Simmmbooook……Aku rindu rumah!!!! Mungkin itu yang selalu terlintas di benakku saat ini. Dulu, saya pamit ke Jakarta untuk mengadu nasib, mencari peruntungan demi bertambahnya deretan angka di buku tabungan saya. Dua tahun berada di kota metropolitan, semakin terasa bahwa hari ke hari adalah perjuangan. Sejak bangun pagi, berangkat ke kantor, beraktivitas di tengah sumpeknya kota, hingga kembali pulang ke rumah adalah tetesan keringat. Itu yang harus dilakoni sehari-hari , belum lagi kalau ada masalah..duuuuuh puyeeeng dan rasanya ga tahu mau ngapain. Sediih dan terpuruk banget! Mo ngadu sama simbokku, but she’s not here…syediih lagi, dan paling nangis…

Setiap pagi, saya menempuh perjalanan tak kurang 1 jam dari rumah ke kantor dengan membonceng sepeda motor. Waktu perjalanan bisa molor tanpa bisa diperkirakan berapa lama, kalau terjebak macet parah. Tapi bisa lebih cepet kalau hari Selasa atau Jumat karena lebih sepi (entah mengapa begitu).

Perjalanan adalah perjuangan. Motor kami harus mencari celah, nylempit-nylempit, supaya kebagian tempat. Belum lagi asap motor, bajaj, bis kota, atau mobil sekalipun yang serasa menyumbat pernafasan, dan merebut udara bersih yang seharusnya kuhirup. Kalau lagi terjebak macet gini, yang terpikir dalam benak saya, wah alamat dipotong gaji (lagi!) nih gara-gara telat.

Sampai di kantor, dengan bau asap melekat di jaket saya buru-buru naik lift, pokoknya sesegera mungkin sampai di pemindai sidik jari penanda kedatangan. Segera setelah mesin itu mengeluarkan suara “Thank You” saya masuk ruangan dan menyalakan computer. Check email, telpon sana kemari cari nara sumber, berangkat liputan kalau lagi ada liputan luar atau ngeblog or chating kalau lagi ga ada kerjaan. Terkadang (lebih sering) merasa bosan dengan semua rutinitas ini, tapi harus tetap dipaksakan demi sederet angka tadi. Belum lagi kalau pagi-pagi udah dicemberutin ato diomelin bos, wah bakalan sepanjang hari BM alias bad mood..

Saatnya makan siang…menuju pantry untuk mengambil jatah makan siang. Menu yang tersaji di rantang plastik biru itu berisi ransom menu vegetarian. Kalau lagi beruntung dapat menu makan siang yang sesuai di lidah, kalau lagi ga beruntung yaa…terpaksa makan dengan sedikit menelan ludah dan nafsu makan yang ditambah-tambah. Yaah tapi ga papalah daripada harus beli makan di luar. ITC Mangga Dua gitu loh…!! Semua makanan menjadi mahal disini.

Abis itu kerja lagi..kerja lagi… sambil sesekali melirik jam digital di dinding (meski saya juga punya jam tangan, tapi ga afdol rasanya kalo belum ngliat jam dengan angka2 yang gede itu). Mulai packing kalo udah jam 17.30, siap-siap jalan pulang yang perjuangannya juga ga kalah seru! Kembali bersaing dengan asap kendaraan, ojek sepeda, motor yang jalan berlawanan arah. Salip kiri, salip kanan, sambil tetap menjaga kewaspadaan jangan sampai ditabrak ojek sepeda, bajaj, bemo atau angkot yang jalan berlawanan arus. Belum lagi kalau menyeberang jalan menuju halte bus way yang biasa mengantarkan saya pulang. Meski sudah berada di jalur penyeberangan yang namanya zebra cross..tetap aja langka kesempatan menyeberang dengan aman. Dulu saya paling takut nyebrang sendiri, karena pernah ketabrak becak waktu nyebrang di depan kampus saya. Untung saya ga luka sedikitpun, tapi kasihan tukang becaknya njungkel nabrak trotoar karena menghindari saya. Nah sekarang mau tidak mau saya harus bisa dan berani nyeberang jalan sendiri, meski kalau ada barengannya akan lebih cepat sampai.

Sampai di busway, saya masih harus berebut dan mengantri. Lagi2 kalau lagi beruntung , petugas pengatur ketertibannya belum capek, maka antrian dipastikan lancar dan tertib. Penumpang dibagi dalam tiga baris, dan ga boleh membuat antrian lagi. Tapi lebih sering petugas di halte itu ga peduli dengan antrian yang sudah melebar menjadi 4,5,6 baris atau bahkan ga beraturan. Belum lagi kalau penumpang di belakang ga sabaran, bisa dipastikan aksi dorong akan terjadi. Kadang saya berpikir, sebaiknya dibuatkan jalur antrian khusus untuk wanita, manula atau wanita hamil. Coba bayangkan, kalau anda wanita, bumper depan belakang kan harus aman! Tapi kalau kondisinya saling dorong, saling ga sabar seperti ini, duuuh, ga nyaman banget. Badan satu dengan badan lain nyaris tak berjarak! Saya biasa memakai tas untuk melindungi sisi belakang saya, dan tangan berdekap di depan untuk melindungi tubuh bagian depan saya. Namun itu saya rasa tetap belum cukup!

