita rindukan, sekarang hidupnya telah berakhir, oh..bapak yang baik budi, Engkau ke sana diliputi awan, diantar oleh kabut, bersama rintik hujan...

Semua yang hadir dalam ritual Rambu Solo’ tersergap suasana magis. Inilah ritual persembahan kematian yang mungkin satu-satunya masih tersisa di dunia. Kita tentu ingin lebih banyak lagi masyarakat dari daerah lain atau warga dunia tahu, menyaksikan dan merasakan langsung hawa spiritual upacara Rambu Solo’ khas Toraja.

Ini berbeda dengan Festival Día de los Muertos (Day of the Dead) di Meksiko atau The Fiesta de Santa Marta de Ribarteme (Near Death Experiences) di Spanyol. Tapi, ini juga berbeda sebab pengemasan dan promosinya. Mungkin upacara semenarik Rambu Solo’ tak salah bila disentuh aktivitas promosi dan packaging yang profesional tanpa mengurangi nilai tradisi dan kesakralannya.

Malam kian larut, penari-penari Ma’badong telah berkali-kali rehat dan kembali menyanyi. Saya berkeliling mencari Peter sambil menahan pusing dan mual tiba-tiba. 

Ada sesuatu yang tertolak organ perut. Setelah kutemukan, kuajak Peter segera pulang. Demi menampik angin malam, kulingkarkan tangan di badannya. Peter membawa motor tanpa kendali, kadang melesat tinggi, lalu ngerem mendadak atau zig-zag, ke kanan-kiri. 

Di suatu tikungan, motor nyaris tersungkur terjun ke kegelapan. “Jangan kau bawa saya ke surga, Bang!” Teriakku.

Peter tertawa, “Belum tentu ke surga!” suaranya lebih kencang. Sial. Pikirku teringat pada daging yang kumakan di Rambu Solo’ tadi. Teksturnya lembek.

Setelah beberapa kali terhenti dan nyaris celaka, kami tiba di penginapan, sekitar Jalan Landorundun. Sebelum pulang, Peter merangkulku mengucap terima kasih. Mulutnya yang nyaris menyentuh hidungku menebar sengit bau alkohol. Pantas saja. “Besok saya antar ke terminal, ya Bang,” ujarnya sambil menyalakan motor.

Besoknya, 10.17 WITA, aku duduk di sice lobi. Membolak-balik novel Faisal Oddang, “Puya ke Puya” sampai bosan. Lalu mendengarkan Spirits The Strumbellas dari aplikasi. Sudah hampir dua jam menunggu. Mana yang mau menjemput?