Karena termasuk di era generasi 90an, saya tidak mengenal apa itu sekolah full day. Sekolah yang saya tahu ya berangkat pagi, masuknya jam setengah 7 atau jam 7, pulangnya jam 12 ya mentok jam 1 siang deh. Itu saja kadang sudah terasa lama sekali. 

Bukan, bukannya saya tidak suka sekolah. Saat itu saya cuma selalu berpikir ya kalau sekolah full day gitu kapan saya ada waktu main sama teman-teman?

Iya dong, saya di masa kecil adalah seorang anak yang sok sibuk dan sok taat jadwal. Pagi sekolah, siangnya pulang, mikir gimana caranya kabur saat disuruh tidur siang, sorenya ngaji, setelah ngaji hunting capung di ladang dekat rumah, malam belajar dan mengerjakan PR. 

Satu-satunya sekolah dengan sistem full day yang saya tahu ya pondok pesantren. Saya mengira karena mereka tinggalnya di asrama pondok tentu saja jadwal mereka sudah diatur sedemikian rupa jadi mereka tidak akan punya waktu buat hunting capung seperti yang saya lakukan.

Makin ke sini, makin banyak sekolah, baik negeri mau pun swasta, yang menerapkan konsep full day. Masuk pagi pulangnya sore. Ada yang pulang jam 2 siang, ada juga yang jam 4 sore. Untuk yang lokasi sekolahnya jauh dari rumah mungkin bisa-bisa jam 5 baru sampai. 

Saya membayangkannya saja sudah capek sendiri. Saya selalu bertanya-tanya itu mereka ngapain aja di sekolah? Seriusan di dalam kelas terus? Apa tidak jenuh?

Adik saya yang saat ini masih SMA tentu juga mengalami yang namanya full day school ini. Jam 3 sore dia baru pulang dari sekolah. Saya tanya ke dia, di sekolah apa saja yang dilakukan? Katanya ya belajar. Di kelas. Aktivitas di luar kelas hanya saat istirahat atau jam pelajaran praktik olahraga juga saat salat.

Saya tanya apa dia tidak bosan? Katanya ya mau bagaimana lagi? Kan itu sudah peraturannya.

Adik saya ini sudah tidak pernah pegang buku pelajaran bila di rumah, kecuali saat mengerjakan ujian atau besoknya ada ujian. Kalau ditanya kenapa tidak belajar ya dia dengan entengnya akan menjawab: 'Kan aku sudah belajar seharian di sekolah'.

Sampai di sini saya makin bertanya-tanya, apakah sistem seperti ini efektif diterapkan pada anak-anak? Tujuan paling dasarnya apa? Lalu harus kita ingat-ingat lagi apa fungsi paling dasar dari sekolah formal. 

Saat memilihkan sekolah dasar untuk saya dulu, saya pernah mendatangi sebuah sekolah dasar swasta yang cukup terkenal di kota saya. Saya tanya kenapa mereka menerapkan sistem sekolah full day pada anak kelas 1 SD? Kepala sekolahnya menjawab bahwa jam sekolah ekstra ini dibutuhkan agar anak-anak mendapatkan waktu ekstra juga untuk bersosialisasi. 

Saya sudah ingin mengeluarkan beberapa protes tapi saya tahan. Lalu beliau berkata lagi bahwa dengan anak-anak ini pulang setelah waktu salat Ashar, maka otomatis salat mereka akan selalu on time.

Oke, saya sudah tidak bisa menahan lagi. Saya bilang memangnya bersosialiasi itu hanya bisa dilakukan di sekolah? Memangnya yang dinamakan 'teman' itu hanya yang berada di satu sekolah yang sama? Memangnya kalau di rumah lalu anak-anak salatnya jadi tidak on time?

Saya tidak pernah sekolah full day, tapi teman saya banyak. Selalu banyak. Dan jadwal salat saya juga baik-baik saja. Saya juga masih sempat mengaji yang otomatis bersama dengan teman-teman yang lain lagi juga.

Saya tinggalkan sekolah dasar itu, dan menegaskan prinsip bahwa saya tidak akan pernah menyekolahkan anak saya di sekolah yang menerapkan sistem full day.

Kembali ke hakikat awal apa fungsi sekolah. Bagi saya pribadi, sekolah ya tempat belajar, tapi tidak semuanya hanya bisa dilakukan di sekolah. Pelajaran bersosialiasi, pengenalan dasar agama, pemahaman kepribadian, sampai beberapa prinsip kehidupan harusnya ya dilakukan sejak mereka masih berusia dini, di rumah. Di dalam lingkungan keluarga terlebih dahulu baru dilengkapi di lingkungan sekolah.

Untuk urusan pelajaran akademis, tentu saja saya akan mempercayakan itu pada institusi yang bernama sekolah dan para gurunya. Tapi untuk pembentukan pribadi anak-anak, saya melakukannya sejak sangat dini mulai dari saya sebagai orang tua mereka.

Tidak jarang kita temui beberapa kasus perundungan yang terjadi di lingkup sekolah tanpa diketahui oleh para guru. Anak saya juga mengalami ini. Di-bully oleh teman-temannya sampai dia menangis, dan saat gurunya tahu mereka menghubungi saya dan bilang "Saya bingung, Bu. Gimana supaya dia berhenti nangis"

Antara kesal dan ingin tertawa kencang rasanya. Di awal masuk sekolah mereka dengan sombongnya berkata "Percayakan anak-anak anda pada kami para guru dan jajaran staf sekolah". Buktinya? Mendiamkan anak kelas 4 SD saja mereka tidak bisa. Mencari siapa yang salah dalam masalah bully itu juga mereka tidak mampu.

Belum lagi adik saya yang pernah cerita bahwa gurunya rajin update status WhatsApp saat jam pelajaran berlangsung. Demi apa pun, saya tertawa kencang sekali. 

Tentu saja kita tidak melarang mereka untuk update status, tapi mbok ya jangan saat jam pelajaran. Apa itu bisa disebut teladan? Apakah mungkin hal ini disebabkan karena guru-guru tersebut merasa jenuh seharian berada di sekolah?

Saya tidak menggeneralisasikan, tentu saja tidak semua guru bersikap seperti ini. Tapi ada. Ada. 

Nah, pertanyaannya: kalau gurunya saja bisa jenuh saat mengajar di dalam kelas hingga harus menghibur diri dengan update status WhatsApp, bagaimana dengan muridnya? Apa bisa kita mempercayakan anak-anak kita pada institusi full day school ini? Apa benar hasilnya sudah maksimal?