Kala itu liburan semester, rekan sekolah mengajakku untuk berlibur sejenak. Mereka mengajakku untuk mendaki sebuah gunung di Jawa Tengah yang merupakan gunung tertinggi ke 2 di Jawa Tengah dan gunung tertinggi ke 3 di pulau Jawa yaitu Gunung Sumbing.

Kami berjumlahkan delapan orang dan berencana berangkat dari rumah pukul 12 siang atau sehabis dhuhur. Namun apa bisa buat? Sudah menunjukkan pukul 12 siang tapi masih ada beberapa rekan yang belum kelihatan batang hidungnya.

Yaa memang dalam hal kumpul mengumpul ada saja yang terlambat datang, biasanya sering disebut dengan istilah “ngaret”. Ada yang bilang minimal ngaret itu sejam dua jam, terlambat datang aja ada minimalnya ya ada ada aja ahaha. Kalo kalian termasuk kaum-kaum ngaret gak nih??

Kalo saya sendiri sih termasuk dalam kategori remaja ngaret kayaknya, hahaha. Maklum lah bertempat tinggal paling jauh sendiri dari temen lainnya. Dulu pernah minta tolong teman buat nganterin ke rumah dan dia sendiri pun sambat “kok rumahmu adohmen to han?” yaa emang nasib rumah paling jauh begini kayaknya hehe.

Tibalah semua rekan di titik kumpul yaitu di rumah salah satu rekan saya, dan benar saja waktu ngaret sekitar 2 jam, emang ada ada aja remaja sekarang. Kami masih belum bergegas berangkat, dan ingatt!! Sebelum melakukan perjalanan dan pendakian kita harus mengecek ulang alat dan logistik apakah sudah komplit sesuai list yang ada atau belum.

Dan yang paling utama sebelum berangkat sudah pasti kita harus mengisi amunisi perut dulu kan yaa ges haha, biar nanti saat perjalanan enggak perlu tergoda dan mampir-mapir tuh ke warung yang ada dipinggir jalan, lumayan kan bisa ngirit uang saku.

Selesai mengisi amunisi perut, kami solat ashar terlebih dahulu sebelum kemudian segera bergegas menuju basecamp dari gunung sumbing yaitu di basecamp kaliangkring. Ingatt!! Jangan lupa untuk berdoa dan meminta izin orang tua untuk keselamatan.

Dalam perjalanan menuju basecamp kami berdelapan beriringan menggunakan motor. Sesekali kami mampir untuk mengistirahatkan motor serta badan dan kemudian kami melanjutkan perjalanan. Sesampainya di basecamp kami beristirahat sejenak dan mengobrol sedikit dengan penjaga basecamp maupun dengan rombongan pendaki lainnya.

Awalnya kami berniat untuk memulai pendakian pada esok hari. Namun salah seorang rekan mengajak untuk mendaki pada malam hari dengan maksud menyicil perjalanan. Yaa dan pada akhirnya kami setuju untuk memulai pendakian pukul 10 malam.

Karena baru sebentar beristirahat dan kami memutuskan pendakian pada malam hari, maka di perjalanan pendakian kami santai dalam berjalan. Dalam perjalanan, mata saya amat berat sehingga saya berjalan terkadang dengan tertidur. Jalan istirahat tidur jalan istirahat tidur.

Setibanya di pos satu kami tetap melanjutkan perjalanan menuju pos dua, di tengah perjalanan menuju pos 2 rekan saya ingin membuat makan untuk mengganjal perut. Di sini ada hal yang sedikit menyebalkan menurut saya.

Bagaimana tidak? Kami berdelapan dan ada satu rekan yang mementingkan dirinya sendiri dengan ia membuat bubur hanya untuk dirinya, dan tanpa berbagi kepada lainnya. Akhirnya kami yang bertujuh hanya membuat satu gelas energen untuk bersama.

Kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2. Sesampainya di pos 2 kami memutuskan untuk bermalam di sana terlebih dahulu dan memulai perjalanan lagi pada esok hari. Esok hari telah tiba, kami membongkar tenda dan melanjutkan perjalanan menuju pos 4.

Tak terasa kami berjalan beriringan cukup lama dan sampailah pada pos 4. Di sana kami mendirikan tenda lagi untuk bermalam. Selesai mendirikan tenda kami memasak untuk mengisi perut, setelah itu kami beristirahat tidur untuk menjaga stamina karena hari esok kami akan melakukan summit attack yaitu perjalanan menuju puncak dari gunung sumbing.

Pada pagi hari kami bangun pukul 2 pagi, dan menyalakan kompor kemudian membuat minuman untuk menghangatkan badan. Di sini kami dibagi menjadi dua tenda, setiap tenda berisi 4 orang. Di tenda saya setuju untuk menuju puncak pukul tiga pagi, tetapi ada satu teman tenda yang ini tidur terlebih dahulu.

Akhirnya kami bertiga memutuskan untuk summit attack tanpa memberitahu tenda sebelah, karena tidak ingin bersama rekan yang memasak bubur waktu itu, hahaha. Maklum saat itu jiwa-jiwa sebal masih melekat, tapi ingat ini bukan untuk ditiru ya gess hehe.

Saat pendakian menuju puncak, angin berhembus begitu kencang yang membuat badan saya merasa kedinginan. Syukurnya saat itu saya membawa jaket yang dapat mengatasi rasa dingin dan juga jangan lupa membawa senter untuk menerangi jalur pendakian.

Kami tiba pukul 5 pagi di Puncak Sejati Gunung Sumbing 3371 mdpl. Langit masih gelap dan belum menunjukkan keindahannya. Tak berselang lama muncullah cahaya sunrise dari timur dan membuat kami bertiga terpanah akan keindahan yang diberikan oleh alam kala berada di puncak, cahaya oren matahari yang menggaris seperti membelah langit.

Langit mulai terang matahari pun mulai naik, dan rekan kami yang masih berada di bawah pun terlihat menyusul menuju ke arah puncak. Tidak hanya cahaya sunrise yang dapat kami nikmati di atas sana kami juga disuguhkan oleh pemandangan yang tak kalah bagus yaitu sebuah lautan awan yang sungguh menakjubkan.

Setelah kami selesai berfoto dan menikmati keindahan di atas puncak Sejati Gunung Sumbing, kami memutuskan untuk turun kembali ke tenda untuk persiapan menuju basecamp dan pulang. Sedikit kisah yang bisa saya sampaikan, mungkin masih banyak kurangnya saya mohon maaf. Semoga bisa dijadikan pelajaran dan dapat diambil hikmahnya.