99725_19936.jpg
Puisi · 1 menit baca

Di Pembaringan Waktu

Nekat kulelang kebebasan dengan waktu-waktu sibuk
Berlalu-lalang telah kosong semacam dahaga
Kontan tanpa tawar transaksi jejak putaran menitnya
Aku kehabisan sepi
Kadang aku sendiri
Tapi aku tidak sendiri
Aku?
Sibuk berdistraksi

Sial
Waktuku telah habis terjual
Kadang rindu
Tak jarang kupunguti sisa-sisa tenaga
Lalu ku nekat kembali
Lunglai kuputuskan untuk menggadai
Sekadar olesan tipis gincu merah bekas rindu
Untuk kukecup di antara kedua matamu

**********
Mulanya aku merasa baik-baik saja dengan pertemuan yang tidak direncanakan
Ketidakteraturan membiarkan kedua tangan saling berjabat dan menyebutkan nama satu sama lain

Terlalu dini untuk membiarkan keterasingan merasuk, namun tidak untuk disangkal
Ya untuk pertama kalinya, aku jatuh cinta dengan seseorang yang berbeda, kami berbeda
Tidak, justru kami sama

Hingga pada suatu masa
Kita berbaring pada ketiadaan dan saling menatap penuh luka
Kasih, dengarlah
Kau berlinang
Menceritakan segala masalalumu tanpa menutup mata
Dengan langit-langit kamar sebagai cakrawala dan sesekali mencengkeram tangan keduanya
Tak apa
Teruslah meracau soal waktu
Waktu di kolong tempat tidur bekasmu berbaring dengan entah siapa itu

Terus
Teruslah begitu
Aku semakin membunuh ketiadaan sebagai tempat tersisih di masa silammu
Kau sibuk meracau sementara aku menggigil ketakutan namun erat tetap mendekapmu

Masih di pembaringan waktu
Kita berlomba menceritakan tentang siapa yang paling entah

Aku mendekap kepalamu sebagai tanda bahwa jangan ada lupa
Aku meratapmu pilu sebagai isyarat bahwa akulah milkmu
Sebagian atau seutuhnya tentang itu

*******

Selamat datang
Kepada waktu yang riang
Sebab kau tak lagi membangun rindumu terhadap waktu-waktu yang merinduiku
Mungkin ia sengaja lupa
Rindu tercipta untuk siapa
Selamat datang
Kepada kau yang menjelma ketakutan dalam sepi
Diantara dendam mungkin juga sedikit benci
Di situ
Di halte yang berlumur karat itu
Yang tiada lagi kita kunjungi semasa pagi demi pagi berlalu
Dalam ingatanmu
Dalam jumpa-jumpa semu
Selamat datang
Kepada hujan dan gerimis yang sibuk berkutat menderasi ingatan
Tentang aku
Tentang kau
Tentang kita dengan segala duanya
Selamat datang
Kepada janji dan setangkai ikatan
Kepada masa 7 tahun silam
Kepada embun yang membeku
Kepadamu
Kepadaku
Kepada waktu pula rindu-rindu yang amat mengusikku
Kau mungkin tak pernah tahu
Waktu selalu mendekapku dalam ketakutan
Selamat datang
Kau
Selamat tinggal