Pada akhirnya ada saat di mana kehilangan menjelma hidangan hangat di atas meja.

Di hari itu tak ada derit pintu dan ucapan, "Grey, aku pulang!"

Barangkali tempatmu kembali hanyalah keakuanmu sendiri.

Di hari itu tak ada sarapan, hanya setengah cangkir kopi sisa malam yang nyeri.

Barangkali keahlianmu memang seperti ini, menyajikan hangat pagi dengan sebuah pergi.

Di hari itu tak kutemukan apa-apa selain ingatan yang pecah di sana sini.

Barangkali cinta itu tak benar-benar ada, serupa dongeng kanak-kanak menuju lelapnya.

Di hari itu hanya ada nyeri, aku benci. Seharusnya tak perlu ada rindu-rindu yang terlalu, jika pada akhirnya kita tak satu tuju.


Kota Di Kepalamu 1

Singkatnya begini, suatu waktu hidup membawaku ke sebuah kota di kepalamu. Sibuk sekali. Mimpi-mimpi menjulang tinggi, lebih tinggi dari cemara-cemara hutan yang berdiri sembarang. Tetapi beberapa ruang kau biarkan sepi penghuni. Kurasa kau ingin membebaskan segala termasuk kata-kata.

Diam-diam aku melihatmu, menyimpan potongan senja di saku baju, potongan yang lain kau sembunyikan di buku-buku, laci meja, di gambar-gambar dan di balik pintu.

Aku melihatmu, menertawakan kerumitan yang ditawarkan hidup. Kau bilang, "Bodoh itu dibuang bukan disayang!"

Sementara yang lain sedikit bertanya banyak prasangka. Ah begitulah orang-orang, hanya ingin mengetahui dan mendengar apa yang ingin mereka ketahui dan dengar saja.

Aku melihatmu, sibuk merapikan file-file hidup. Banyak yang kau buang, banyak juga yang kau biarkan tergeletak di kebun belakang. Beberapa kau pajang di dinding, tumpang tindih dengan ingatan-ingatan yang enggan dihapuskan.

Baiklah, sebelum gemerincing genta, derit pintu dan langkah kakiku mengejutkanmu, aku sudahi mengunjungi kota di kepalamu. Jika semesta sepakat aku akan datang tiga hari lagi, membawakanmu potongan pagi, hangat mentari dan secangkir kopi Merapi.

Lantas sepanjang perjalanan pulang, hidup tak menjawab apa-apa ketika kutanya, adakah yang lebih absurd dari pikiran-pikiranku tentangnya.


Kota Di Kepalamu 2

Hey, aku belum lagi sempat mengunjungi kota di kepalamu. Padahal aku ingin tahu sudah seberapa tinggi cemara-cemara di halaman yang kau tanam sembarang itu. Kelak, jika telah setinggi mimpi-mimpi, kau tidak hanya bisa menyimpan potongan senja tapi juga akan menyimpan bulan. Sebab ia akan tersangkut di reranting cemara, lalu redup cahayanya jatuh di jendela kamar yang membawa serta siluet ganjil kecemasan. ⁣⁣⁣⁣

⁣⁣⁣⁣Iya, mungkin itu nanti, suatu hari yang entah kapan. ⁣⁣⁣⁣

Sesekali aku berencana tak merencanakan apa-apa. Menikmati setiap alur dan alirnya, bersenang-senang dengan diri sendiri, tak terburu-buru atau mengejar sesuatu, atau duduk diam memandang apa-apa yang terlihat dari jendela kereta yang membawa rinduku bersauh, jauh. ⁣⁣⁣⁣

⁣⁣⁣⁣Tapi sialnya tiba-tiba aku menghayal--kau datang seraya berkata, "Bagaimana bisa kau lebih memilih pergi daripada aku?" ⁣⁣

Sialnya lagi, bahkan menyebut nama sendiri saja aku lupa ketika kasir kedai bertanya pesanan kopi atas nama siapa, aku menyebut namamu.

Ah sudahlah, ini cukup. Sebaiknya aku segera berkemas, sepi sedang menunggu di depan pintu. Katanya, "Mari bersulang, sayang, merayakan hidup sambil sesekali memesan mimpi. Ya setidaknya bisa kita nikmati sendiri."  ⁣⁣⁣


Meredakan Keakuan Atau Melepaskan Pelukan

 Katamu teori tulisanku merumitkanmu. Penjelasan sederhana saja tetap tak bisa kau terima. Entah kau sedang berpura-pura tidak mengerti atau kau memang hanya ingin paham apa yang ingin kau pahami, kebenaran mutlak milikmu.

Tapi kau salah, sayang, ada hal yang sebenarnya jauh lebih rumit dari teori tulisanku, pikiranmu.

Pikiranmu serupa labirin yang kau bangun sendiri dengan banyak ruang, jendela dan pintu, yang sesungguhnya tak mengarah kemana-mana. Semua jalan kembali ke ruang sempit tempat egomu tinggal, tempat ribuan urat-urat amarahmu meledak kapan saja kau mau.

Pikiranmu mungkin sama rumitnya dengan pikiran Einstein, bedanya Einstein berhasil membuka mata tentang apa-apa yang memang seharusnya manusia ketahui, sedang kau hanya mematahkan hati.

Pikiranmu penuh kemelut, kusut. Dan percayalah, mengurainya akan jauh lebih lama dari usia dunia jika kau tak segera menghentikannya.

Malam ini kita bertemu lagi, berharap ada yang baik-baik dari akhir obrolan kita. Jika tidak, mungkin ini yang terakhir kali.

Kuseduh tiga cangkir kopi luwak kesukaanmu, tanpa gula. Satu untukmu, satu untukku dan satu lagi untuk keras kepalamu. Nikmati saja pahitnya, yang tak lebih pahit dari seduhan cerita yang kau suguhkan. Selebihnya kita akan membuat kesepakatan, meredakan keakuan atau melepaskan pelukan.


Perasaan Kita Mungkin Sama, Yang Berbeda Adalah Pikiran-pikiran Kita

Perasaan kita mungkin sama, yang berbeda adalah pikiran-pikiran kita.

Aku pikir menikmati rekah langit pagi pukul enam menyenangkan. Kamu pikir meringkuk hingga mentari mulai terik lebih mengasyikan.

Aku rasa mengumpulkan semangat yang sempat tercecer semalam lalu menyimpannya di saku baju itu bisa menjadi bekal saat kita menjaring hari. Tetapi katamu, "Tak perlu buru-buru, waktu akan selalu menunggu. Ngopi-ngopilah dulu, aku bersiap siang nanti."

Aku menyisihkan rindu di antara tumpukan kesibukan, kamu bilang, "Kamu terlalu kekanak-kanakan."

Sayang, kita tak sama seperti yang selalu kamu katakan. Aku bukan kamu dan kamu bukan aku yang harus selalu sama serupa sepasang kembar. Kita berbeda, jangan paksakan. Semua tak semudah yang kau pikirkan.

Perasaan kita mungkin sama, yang berbeda adalah pikiran-pikiran kita. Jadi biarkan aku pergi, aku membawa impianku, kamu dengan keakuanmu.

Kelak pada suatu pagi dengan pikiran-pikiran dan kota yang berbeda, doa kita sama, untuk bahagia.