“Aku tidak tahu kapan akan kembali, atau mungkin tak akan kembali lagi. Tidak ada kepastian soal itu, Aira. Sekarang kita hanya perlu meneruskan hidup kita masing-masing. Saling melupakan perasaan yang ada. Hubungan jarak jauh bukan pilihan yang tepat, mengakhiri hubungan ini adalah jalan satu-satunya. Maafkan aku soal keputusan ini. Jaga dirimu Aira”

Rado masih ingat bagaimana ia memeluk tubuh mungil Aira terakhir kali. Masih ingat bagaimana kata-kata perpisahan ia lontarkan pada gadis itu. Kenangan itu masih tergambar jelas dibenaknya. Rado tahu betul telah menyakiti hati Aira tapi ia tak punya pilihan lain. Rado tak tahu pasti berapa lama kepergiannya kali ini, dan tempat yang akan ia datangi bukan tempat biasa. Daerah rawan konflik. Sewaktu-waktu peluru bisa saja menembus kepalanya.

Rado tidak mengkhawatirkan soal pertaruhan nyawa, sejak awal ia paham betul resiko pekerjaannya. Ia hanya tidak ingin Aira menunggunya dalam ketidakpastian. Tidak ingin Aira mencemaskannya. Bukan tidak mungkin kepulangannya kelak hanya tinggal nama. Rado hanya beranggapan bahwa ia tak bisa lagi menjaga gadis itu, tak bisa lagi melindunginya dan ia harus melepaskan ikatan ini. Aira berhak atas lelaki lain. Atas hidupnya sendiri.

Rado menyandarkan punggungnya ke dahan pohon jambu yang rindang di halaman rumah yang luas. Tidak ada yang berubah dari tempat ini. Tempat yang selalu membuatnya rindu. Tempat ia menghabiskan sepanjang senja bersama Aira. Namun diantara semua rindu yang tertabung selama ini, rindu yang paling menyiksa bermuara pada sosok gadis itu. Aira.

***

“Kamu ngelamun lagi? Kalau ditinggal bentar, pasti begini” suara lembut seseorang terdengar di telinga kanannya. Maizal, pemilik suara lembut itu sekarang telah duduk disampingnya. Aira menoleh, menyusuri setiap gurat wajah lembutnya. Namun seketika  gurat wajah keras seseorang yang terlintas di benaknya. Gurat wajah yang terpeta demikian kuat dalam memorinya. Gurat wajah perwira gagah berani itu bernama Rado.

“Hei, berhenti melamun!” suara Maizal menyentak Aira dari lamunannya. Ia kembali ke dunia nyata.

“Sudah selesai mengembalikan bukunya?” Aira mengalihkan topik. Maizal mengangguk. Sejak setengah jam yang lalu Aira duduk disini. Di salah satu bangku pelataran perpustakaan kampus menunggu Maizal mengembalikan buku. Mereka selalu pulang kuliah bersama. Lebih tepatnya Maizal mengantar Aira pulang kuliah setiap hari.

Jadi jika Maizal ada urusan sepulang kuliah -misalnya seperti tadi mengembalikan buku- Aira akan menemaninya, begitu pula sebaliknya. Tetapi tadi Aira terlalu malas menemani lelaki itu mengantri untuk mengembalikan buku. Karena itu ia memilih menunggu sendiri disini. Di pelataran perpustakaan sambil menikmati suasana senja.

Sejak perpisahan itu, Aira benci sendirian. kesendirian selalu menjerumuskannya dalam kenangan masa lalu bersama seseorang. Kesendirian selalu menyadarkan betapa ia merindukan lelaki rupawan pemilik gurat wajah keras itu. Lelaki yang dengan mudah mengakhiri hubungan yang telah terjalin lama. Lelaki yang membuat tiga tahun terakhir terasa begitu menyiksa.

Tak pernah sedikitpun Aira menyalahkan kepergian Rado. Aira tahu bagaimana mulianya tugas menyerahkan hati dan mempertaruhkan nyawa demi negeri ini. Ia hanya tak bisa percaya bahwa Rado pergi tanpa menitipkan hatinya untuk Aira jaga. Seakan tak cukup, lelaki itu juga menyuruhnya melupakan semua yang telah mereka lewati bersama.

