Setelah Presiden Jokowi mengumumkan dua WNI mengidap Corona di RS Sulianti Saroso, berbondong-bondong masyarakat menyerbu toko, pasar, minimart, apotek hanya untuk membeli masker sebanyak-banyaknya. Harga masker pun melambung 10 kali lipat. 

Selain masker, makanan sehari-hari juga jadi incaran massa. Corona sepertinya membuat mereka enggan keluar rumah. Tak heran jika di Cina saja, berkat Corona, tingkat polusi udara di negeri tirai bambu itu menurun cukup signifikan.

Kepanikan massal itu juga sampai mengusik kenyamanan seorang pelawak, Aming namanya. Pria yang sering melakoni peran bak perempuan itu bisa punya kacamata lain. 

Saya sepakat dengan Amin. Dia menyebut kita manusia lebih jahat dari Corona. Ketakutan dan kerakusan atas dasar keinginan nyaman membuat sobat miskin menjadi korban. Jika semua dibelanjakan dan dihabiskan, lantas apa yang tersisa bagi sobat misqueen?

Sobat miskin yang hidup serba apa adanya memang sering kali menjadi inspirasi pada saat genting. Refleksi Aming justru mengingatkan saya pada sosok Abang Sate yang tetap berani mengipas sate saat bom meledak di depan pusat belanja Sarinah. Seketika abang sate menjadi inspirasi dengan hashtag #KamiTidakTakut

Hashtag itu memang membangun gerakan massa, menolak takut, menentang teror. Massa dikerahkan dengan membawa spanduk #KamiTidakTakut. 

Sialnya, untuk kasus ketakutan yang sama, tidak berlaku saat Corona. Kelas menengah khususnya terbirit-birit berlari dari musuh bernama Covid-19, yang katanya tak terlihat namun lebih mematikan.

Koran tempat saya bekerja, kemarin meluncurkan halaman depan "Jangan Panik" judulnya. Niatnya tentu sama dengan #KamiTidakTakut ujaran supaya tetap berani. Beberapa media massa lain, juga para pengamat dan stakeholder kerap berujar #JanganPanik atau #JanganTakut. 

Ah, kata "Jangan" memang multitafsir, tidak sesederhana #KamiTidakTakut. "Jangan" menandakan, sesuatu hal ini memang tak pasti, perlu dicemaskan, sangat rasional dikhawatirkan, tapi JANGAN berlebihan.

Artinya, kita semua sama-sama sepakat, Covid-19 seperti teror yang lebih mengerikan dari bom Sarinah. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana kita memanajemen perasaan takut tersebut?

Saya pribadi tidak akan berpanjang lebar membahas kesalahan media memframming berita, sudah banyak pakar yang membahas itu. Saya lebih suka melihat bagaimana Covid-19 dilihat sebagai fenomena gunung es yang pecah akibat pengumuman dari Jokowi. 

Sudah lama di kalangan masyarakat mempertanyakan antisipasi Corona, namun wacana yang keluar hanya sebatas kita masih bebas Corona. Padahal keheningan itu sudah banyak masyarakat yang membeli masker, ketidakpercayaan melambung sejak tidak ada ketegasan, misal, travel warning ketika virus mewabah. Sebaliknya, kita malah asik mengobral insentif pariwisata.

Kini kita masih berkutat dengan upaya menurunkan tensi ketakutan. Liarnya informasi, minimnya ruang refleksi, membuat usaha "Jangan Panik" menjadi pekerjaan panjang, yang memakan waktu mungkin, cukup lama.

Seringkali, saya juga menafsirkan kehadiran Corona adalah realitas dari krisis iklim. Nggak nyambung? Bodo amat. Sederhana saja pikir saya, virus dan teroris secara eksisten memiliki bentuk yang berbedsa sehingga menimbulkan tensi ketakutan yang berbeda karena secara material pun jauh berbeda. 

Teroris masih bisa ditangkap, dilihat, diantisipasi, dicegah dan dikendalikan hingga dihukum. Sehingga  segala panca indera bisa merespon itu. Sebaliknya, virus tak bisa dikendalikan, dia adalah bagian dari semesta yang tidak bisa dibatasi kecuali dicegah.

Namun pikiran saya sebenarnya tak sepenuhnya kepercayaan sia-sia. Sudah lama, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah merilis sebuah laporan panjang berjudul "Climate Change and Human Health - Risks and Responses" pada 2003. Laporan sebanyak 38 halaman, tersebut menyatakan bahwa perubahan iklim akan berdampak pada:

a) mereka yang terpapar langsung dari perubahan cuaca ekstrem; b) mereka yang kesehatannya terdampak dari kondisi lingkungan yang secara bertahap memburuk akibat perubahan iklim; c) konsekuensi ganguan kesehatan yang beragam (trauma, penyakit menular, kekurangan gizi, gangguan psikologis, dan lain-lain), akibat dislokasi populasi dari perubahan iklim. Pada pilihan yang terakhir, Badan Kesehatan Dunia menyebutkan bahwa pola transmisi penyakit menular sangat dipengaruhi perubahan iklim.

Contohnya adalah penyebaran penyakit yang ditularkan melalui vektor, yang secara bersama-sama dipengaruhi oleh kondisi iklim, pergerakan populasi, pembukaan hutan dan pola penggunaan lahan, hilangnya keanekaragaman hayati (misalnya : predator alami nyamuk), konfigurasi permukaan air tawar, dan kepadatan populasi manusia.

Dengan demikian, virus yang terus muncul ke depan dengan karakter yang berbeda adalah respon atas perubahan iklim. Virus tidak sebatas hidup dalam tubuh manusia. Dalam suhu tertentu, dia juga bisa bertahan dan berkembang. Sederhananya apa yang kita berikan kepada alam, adalah apa yang akan dikembalikan alam kepada kita. Semoga saja, tidak banyak ragam virus baru yang muncul di masa depan hanya karena abainya perilaku kita sehari-hari.

Ya, tulisan ini sangat jauh dari kaidah jurnalistik apalagi yang saintifik. Saya hanya menawarkan sebuah cara pandang lain, yang mungkin, bisa mencegah Anda lari mencari toko terdekat memborong antiseptik dan masker. Sebaliknya, Anda bisa berdiam sesaat, dan berpikir, apa sumbangan Anda pada diri sendiri dan sumber alam yang tersedia di dalamnya.

Di hadapan alam, kita memang tak berdaya. Corona lebih menyeramkan bagi kita ketimbang teroris yang mengebom tempat nongkrong. Respon alam seperti teror jangka panjang yang lebih tak terkira efeknya. Di hadapan Corona #KamiTidakTakut tidaklah mempan.

Sumber:

Wabah Virus Corona, Tamparan Pahit Kesehatan Manusia dari Krisis Iklim, Kompas.com