HEALTH, SAFETY AND ENVIRONTMENT
2 bulan lalu · 107 view · 3 min baca menit baca · Lingkungan 75500_85831.jpg

Di Masa Depan, Lihat Hutan di Museum?

Kertas ditemukan oleh Ts’ai Lun, Ts’ai Lun lahir sekitar tahun 50 masehi di Guiyang yang sekarang menjadi provinsi Hunan. Ia menggunakan bahan pembuat kertas dari kulit kayu murbei. Proses pembuatan kertas pertama kali yang dilakukan oleh Ts’ai Lun adalah dengan cara bagian dalam kayu murbei direndam dalam air. Kemudian dipukul-pukul hingga seratnya lepas. 

Setelah seratnya lepas, rendam kembali bersama dengan kulit binatang, bahan rami, kain bekas dan jala ikan. Setelah rendaman menjadi bubur, bahan ini ditekan hingga tipis kemudian dijemur. Lalu jadilah kertas untuk pertama kali.

Pernah dengar orang mengatakan satu rim kertas sama dengan satu pohon? Itu salah kaprah. Satu pohon di hutan produksi adalah bahan baku untuk 23 rim kertas. 

Untuk membuat kertas dari pohon, kayu mentah harus diproses menjadi bubur. Kayu terdiri dari serat-serat yang diebut "sellulosa" adalah molekul yang terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen. Serat selulosa menghasilkan senyawa lem alami yang disebut "lignin". Ketika lignin dan serat selulosa dipisahkan dan ditata ulang maka kertas dapat dibuat dengan bantuan air dan bahan kimia lainnya digunakan selama proses pembuatan PULP (bubur kertas).

Mengacu kebijakan nasional, industri pulp dan kertas merupakan salah satu sektor yang mendapat prioritas dalam pengembangannya. Indonesia memiliki potensi terutama terkait bahan baku, di mana produktivitas tanaman di Indonesia lebih tinggi daripada negara pesaing yang beriklim subtropis. Hanya dua negara yang berpeluang memproduksi pulp secara efesien yaitu Indonesia dan Brasil.

Saat ini, kapasitas produksi pulp Indonesia sebesar 11 juta ton per tahun dan produksi kertas 16 juta ton per tahun. Terdapat 84 perusahaan pulp dan kertas di Indonesia.


Indonesia berada di peringkat kesembilan untuk produsen pulp terbesar di dunia serta posisi keenam untuk produsen kertas terbesar di dunia. Di sisi tenaga kerja, industri pulp dan kertas menyerap 260.000 tenaga kerja langsung dan 1,1 juta tenaga kerja tidak langsung. Secara tidak langsung, industri pulp dan kertas tergolong sektor padat karya dan berorientasi ekspor.

Meski memiliki potensi tumbuh, industri pulp dan kertas dalam negeri masih menghadapi tantangan. Pertama, ketegangan ekonomi antara Amerika Serikat (AS) dan China yang mendorong harga pulp dan produk kertas di level tinggi. Ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia meningkat ketika Presiden AS mengenakan bea impor terhadap barang-barang China.

Kedua, tuduhan dumping dari berbagai negara masih akan menghantui dan menjadi tantangan industri ini. Seperti diketahui, AS dan Australia menganggap Indonesia melakukan praktik Particular Market Situation (PMS). Tudingan aksi dumping pulp dan kertas asal Indonesia disebabkan oleh perbedaan AS dalam menentukan harga acuan. AS mengacu pada harga pulp asal Malaysia yang lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Akibatnya, produsen Indonesia dituding memberikan subsidi atas produk ekspornya.

Pemanasan global yang menjadi isu dunia turut mengemukakan mitos lain tentang industri kertas. Produksi kertas dianggap menyumbangkan efek yang signifikan terhadap emisi rumah kaca global. Kontribusi terhadap emisi rumah kaca global juga ditimpakan kepada industri kertas atas anggapan bahwa industri tersebut merupakan biang deforestasi. Deforestasi berkontribusi langsung terhadap hilangnya penyerap karbondioksida. 

Dalam rentang 2005-2015, menurut data FAO, hutan-hutan di Eropa bertambah 44.000 kilometer persegi setiap hari, lebih besar dari luas wilayah Swiss. Data dari FAOSTAT pada 2015 menunjukkan 50% panen kayu dunia justru digunakan untuk energi, 28% untuk konstruksi. Industri kertas secara langsung hanya menyerap 13% dari total panen kayu tersebut.

Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis, mencetak serta melukis dan banyak kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas misalnya kertas pembersih (tissue) yang digunakan untuk hidangan, kebersihan ataupun toilet.

Karena itu di era digital ini, segala cara dilakukan untuk mengurangi penggunaan kertas. Isu-isu tentang pemanasan global, penggundulan hutan untuk industri kertas terus dihembuskan supaya masyarakat beralih atau mengurangi penggunaan kertas dalam setiap aspek kehidupan mereka. 


Tetapi, kalau mau jujur, kita pun harus mengakui bahwa se-digital apapun kehidupan sekarang, kertas tetap tidak tergantikan.

Banyak kebutuhan kertas, berarti banyak pohon yang harus ditebang. Padahal, kita membutuhkan pohon-pohon itu bukan karena sebab sebagai bahan baku kertas saja. Kita membutuhkan pohon sebagai paru-paru dunia, sebagai benteng terhadap ancaman banjir, dan juga sebagai kelangsungan hidup kita sendiri.

Tanggung jawab menjaga sumber daya kertas tentu tak hanya dipikul oleh konsumen saja. Justru tanggung jawab itu semakin besar dipikul oleh pabrik-pabrik kertas. Mereka hidup dari pohon-pohon. Seyogianya mereka juga cepat merestorasi dan mereboisasi hutan-hutan yang pernah mereka tebang pohonnya. Dengan demikian, siklus fungsi dan penggunaan kertas di era digital ini tetap akan berlangsung dengan aman.

Artikel Terkait