 “Gerimis,” Aira berucap lirih sepersekian detik setelah ribuan larik air itu menghujam turun di kampus mereka sore itu. Seketika, punggung seseorang yang berjalan menjauh terlintas dibenaknya. Ingatannya memutar peristiwa itu. Saat Gerimis membelai tubuhnya, membaur bersama airmata, dan meredam suara isak tangisnya. Sejak perpisahan itu, Aira akhirnya tahu apa yang selama ini dirasakan lelaki itu. Bagaimana sakitnya ditinggal mati seorang ayah yang gugur saat bertugas di tengah lautan sana, bagaimana menyiksanya hidup sebatangkara.

***

Rado terpekur dibawah rimbun daun jambu yang meneduhinya dari gerimis yang mulai turun. Rado benci gerimis. Gerimis selalu pertanda buruk baginya. Gerimis hadir mewarnai pemakaman ayahnya, juga saat akhirnya ia harus pergi meninggalkan gadis itu. Dulu aira selalu bangga memiliki kekasih sepertinya. Seorang perwira TNI. Maka ketika ia ditunjuk dalam penugasannya kali ini, Rado merasa inilah saatnya mengabdi. Membuktikan nasionalisme yang selama ini ia agung-agungkan di depan Aira.

Rado siap mengikuti jejak almarhum ayahnya yang gugur demi mempertahankan keamanan tanah air ini. Ia bangga dengan tugas negara yang diembannya, tapi di sisi lain ia berat untuk melepaskan Aira.

Selama ini, Rado selalu ada untuk Aira, dan setelah ini gadis itu harus menunggunya dengan harap-harap cemas. Ia tidak ingin Aira menjalani keterikatan yang tak pasti. Sehingga akhirnya Rado harus membuat keputusan, keputusan yang sekarang disesalinya setengah mati.

***

“Yahh… kita terkurung disini, terpaksa menunda pulang daripada kehujanan” sesal Maizal berpura-pura. Aira diam tak menanggapi. Tak pula membantah, ia tahu Maizal hanya beralasan untuk dapat berdua lebih lama dengannya seolah-olah  waktu sepanjang kuliah sejak pagi tadi tak cukup saja.

Aira juga tahu mereka tidak akan kehujanan karena pulang dengan mobil mewah Maizal, bahkan berjalan ke tempat mobil itu diparkirpun tak akan membuat mereka basah kuyup oleh hujan malu-malu ini.

“Gerimis membuat senja ini menjadi indah. Menjadi sejuk. Tidak gersang seperti biasanya, iya kan Ra?” Maizal membuka suara. Mencari prolog untuk memulai pembicaraan tentang perasaannya. Tapi Aira selalu tahu bagaimana menghindar dari pembicaraan tentang cinta. Ia tak ingin pertemanan mereka selama ini rusak hanya karena soal perasaan.

Selama ini Aira tak menolak bantuan Maizal. tak menolak diantar pulang atau bahkan ditemani untuk keperluan kampus lainnya. Tetapi selama ini  Aira juga  tidak pernah meminta. Mengenai hal itu Aira hanya berharap Maizal mengerti. Bahwa mereka tidak akan mengingkari ketetapan akan berteman baik selamanya , tidak akan pernah melampaui batas itu.

***

Rado dapat merasakan rintik-rintik gerimis dari ujung daun satu demi satu membasahinya. Tapi ia bergeming demi sebuah hal yang amat penting dalam hidupnya. Demi sebuah janji. Ia telah memenuhi janjinya dulu. Pergi kemanapun di penjuru negeri ini demi mengemban amanah negara. Termasuk pengirimannya sebagai bagian dari Satgas Keamanan di perbatasan RI-Papua Nugini yang baru saja berakhir.

Sekarang ia kembali untuk  memenuhi janji lain. Janji yang dulu terlalu takut ia ikrarkan. Maka sekarang disinilah Rado berada, untuk membayar segalanya kesepian yang menghantuinya- mungkin juga Aira- akibat keputusanya dulu.

***

“Kamu sependapat denganku soal gerimis itu?” tak kunjung mendapat tanggapan, Maizal kembali mengajukan pertanyaan.  Tapi Aira bungkam. Masih dengan wajah sendu dan tatapan kosongnya pada Maizal. Baginya setiap gerimis yang menghujam ke bumi sama saja, sama dengan gerimis yang hadir setelah Rado memutuskannya, mengucapkan selamat tinggal yang menyakitkan. Sama dengan gerimis-gerimis setelah hari itu.

