Ibarat sebuah makanan, kita bisa mengatakan makanan itu benar-benar enak ketika sudah mencicipi makanan tersebut. Hal itu terjadi pada saya dengan Jogja. 

Memang sudah bukan rahasia lagi jika salah satu sisi istimewa Jogja adalah masyarakatnya yang ramah. Namun saya baru mengakui hal tersebut setelah tinggal di Jogja.

Mari kesampingkan dulu permasalahan UMR Jogja yang “nganu”, jika boleh jujur, dalam hati terdalam saya benar-benar mengakui sisi keramahan warga Jogja.

Pengendara motor di Jogja benar-benar jauh dari kata barbar. Paling tidak sampai saat ini belum pernah saya temui adu mulut antarpengendara. Ketika ada pengendara yang dirasa ngawur, paling mentok ya diklakson. Tidak sampai di-pisuhi, atau sampai adu jotos. Hal ini jauh berbeda ketika saya berkendara di Malang, Surabaya, Gresik, bahkan Lamongan. Berkendara di Jogja benar-benar adem-ayem.

Saya tergolong pengguna motor yang agak ugal-ugalan. Dulu ketika berkendara di Jawa Timur, khususnya Malang, saya sering mendapat teguran kasar (di-pisuhi) dari sesama pengendara. Berbeda ketika di Jogja, masyarakatnya seperti tidak mengenal kalimat kasar.

Saking baiknya, pernah suatu ketika saya bangun kesiangan dan harus ke kampus. Akhirnya dengan nyawa yang belum terisi penuh, saya langsung meratakan air di sekujur muka, kemudian menuju kampus dengan kecepatan penuh.

Karena memang kondisi baru bangun tidur dengan nyawa yang belum sepenuhnya penuh, motor saya pun hampir tabrakan sama orang. Harus saya akui bahwa 90% itu karena keteledoran saya, namun ndilalah berakhir dengan senyum manis dari sang bapak, sambil bilang “monggo”.

Hemmm, jiwa mesohku meronta-ronta.

Masyarakat Jogja juga sudah terbiasa menggunakan bahasa jawa yang halus. Misal dalam penyebutan kata ganti orang yang lebih tua biasanya menggunakan kata ganti “njenengan”. Bahkan untuk orang yang tidak dikenal.

Ini berbeda dengan budaya di Jawa Timur, khususnya daerah Pantura. Di sana, Kata ganti “njenengan” ini hanya digunakan untuk orang yang sangat dihormati, seperti guru, tokoh masyarakat, kakek, nenek, dst. Sedangkan untuk orang asing yang terlihat lebih tua menggunakan kata ganti “sampean”.

Bahkan saya sendiri ketika memanggil orang tua kandung menggunakan kata ganti sampean, bukan njenengan. Dan di Desa saya, itu bukanlah hal yang tabu.

Namun ketika menetap di Jogja, saya jadi merasa bersalah, bayangkan saja ketika di rumah saya memanggil orang tua kandung menggunakan sampean, tapi pas di Jogja dengan orang yang tidak kenal malah manggilnya njenengan.

Sekadar informasi bagi yang bukan orang Jawa. Penyebutan “kamu” dalam bahasa Jawa ada beberapa jenis dan tingkatan, yaitu: kowe, awakmu, (Ngoko: paling kasar), sampeyan (Madya: sedang), njenengan (Inggil: paling halus). Selengkapnya silakan dibaca buku Pepak Bahasa Jawa. whehehe

Selain kosa kata, masyarakat Jogja juga menggunakan diksi yang halus ketika menyampaikan kritik atau teguran. Orang Jogja tidak akan terang-terangan mengatakan, “he anda salah, harusnya kayak gini”, mereka cenderung mengatakan “sepertinya anda salah deh, karena setelah saya cek kok ternyata gini ya, apa saya yang salah lihat”. Kurang lebih begitu jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, benar-benar satir sekali.

Selain itu, hal yang paling membuat saya kagum adalah budaya serawung masyarakat Jogja. Entah bagaimana bisa terjadi, namun rasanya serawung ini seperti kegiatan bernafas bagi mereka yang pasti bisa dilakukan.

Bagi saya yang hidup di Jawa Timur, serawung termasuk sebuah skill yang luar biasa dan tidak semua orang bisa. Namun skill ini mendadak jadi default ketika di Jogja. Tidak bisa tidak, semua orang Jogja memang terlahir dengan kemampuan serawung.

Saya sering mengamati banyak orang, dan kebanyakan dari mereka ketika berada di lingkungan baru maka akan menjadi pendiam, bahkan cenderung salah tingkah, namun ketika sudah kenal akrab, baru tuh sifat aslinya keluar.

Karena bagi saya, tidak semua orang yang diam di tongkrongan memang sifat aslinya adalah pendiam. Bisa saja karena memang belum menunjukkan sifat aslinya.

Namun masyarakat Jogja tidak demikian, mereka bisa serawung dengan santuy, meskipun dengan orang yang baru dikenal, bahkan bisa lempar lelucon ringan meskipun tidak lucu.

Jika anda ingin mencicipi budaya serawung di Jogja, coba saja mampir ke Kopi Jos (utara stasiun Tugu). Ketika sedang ramai, di sana tempat duduknya benar-benar berdekatan antarpengunjung lain, jarak antarpengunjung tidak sampai setengah meter. Anehnya tidak ada yang terganggu, saya pun demikian, cobalah kalau tidak percaya.

Atau coba ke angkringan, di sana akan anda temukan orang-orang yang dengan santuy pesan makanan, duduk, kemudian ngobrol dengan siapa saja. Obrolannya pun random, kadang berfaedah, kadang juga enggak sama sekali. Meskipun sering kali tentang sambatan dan petuah menjalani hidup.

Bagi anda yang singgah di Jogja, atau baru menetap di Jogja, cobalah ke angkringan, anda pasti menemukan banyak hikmah di sana. Atau bagi anda yang belum ke Jogja, mampirlah dan temukan sisi istimewa Jogja di tiap sudutnya.