Pasca kemelut konflik telah berlalu di Irak dan Suriah, kini pihak AS berencana menarik pasukannya dari Timur Tengah. Kebijakan ini dilakukan AS karena situasi konflik di kawasan dianggap mulai stabil. Apalagi setelah pasukan ISIS telah hancur di Irak dan Suriah, maka keputusan AS untuk menarik pasukannya adalah kebijakan yang harus diputuskan.

Sejauh ini, pasukan militer AS telah dikirim ke beberapa negara Timur Tengah. Di tengah berbagai macam bentuk perang dan konflik yang terjadi di kawasan. Apalagi pangkalan militer AS telah dibangun di beberapa negara Timur Tengah. 

Kondisi itu juga memungkinkan bagi AS untuk mengontrol dan memonitor situasi dan kondisi Timur Tengah.

Konflik yang bergejolak di Irak misalnya, membuat AS harus turun tangan dan mengambil peran untuk melakukan stabilisasi keamanan dan politik. Meski, hal ini juga merupakan cara AS untuk menguasai Timur Tengah.

Intervensi AS di Timur Tengah

AS telah mengeluarkan banyak keputusan dan kebijakan luar negerinya untuk mengamankan Timur Tengah. Tetapi, pada dasarnya kebijakan tersebut diambil sebagai bagian intervensi AS atas negara-negara Timur Tengah.

Invasi Irak pada tahun 2003 menjadi momentum penting keterlibatan AS dalam konflik berkepanjangan di negara tersebut. Selain itu, Irak juga dilanda krisis politik dan ekonomi yang membuat negara tersebut mengalami kekosongan kekuasaan. 

Pasca Saddam Husein mundur dari tampuk kekuasaannya. Akhirnya, AS menginisiasi pemerintahan baru lewat campur tangannya. Intervensi atas Irak membuat AS bisa semakin leluasa "memainkan" politiknya di negara tersebut.

AS juga mengirimkan pasukan militernya untuk menggempur ISIS di Irak dan Suriah. Melalui pasukan AS, akhirnya ISIS pun terpojok dan hancur. Meski, ada beberapa pengamat menyatakan bahwa sebenarnya ISIS merupakan buatan AS.

Kebijakan kontroversial Donald Trump untuk menarik pasukan AS dari Timur Tengah termasuk Suriah utara sebagai sebuah strategi brilian. Keputusan Trump menyeruak bahkan ketika Demokrat dan Republik kompak mengecam langkah Trump lantaran khawatir. 

Hal itu bakal membuka invasi Turki terhadap Kurdi Suriah dan membahayakan kepentingan keamanan AS di kawasan tersebut.

Tidak hanya itu, selain menarik pasukannya dari Suriah utara, baru-baru ini Trump dikabarkan akan mengumumkan episode berikutnya dari penarikan pasukan di Irak dan Afghanistan, Rabu (9/9). 

Saat ini ada lebih dari 5.000 tentara AS di Irak. Pada Juli lalu, jenderal tertinggi AS untuk Timur Tengah Frank McKenzie mengatakan AS akan tetap mempertahankan tentaranya dalam jumlah yang lebih kecil dari saat ini. Ia yakin Irak akan menyambut positif kehadiran militer AS dan koalisi untuk mencegah kombatan ISIS kembali berkuasa.

Sementara di Afghanistan, saat ini AS memiliki sekitar 8.600 tentara dan berencana untuk menyisakan kurang dari 5.000 tentara setelah kesepakatan damai dengan pihak Taliban.

Trump juga mengatakan rencananya untuk menyisakan sekitar 4.000 hingga 5.000 pasukan di Afghanistan saat pemilihan presiden November mendatang.

Kendati demikian, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo menekankan dalam pertemuan tersebut penarikan seluruh pasukan AS di Afghanistan hanya akan terjadi pasca misi dan target bisa diselesaikan.

Militer AS dan Stabilitas Kawasan

Militer AS terkenal sebagai kekuatan besar di dunia. Pasukan dengan alat tempur yang mumpuni. Ditambah keahlian dan ketangkasan pasukan yang terlatih. Kemampuan militer AS tak perlu diragukan lagi.

Militer sebagai penjaga dan alat pemerintah AS telah terbukti dalam setiap peristiwa penting dalam perjalanan konstelasi konflik di Timur Tengah. Pasukan militer AS menjadi bagian krusial dalam urusan keamanan di kawasan.

Tidak hanya itu, militer AS selalu menjadi garda depan ditengah situasi stabilitas keamanan dan politik Timur Tengah yang carut marut. AS memainkan kemelut konflik tersebut dengan mengirimkan pasukannya ke kawasan. 

Tetapi, semua upaya tersebut sebenarnya juga untuk mengamankan kepentingan AS di Timur Tengah. Tidak mungkin AS mengirimkan pasukannya ke beberapa negara Timur Tengah tanpa imbalan dan kepentingan apapun.

Kedepan, banyak kemungkinan terjadi, apakah isu dan rencana penarikan pasukan AS dari negara-negara Timur Tengah, seperti Suriah, Irak, dan Afghanistan akan berjalan sesuai rencana. Atau bahkan itu hanya janji Trump untuk menarik perhatian dan mengelabuhi musuh-musuhnya di kawasan.

Tetapi keputusan penting AS tersebut jelas akan berdampak bagi negara-negara Timur Tengah, termasuk Arab Saudi. Pasalnya, Arab Saudi diancam oleh AS jika tidak mensukseskan kepentingan AS di negara tersebut. 

Presiden AS, Donald Trump diketahui telah memberi ultimatum kepada Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman (MBS), bahwa ia tidak akan berusaha menghentikan anggota parlemen AS dari meloloskan undang-undang untuk menarik pasukan AS dari Arab Saudi, kecuali jika OPEC mulai memangkas produksi minyaknya.

Ultimatum Presiden Trump kepada MBS tersebut hingga akhirnya harus dituruti oleh Putra Mahkota Arab Saudi tersebut telah menunjukkan betapa pentingnya kehadiran militer AS di kawasan kaya minyak tersebut. Selain itu, Arab Saudi bergantung pada persenjataan militer dan kehadiran pasukan AS untuk menghadapi rival-rivalnya di Timur Tengah.

Jika melihat kondisi diatas maka bisa dilihat bahwa AS memiliki peran besar dalam upaya pemenuhan kepentingan urusan dalam negerinya. 

Maka, kehadiran militer AS bagi Arab Saudi masih belum aman dari serangan para rivalnya. Apalagi jika AS sampai menarik pasukannya dari negara petro dolar tersebut. Implikasinya, tentu posisi Arab Saudi menjadi sangat rentan.

Dengan demikian, Arab Saudi yang sebelumnya tak mau memangkas produksi minyak mentah. Bahkan, malah melakukan kebijakan dengan memainkan perang harga dengan Rusia yang membuat harga minyak anjlok. Situasi ini akhirnya Arab Saudi mau menuruti presiden Trump untuk memangkas produksi minyak mentah.

Melihat dinamika dan proses yang telah berjalan. Hal ini juga akan berubah sesuai situasi dan kondisi yang terjadi. Pasukan militer AS sangat mempengaruhi atas stabilitas kawasan dan kepentingan politik negeri Paman Sam tersebut. 

Maka, jika AS menarik pasukannya di Timur Tengah, maka akan membuat stabilitas kawasan juga akan berubah. Rival AS di Timur Tengah akan merebut pengaruh AS di kawasan. Tentu AS akan mendapatkan dampak dari keputusan tersebut.