Maizal menyerah, ia tahu lebih baik diam dan menunggu sampai Aira kembali dari dunia masa lalunya. Bukan malah memprovokasi dengan pembicaraan soal lain. Selama ini Maizal terlalu yakin ia bisa menarik Aira yang sering tersesat di masa lalu. Tapi sekarang ia meragukan keyakinannya itu. Aira tak pernah bisa berpaling untuk melihat ke arahnya.

Maizal adalah satu-satunya sosok yang hadir dalam kehidupan Aira setelah Rado pergi. Dan Aira selalu berharap Maizal adalah sosok malaikat yang akan mengulurkan tangannya dan mengajak Aira terbang ke dunia yang baru, dunia tanpa Rado. Namun setengah mati mencoba, Aira tahu perasaannya kembali berlabuh pada sesosok Rado. Ia tidak akan pernah mampu mengenyahkan Rado dari ingatannya.

Lima tahun kebersamaan mereka bukan harapan kosong yang dengan mudah untuk dilupakan. Aira hanya jatuh cinta sekali. Jatuh cinta pada Rado, lelaki keras kepala yang selalu sok tahu tentang nasionalisme. Lelaki berjiwa patriotis yang bangga mengantar nyawa ke perbatasan nun jauh di ujung timur nusantara.

Rado telah memenuhi janjinya dulu. Membuktikan bahwa ia mampu mengikuti jejak ayahnya. Bahkan Aira berani bertaruh lelaki itu rela bernasib sama seperti ayahnya.

***

“Kamu nggak percaya kalau mungkin ada orang lain bisa buat kamu bahagia?” pertanyaan Maizal membawa lamunan Aira yang berkelana ke masa lalu. ia ingin sekali percaya. Tetapi tidak bisa. Ia tidak yakin. Seumur hidup ia tak pernah jatuh cinta pada lelaki lain selain Rado. Dan lelaki itu nyatanya lebih memilih menyerahkan hatinya untuk menjaga rimba perbatasan yang rawan daripada menjaga hati seorang perempuan seperti dirinya.

Maizal meraih dan menggengam tangan Aira. Menatapnya lembut. Tiga tahun ini gadis itu hidup dalam perangkap masa lalu. Tersenyum, tertawa, beraktivitas tapi Maizal dapat merasakan semua itu semu. Gadis itu tidak benar-benar hidup, ia hidup dengan penantian yang tak pasti.

Aira membalas tatapan dan genggaman Maizal tapi tak dapat merasakan apapun dalam genggaman itu. Tidak seperti genggaman tangan seseorang yang selalu menyalurkan kehangatan dan cinta. Meski Aira sangat berterima kasih karena Maizal selalu ada selama tiga tahun terakhir. Membuat harinya lebih beriak dan tak sesepi awal kepergian Rado.

Tapi Maizal tak pernah bisa mengeringkan airmata rindu yang memenuhi rongga hatinya. Sejak pertama Aira sadar Maizal adalah tipe lelaki pujaan para gadis. Pintar, kaya, tingkah lakunya santun dan sangat menghargai perempuan. Aira senang  berteman dengannya tapi tidak bisa jatuh hati dengan segala perlakuan manisnya.

Sejak lama Aira telah jatuh hati dengan kenyamanan yang didapatnya dari sosok Rado. Rado yang tak bisa berlaku manis namun selalu menjaganya dan melindunginya. Tak sedikitpun dia pernah ragu bahwa Rado menyayanginya.

Sudah sejak lama lelaki itu mengajarkanya arti ketegaran melalui kisah hidupnya yang keras. Rado yang sebatang kara bergantung pada dirinya sendiri atas mimpi-mimpinya. Sekarang lelaki itu malah membuatnya seperti sebatangkara, tapi seumur hiduppun Aira tak mampu membencinya.

***

Rintik gerimis baru saja reda. Rado dapat merasakan dingin bulir-bulir air itu meresap sampai ke ulu hatinya. Senja terus beranjak. Dan ia semakin gelisah ditempat ini. Rado sepenuh hati berharap Aira masih memiliki perasaan seperti dulu.

Tapi ia ragu, semudah ia melepas gadis itu tiga tahun lalu, mungkin semudah itu pula gadis itu membencinya. Tapi Rado tidak peduli lagi. Sekarang ia sudah disini. Tidak seperti dulu, sekarang ia tak mau bersikap seperti pecundang.

***

“Ayo pulang, gerimisnya udah reda” Aira membuka suara kemudian beranjak meninggalkan pelataran perpustakaan. Maizal mengekor dibelakang, menatap punggung kesepian Aira. Ia tahu gadis itu kesepian, merindukan seseorang, tapi ia lebih tahu lagi ia tak dapat mengobati kerinduan Aira.

