Bekerja dan berkarya adalah salah satu bentuk kebutuhan manusia, artinya mengaktualisasikan diri melalui karya nyata dan diakui merupakan hal yang didamba-dambakan. Baik bagi perempuan maupun pria.

Sebagian besar perempuan yang bekerja kantoran memiliki kekaguman luar biasa kepada rekan perempuan lain yang memutuskan untuk berada di rumah dan mendedikasikan hidupnya sebagai ibu rumah tangga, mengurus rumah, suami dan anak anak. Di dalam benak mereka ini merupakan tantangan yang, biasanya tidak berani diambil oleh golongan pekerja wanita. Terlepas dari apapun alasannya, apakah alasan ekonomi maupun alasan sosial lainnya.  

Sementara bagi perempuan yang bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga, ada rasa iri terhadap kaumnya yang mampu atau bisa bekerja di kantor tanpa harus memusingkan masalah anak dan keluarga. Ini dari sudut pandang ibu rumah tangga. Apakah benar demikian?

Mari kita bahas dari beberapa alasan yang saya kumpulkan dari pengalaman dengan teman-teman yang bekerja kantoran maupun bekerja di rumah sebagai ibu RT (singkatan dari Rumah Tangga).

Buat kelompok pertama, bekerja di kantor dan memiliki jabatan adalah prestasi. Memiliki kemandirian secara finansial dan bisa turut aktif di dalam keuangan keluarga itu kebanggaan tersendiri. Mengasuh anak bukan hal utama meskipun pendidikan anak ada di dalam agenda utama kelompok ini. Kelompok ini multi tasking karena harus mengatur keuangan, mengatur belanja dapur, memastikan anak anak memiliki asupan gizi yang cukup, pendidikan yang baik dan kewajiban isteri maupun ibu rumah tangga lainnya.

Apapun alasan di balik keputusan kelompok ini, biasanya mereka memiliki keraguan akan kemampuan mereka bila hanya ada di rumah saja. Contoh Yosefina, sebagai manajer di salah satu perusahaan ia memiliki kekhawatiran akan kehilangan rasa “dihargai” di keluarga dan secara sosial dikarenakan tidak memiliki penghasilan sendiri. Hampir serupa dengan Phei yang merasa ia tidak akan mampu mengerjakan tugas rumah tangga saja, meskipun ia gemar melakukan bersih bersih dan menata rumah, tetapi membayangkan berada di rumah selama 24 jam tanpa bersosialisasi dengan dunia lain, bukanlah hal yang mudah.

Ada juga beberapa rekan perempuan lainnya, yang memang harus bekerja karena alasan ekonomi demi membantu keuangan keluarga. Lebih baik mempunyai dua pundi-pundi daripada hanya satu, begitu kurang lebih pemikirannya.

Lalu bagaimana dengan kelompok ibu rumah tangga? Kebetulan yang saya ajak berbicara adalah kelompok yang sebelum menikah, bekerja kantoran dan berpenghasilan. Pada saat memiliki anak mereka memutuskan untuk berhenti dan memiliki aktifitas sendiri. Alasannya beragam.

Hani, memilih berhenti bekerja dan mendukung usaha yang baru diirintis oleh suami dengan membantu suami. Segala sesuatu kebutuhan suami disiapkan baik di rumah maupun di kantor. Buat Hani ini penting karena pasangan perlu didukung, dan dikarenakan usaha suami baru dirintis, susah senang seharusnya dijalankan bersama demi memastikan usaha tersebut bertambah besar.

Berbeda lagi dengan Yanti, sebelum menikah ia memang bekerja sebagai sales manajer. Setelah menikah Yanti merasa karirnya berjalan di tempat, sedangkan anak anak di rumah membutuhkan dirinya. Awalnya berat hati, tapi akhirnya Yanti memutuskan untuk berhenti dan menjadi ibu rumah tangga. Meskipun itu artinya Yanti harus bangun pagi dan menjadi supir bagi anak anaknya setiap hari.

Satu contoh unik saya dapatkan dari teman saya yang berkebangsaan Jepang. Putri seorang professor di salah satu universitas terkemuka di Jepang. Pada saat ia memutuskan menikah dan kami makan malam merayakan kebahagiaannya, teman saya mengatakan pada saya bahwa ia akan berhenti bekerja setelah menikah dan memiliki anak.

Alasan yang diutarakan cukup mendalam, bahwa sebagai wanita Jepang, Hayashi san ( saya selalu memanggil nama keluarganya) menyadari tugas utama dirinya sebagai seorang perempuan. Mengurus rumah tangga dan anak. Suami tidak boleh dibiarkan ikut memusingkan masalah rumah tangga selain dari bekerja untuk keluarganya. Kebutuhan anak dan isteri didapatkan dari ayah atau suami melalui bekerja, maka menurut Hayashi san, sebagai seorang isteri, ia  harus membantu supaya pemenuhan kebutuhan tersebut tidak terganggu. Caranya adalah membantu di rumah dan memastikan tidak ada satupun masalah yang timbul sehingga mengganggu kinerja suami di tempat bekerja. Luar biasa

Umumnya kaum perempuan di Jepang mengatakan bahwa terlepas dari tingkat pendidikannya, mereka melihat bahwa ilmu yang didapatkan di sekolah ( sampai mencapai gelar tertinggi sekalipun) adalah bentuk dari mengasah kerangka berpikir dan memberikan dasar bagi mereka demi diterapkan dalam mengurus rumah tangga dan mendidik anak anak mereka. Kesimpulannya mereka mengerti ada tugas yang harus dilakukan yang diprioritaskan pada saat memutuskan menikah dan memiliki anak.

Meskipun ada juga alasan berhenti bekerja setelah memiliki anak di Jepang, dikarenakan tidak adanya support system yang mendukung wanita untuk bekerja di luar rumah.

Terlepas dari semua alasan yang dipaparkan, tidak ada nilai benar atau salah bila kita sebagai perempuan memilih antara bekerja di kantor maupun bekerja di rumah. Semua sama mulianya selama kita mendedikasikan diri kita dengan baik pada apa yang kita kerjakan, kalau kita telaah dari setiap alasan dari kedua kelompok, keduanya mempunyai tujuan mulia yaitu demi keberlangsungan dan kebahagiaan keluarga.

Sebagai penutup saya ingin mengutip Kahlil Gibran tentang bekerja : Kau bekerja agar bisa tetap melangkah seiring irama dan jiwa bumi. Dengan menyibukkan dirimu dalam kerja, sesungguhnya engkau telah mencintai kehidupan. Mencintai kehidupan melalui kerja adalah menyelami rahasia kehidupan yang paling dalam. Sungguh indah bukan? Mari bekerja dan berkarya di manapun kita berada, karena itulah hakekat kita sebagai manusia supaya bisa menjadi berkat bagi sesama melalui karya. Semangat!