Kadang saya kesal dengan sikap ga tertib orang-orang ini. apa susahnya antri dan tertib. Kalau buru-buru, semua juga buru-buru, tapi apa ya mesti begitu? Saya bayangkan kalau mau tertib, rapi dan teratur pasti antrian akan lebih lancar, dan yang jelas akan lebih nyaman. Kita bisa dapat oksigen lebih banyak dan yang jelas ga harus berimpit2an. Btw, kemarin saya mencoba mempertahankan hak saya. Biasanya saya pasrah aja, kalau ada orang yang desak-desak atau mencoba mengambil tempat saya. Kemarin saya coba dorong, maju, sikut kiri, sikut kanan, jatuhin badan, kalau perlu injak kaki…sampai didalam saya merasa puas, karena sudah bisa memberi pelajaran pada penyerobot tadi. Tapi perasaan puas itu tak bertahan lama, saya jadi merasa bersalah. Bersalah pada idealisme yang saya anut selama ini. kok saya jadi ikut-ikutan ga tertib gini… kata orang kalau di Jakarta ga cepet, maka ga bakalan kebagian. Tapi apa iya kita harus seperti itu?

Kehilangan rasa kemanusiaan? Saya melihat wajah-wajah orang di busway, wah sudah seperti robot-robot mereka ini. ga ada senyum, ga ada ekspresi…wuaduuh aku ga mau menjadi seperti mereka….

Lain lagi kalau harus naik angkot…bisa dipastikan saya akan naik sebuah kijang dengan sopir yang ‘andal” atau lebih tepatnya ngawur? Brenti seenaknya, atau buang sampah sembarangan…ckckckckck…memang benar kata Pak Paulus Wirotomo (sosiolog) kalau para pengendara ini harus ditertibkan dengan pendidikan sebelum memperoleh SIM. Tapi jangan-jangan mereka ga punya SIM? Wah bisa jadi, karena saya pernah diseruduk metromini yang sopirnya ga punya SIM. Parah banget…!!! Jadi siapa yang harus ditertibkan disini? Jadi bingung deh, apa sudah ga ada yang bisa mikir bener di pemerintahan kita ya?

Mungkin masih lebih banyak pengalaman serem ataupun mengerikan dari teman yang juga pamit merantau seperti saya. Masih banyak teman-teman kantor yang rumahnya lebih jauh dan menempuh perjalanan PP kantor-rumah setiap harinya dengan waktu yang lebih panjang. Perjuangan kami memang terbayar dengan semakin bertambahnya materi. Tapi mungkin masih tetap terasa kurang ya, namanya juga manusia yang tak pernah terpuaskan.

Kalau lagi enek sama semua yang keadaan disini, saya jadi rindu rumah. Rumah saya memang di desa, tapi suasana di desa benar-benar berbeda dengan kota. Pagi hari, saya pasti dibangunkan suara kokok ayam jantan dan bukan alarm jam beker atau HP. Saya masih bisa melihat matahari terbit dengan sinarnya yang indah, kemudian saya juga masih bisa menikmati semilir angin sawah, masih bisa mendengar suara lenguhan sapi atau kerbau yang membajak sawah, masih bisa membaui segarnya udara tanpa cemaran polusi atau asap pabrik, juga suara gemericik air sungai yang jernih.

Jika malam tiba ada orkestra kampung bersama jangkrik dan serangga malam lainnya, memberi kesan yang sungguh menakjubkan. Saya juga masih bisa melihat cahaya kelap kelip kunang-kunang yang tak akan pernah bisa tergantikan dengan kilatan lampu gedung di kota ataupun sinar laser dari pertunjukkan musik mancanegara sekalipun! Kelap-kelip kunang di sawah sebelah rumah. Ya kunang-kunang yang juga dikagumi teman-teman Jepang saya, dan selalu menjadi kebanggaan untuk dipamerkan pada mereka. Yang paling saya rindukan adalah masakan simbok dan hangat “kelonannya”. Meski di rumah itu bukan berarti tak ada masalah, namun pesona dan kehangatannya lebih membius saya sekarang. “Syndrome homesick” kali ya?

Sekarang saya ga malu lagi dikatain wong ndeso. Paradigma bahwa ndeso, katro itu cenderung malu-maluin ga berlaku lagi buat saya. Buat saya desa itu punya kearifan sendiri. Kearifan yang jelas lebih beradab dibandingkan budaya ngepop atau budaya (yang katanya) modern di metropolitan ini. Saya hanya berharap supaya desaku ga berubah menjadi kota metropolis seperti Jakarta ini. supaya orang-orang disana masih punya kearifan untuk menjaga budaya, menjaga lingkungan, ataupun menjaga perilakunya.

Lagi-lagi aku rindu desa, rumah, kunang-kunang dan simbokku….

Jakarta, 25 Mei 2007