Tak bisa menjadi pengganti siapapun laki-laki yang telah membuat gadis itu menjadi sendu. Maizal hanya berusaha yakin Aira kelak bisa bahagia, dengan siapapun itu meski bukan dirinya.

***

“Terima kasih, sampai ketemu besok” hening sebentar, ketika Maizal hendak melajukan mobilnya Aira kembali berucap “Kamu teman terbaik sepanjang masa.”

Maizal tersenyum sambil melambaikan tangan. Kemudian menghilang bersama mobilnya. Akhirnya ia merasa lega, ia tahu ketulusanlah yang paling penting dalam pertemanan mereka selama ini. Tidak ada lagi pertemuan besok-besok, sepertinya dialah yang harus memulai dunia barunya.

***

Aira membuka pagar rumahya. Namun sebelum melangkah ia tersadar oleh sesosok orang yang berdiri di halaman rumahnya. Rambut dan seragam dinasnya tampak basah sehabis kehujanan. Aira mematung, setengah mati terperanjat. Segurat wajah keras itu kini ada didepannya. De javu. Seperti mimpi-mimpi dalam tiap tidurnya, sosok itu tersenyum seperti dulu. Senyum yang selalu terlintas dibenaknya. Senyum yang dirindukannya.

“Rado…” Aira refleks menggumam. Ia merasa sedang bermimpi. Tapi sosok didepannya terlihat nyata. Sekarang ia dapat merasakan seluruh persendiannya gemetar. Aira tak pernah berani berharap lelaki ini muncul di halaman rumahnya. Tapi sekarang, setelah sekian lama. Harapan itu benar-benar nyata. Seperti petir di siang bolong, Rado benar-benar muncul.

Rado berjalan mendekat, sekarang Aira dapat melihat jelas gurat wajah keras lelaki rupawan ini.

“Sebelum kau marah padaku dan mengusir lelaki jahat dihadapanmu ini, aku ingin menjelaskan sesuatu. Setelah itu terserah padamu, Aira”

Suara yang sangat dirindukan itu, akhirnya Aira dapat mendengarnya.

“Aku… waktu itu membenci diriku yang tidak bisa lagi menjagamu, melindungimu. Tidak bisa lagi berada didekatmu setiap saat. Aku tak bisa membayangkan kamu kesepian dalam ketidakpastian. Aku benci membayangkan kamu sendirian”

“Kupikir kau tak perlu merasa kehilangan jika sesuatu terjadi padaku. kau tak perlu mencemaskanku. Jadi aku melepas ikatan itu. Aku ingin kau bisa bahagia tanpa harus memikirkan lelaki brengsek yang meninggalkanmu. Jarak, ruang, waktu, apalah namanya, tak pernah bisa kupercayai Aira”

Jeda sejenak, Aira dapat menangkap getaran dari nada suaranya. Ia pun setengah mati menahan sakit ditenggorokan menahan tangisnya.

“Tapi aku tak bisa membayangkan kau berada disisi orang lain. Perasaanku tidak tenang, aku … tidak rela meski itu terkesan egois” Rado melanjutkannya

“Dan tiga tahun itu tidak terasa seperti hidup. Lipatan  jarak, waktu, apapun itu tak pernah mampu menepis semuanya. Semuanya masih sama. Perasaanku tak mampu kuubah. Aku bersumpah tak sudi mati sebelum melihatmu lagi. Aku tak mau kau sepertiku. Jadi sebatangkara setelah kehilangan seseorang yang disayanginya”

“Aira… tiga tahun ini aku menabung rindu yang perlahan mencekikku. Jadi aku harus kembali. Menemukanmu. Tak ingin melepasmu lagi. Aku cuma ingin kau tahu, tempat kita adalah di sisi satu sama lain. Tolong beri aku kesempatan.”

Aira tak dapat menahannya lagi. Seketika airmatanya buncah

“Rado…bukan jarak yang menjadi masalah, itu tidak penting, aku tidak peduli terpisah ribuan kilo darimu”

“Yang menjadi masalah adalah jarak yang kau buat dihatimu”

Sekarang yang harus dilakukan Aira adalah berlari kedalam dekapan lelaki itu. Kembali mendekatkan hati yang telah lama berjarak. Tempat mereka adalah di sisi satu sama lain.