Hasrat manusia untuk hidup seribu tahun tampaknya hanya angan belaka, sebab jangankan hidup seribu tahun, untuk sampai ke usia 60 tahun atau 70 tahun pun kondisi fisiknya sudah sangat "repot." Bagai peribahasa, Niat hati memeluk gunung tapi apa daya tangan tak sampai. Keinginan itu semua hanyalah angan-angan belaka. 

Menurut literatur dari beberapa hikayat zaman dahulu di era  Nabi Adam as. Manusia ketika itu berumur rata-rata seribu tahunan. Masa itu sekira 6000 SM - 10.000SM. Namun seiring bergulirnya waktu, umur manusia semakin menyusut. Di zaman modern saat ini, umur manusia menyusut drastis.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), dikutip dari sirusa.bps.id menyatakan "Angka Harapan Hidup yang terhitung untuk Indonesia dari Sensus Penduduk tahun 1971 adalah 47,7 tahun, artinya bayi-bayi yang dilahirkan menjelang tahun 1971 (periode 1967-1969) akan dapat hidup sampai 47 atau 48 tahun. 

Tetapi bayi-bayi yang dilahirkan menjelang tahun 1980 mempunyai usia harapan hidup lebih panjang yakni 52,2 tahun, meningkat lagi menjadi 59,8 tahun untuk bayi yang dilahirkan menjelang tahun 1990, dan bayi yang dilahirkan tahun 2000 usia harapan hidupnya mencapai 65,5 tahun. 

Peningkatan Angka Harapan Hidup ini menunjukkan adanya peningkatan kehidupan dan kesejahteraan bangsa Indonesia selama 30 tahun terakhir dari tahun 1970-an sampai tahun 2000."

Dari data tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa usia harapan hidup manusia sekarang tidak sampai "menepi" ke angka seratus tahunan.

Artinya, mau tidak mau manusia sekarang harus memanfaatkan usianya yang sebentar ini dengan hal-hal yang positif, bermanfaat sehingga kualitas usianya mampu menutupi kuantitas bilangan umur yang tersisa. Jika kita melihat dengan "kacamata" agama, -dalam hal ini agama islam- maka kita akan menemukan berbagai macam dalil yang menunjukan bahwasanya, jumlah bilangan usia seseorang itu tidaklah berpengaruh terhadap kualitas ketaatannya terhadap Tuhan. 

Sementara yang dituntut oleh agama adalah ketaatan (ketakwaan) yang menjadi sumber dari keberkahan usia seseorang. Ada faktor lain penyebab rendahnya harapan hidup, yaitu gaya hidup yang mengonsumsi berbagai macam makanan siap saji, yang sangat tidak bersahabat dengan daya tahan tubuh, sehingga tubuh rentan terkena penyakit-penyakit jenis baru, dan bisa jadi merupakan sumber pemicu kematian. 

Seperti dikutip dari laman, www.alodokter.com (3 sep 2019). "Makanan siap saji atau junk food memang memiliki rasa yang enak, namun jenis makanan ini mengandung tinggi kalori dan sedikit nutrisi. Tidak hanya itu, kebiasaan mengkonsumsi makanan siap saji juga berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, obesitas, diabetes, hingga kanker." 

Deretan penyakit-penyakit yang "menyeramkan" inilah menjadi penyebab kematian terbesar saat ini. Dan penyakit jantung merupakan penyakit penyebab kematian terbesar di dunia. Sehingga tidaklah aneh kita hampir setiap saat mendengar berita kematian di berbagai media, baik dari kalangan orang biasa sampai tokoh-tokoh dunia. Kematian menghampiri tidak saja kepada kaum tua, dan penyebab kematian tidak harus penyakit saja. 

Bahkan penyebab kematian tertinggi non penyakit adalah dari kecelakaan lalu lintas dan peperangan. Hari ini saja (31 des 2020), kita kehilangan seorang tokoh Nasional yaitu, Prof. Muladi mantan menteri kehakiman era presiden Habibie. 

Seperti dikutip dari tweet Prof. Yusril Ihza Mahendra, "6. Kini Prof Muladi telah tiada. Kita kehilangan tokoh besar bangsa dan negara serta ilmuwan hukum yang sangat berwibawa. Usia manusia ada batasnya. Segala yang bernyawa akan mati. Kita semua akan kembali kepadaNya..." 

Termaktub pula dalam QS. Al-Anbiya 21: 35.Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami." 

Usia manusia ada batasnya, ya.. memang benar. Kita hidup dibatasi oleh ruang dan waktu, satu hal yang jarang dipikirkan oleh orang banyak. Karena mungkin aktivitas keseharian melalaikan kita. Ada pepatah bilang "asal tanah kembali ke tanah". Manusia diciptakan dari unsur tanah maka suatu saat secara sunnatullah akan dikembalikan menjadi tanah hilang tak berbekas. Maut setiap saat mengintai setiap yang bernafas, di bawah bayang-bayang sayap Malaikat maut inilah kita hidup. 

Entah besok atau lusa, kapan dan dimana kita tidak ada yang mengetahuinya. Maka spirit agama menuntut manusia untuk senantiasa menyadarinya, bahwa suata saat tiba giliran bagi dirinya dipanggil Sang Maha Kuasa lewat malakut maut. Agama (dalam hal ini islam), mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa mempersiapkan diri bahwasanya setelah kematian ada kehidupan yang abadi. Sejatinya kematian hanyalah pintu gerbang menuju kehidupan yang abadi tersebut. 

Produktivitas manusia dibatasi oleh usia, seperti dilansir dari laman nanopdf.com, "Depkes RI menyebutkan bahwa usia produktif adalah antara 15 - 54 tahun. Dalam penelitian ini umur yang diambil adalah umur antara 17 - 47 tahun, sehingga usia tersebut masih termasuk usia kerja yang produktif. 

Sungguh waktu yang sangat singkat sekali produktivitas kita hanya berkisar sekitar 30 - 35 tahun saja. Setelah itu akan menjadi beban orang lain, mungkin menjadi beban anaknya, saudaranya, ataupun tetangganya. Tinggal di panti-panti jompo bagi mereka yang tidak punya keluarga, atau punya keluarga tapi enggan untuk mengurusi. 

Ironis, jika hidup yang sesingkat ini hanya dihabiskan oleh hal-hal yang tak berguna. Menciptakan sebuah karya positif merupakan hal yang sangat baik kemudian mewariskannya kepada generasi selanjutnya. Maka secara tidak langsung kualitas umurnya panjang bahkan bisa ratusan tahun selama karyana tetap hidup di tengah-tengah masyarakat, seperti jasa para pahlawan yang namanya tetap dikenang walaupun umur sebenarnya hanya puluhan tahun saja.

Begitulah hendaknya kita mengisi sisa usia kita walau di bawah bayang- bayang Malakul maut, namun kita tidak "kalap", karena kita sudah mempersiapkannya sebaik mungkin.