Matahari raib dimakan Raksasa. Suara azan dan himne Natal merambat di kawat-kawat. Memenuhi udara, televisi dan radio. Di masjid. Di gereja. Umat dalam kesunyiannya menyusuri jejak perjalanan yang tertinggal.

Begitulah malam peringatan Natal di kota ini. Kota yang sesuai dengan negara tempatnya menjadi bagian yang tak terpisahkan. Kota yang majemuk. Beragam. Tak hanya melulu dari bahasa leluhur, tapi juga kepercayaan. Jalan kebenaran yang diimani oleh masing-masing individunya.

Oh bukan, kota ini bukan Yerusalem. Bukan tempat suci ketiga agama Samawi: Islam, Kristen dan Yahudi yang tak pernah sepi dari ziarah dan perebutan. Juga bukan New York, Gaza, atau Baghdad. Kota ini, sebagaimana kota-kota lain di dunia adalah hasil perluasan agama-agama besar. Monumen dari generasi ratusan tahun silam yang kisahnya bisa kita pelajari dari sejarah dan nyanyian.

Kota ini bahkan sebelumnya tak mengenal Allah, Yahweh ataupun Yesus. Orang bersandar pada alam dan Tuhan yang diluar jangkauan nalar. Barulah setelah imperium Islam merangkul kota ini, setelah misionaris menyebarkan Injil, setelah rabbi Yahudi membangun sinagog dan mewartakan ajarannya, ketika itulah orang di sini mengenal nama Tuhan mereka.

Tapi, sayang sekali, kota ini bukan di Australia atau di Timur Tengah. Di kota ini, orang mencari jalan kebenaran melalui caranya masing-masing. Mereka sadar bahwa imperialisme kuno yang mengagungkan idiom: Gold, Gospel and Glory telah usai. Gospel, keyakinan beragama dan ber-Tuhan dicari melalui hati dan pikiran. Tidak melalui pedang dan paksaan.

Mungkin karena itulah, setiap kepala manusia di kota ini selalu beragama dengan hening. Tidak berangasan. Kebenaran, bagi mereka, ialah relatif dan bukan hal yang patut dijejalkan. Lakum dinukum wa liyadin, begitu kalau menurut Al Quran. Bagimulah agamamu, dan bagikulah agamaku.

Tentu kamu mengira tak ada konflik di kota ini, kan? Ah, marilah jangan terlalu naif. Bahkan di Eropa pun ada namanya Dark Ages dan di Arab ada Zaman Jahiliyah. Setiap detik, potensi retaknya kota ini tak pernah benar-benar lenyap. Seperti bom waktu yang kapan saja bisa meledak.

Hanya saja, kota ini bukan kota di Indonesia. Di negara yang mengagungkan agama, namun dalam beberapa hal mereka mengubur logikanya. Di negara yang bisa membabi buta membela kebenarannya, tapi jelas dalam hukum dan ajaran Tuhannya itu pantang dilakukan. Di kota ini, orang benar-benar berprinsip. Tabayyun. Dan tidak mudah dikompori berita palsu.

Oh, bukan. Ini bukan kota yang kaya seperti Kopenhagen atau London sehingga orang tak lagi mengeluh soal tata kelola perekonomian dan harga minyak. Di sini ada perampokan. Virus. Tindakan amoral. Korupsi. Dan hal-hal tidak patut lainnya.

Rasanya, itulah perjuangan melawan ketidakmanusiawian yang akan terus berlangsung seumur hidup. Bagaimanapun, dunia takkan benar-benar adil menurut neraca Tuhan andai semua orang hanya memiliki satu warna dan satu sifat saja, kan?

Di kota ini, yang sayangnya bukan Paris atau New Delhi, dalam mencari kebenaran yang mereka yakini, pemerintah tidak diperkenankan menjamah hak orang lain. Dengan begitu, kamu takkan ragu memakai hijab ketika bepergian. Tak was-was ketika menggelar Misa. Tak khawatir akan dideportasi karena bukan penganut agama yang berbeda dengan mayoritas.

Dan ketika negara lain beramai-ramai mendukung gerakan radikal atas nama agama, penduduk kota ini hanya akan tertawa miris lalu kembali membentengi hati dan nalurinya dengan kitab suci, filsafat, sains bahkan karya sastra di perpustakaan kota. Stop making stupid person famous, batin mereka.

Ketika azan dan himne Natal merambat di kawat-kawat, ketika itulah aku ingat bahwa Allah-ku, kebenaran tertinggi yang kuimani, tentu jika berkehendak akan membuat seisi kota ini hanya mendengar azan Isya saja. Tapi itu tak Dia lakukan. Karena perbedaan ini adalah juga karunia-Nya.