Di sudut kota itu, anak kecil menyeka air matanya sambil tersedu-sedu.

Bukankah tadi iring-iringan rombongan presiden baru saja lewat?

Bukankah dia tadi dengan ceria melambaikan tangan tepat ke mobil berpelat RI 1 tersebut?

Di sudut kota itu, anak kecil memainkan senar gitarnya, mengharapkan imbalan dari rajanya. Kenapa sekecil ini sudah memiliki raja?

Bukankah dia makhluk bebas, bergerak, muda, berani.

Berlari menyusuri lorong-lorong waktunya.

Akankah penguasanya menyusuri lorong juga?

Berlari mengejarnya secepat mungkin.

Apakah anak kecil tadi bukan penerus penguasanya?

Di sudut kota itu, anak kecil masih menangis karena ditinggal rombongan teman-temannya.

Di sudut kota itu, anak kecil belum melek huruf, minus literasi.

Di sudut kota itu, pendobrak ketidakaturan akan lahir.

Di sudut kota itu, pembimbing di masa depan akan lahir.

Di sudut kota itu.