2 tahun lalu · 555 view · 4 menit baca · Filsafat maxresdefault_1_7.jpg
www.madardaily.com

Di Balik Produktivitas Hassan Hanafi

Saya termasuk orang yang tak begitu tertarik dengan pemikiran dan buku-bukunya Hassan Hanafi. Meskipun sebagian orang memandang pemikirannya sebagai berlian terang-cemerlang yang mencerahkan dan memberikan sentuhan berarti dalam diskursus keislaman masa kini.

Secara pribadi, daripada membaca bukunya Hassan Hanafi, bagi saya, mungkin lebih baik membaca bukunya Hassan Syafii. Meskipun keduanya dikenal sebagai Intelektual kharismatik di bumi para Nabi, tapi keduanya memilki genre pemikiran yang berbeda sama sekali.

Jika yang pertama sering dikenal sebagai pemikir revolusi, maka yang kedua dikenal sebagai Ahli Filsafat sekaligus seorang Sufi. Dan pemikiran seorang sufi, bagi saya, jelas lebih mencerahkan dan menenteramkan hati.

Memang, saya akui, dalam soal tulis-menulis, Hanafi jauh lebih produktif ketimbang Syafii. Tapi soal akhlak dan keilmuan, Hanafi tak ada artinya dibandingkan Syafii. Ini tentu hanya sekedar sudut pandang pribadi. Yang bisa jadi tepat, bisa jadi juga salah dan tak berarti.

Tapi, meskipun tak suka dengan (pemikiran) Hanafi, saya melihat ada sisi unik yang menarik untuk kita ketahui dari pemikir yang satu ini. Di balik produktivitasnya dalam dunia tulis-menulis, Hanafi merupakan sosok yang sangat disiplin sekali dalam mengatur waktu sehari-hari.

Dalam salah satu obrolan lepas di malam hari dengan beberapa orang di Saudi—negeri yang kini menjadi singgasana Wahabi—dia ditanya tentang aktivitasnya sehari-hari. Dan ketika ditanya menyangkut aktivitas sehari-harinya itu Hanafi pun menjelaskan tanpa rasa berat hati.

Kata Hanafi, aktivitas utamanya dimulai pada pukul 02: 30 dini hari. Entah dia bangun salat tahajjud dulu atau tidak, saya tak bisa memberi kata pasti. Tapi yang pasti, kata dia, dari pukul 02: 30 itu ia mulai membaca dan menulis sampai pukul 08: 00 pagi hari.

Selanjutnya ia beristirahat dan sarapan pagi. Lalu setelah itu ia membaca dan menulis kembali mulai dari pukul 09: 00 pagi sampai pukul 14: 00 siang hari. Dari pukul 14: 00 sampai pukul 16: 00 sore hari dia makan siang sambil sejenak mengistirahkan diri.

Maklum, karena aktivitas membaca dan menulis harus disertai dengan stamina dan energi yang memadai. Setelah itu, dari pukul 16: 00 sore hari ia membaca dan menulis kembali sampai pukul 21: 00 malam hari. Dan kalau sudah sampai pukul 21: 00 malam hari, katanya, dia menyudahi seluruh aktivitasnya, lalu tidur, sampai kemudian bangun lagi pada pukul 02: 30 dini hari.

Inilah ternyata aktivitas yang dia lakukan sehari-hari. Dengan demikian, total durasi membaca dan menulis orang ini, kira-kira sekitar 14-15 jam sehari. Alamak, gile kali!

Kata Hanafi, jadwal seperti ini hampir tak jauh berbeda dari hari ke hari. Kecuali mungkin kalau sedang ada acara di luar negeri. Mengajar di kampus pun hanya seminggu sekali. Selebihnya ia hanya menyendiri bersama buku-buku yang ia koleksi.

Disiplin sekali orang ini. Saya pernah mencoba mempraktekan jadwalnya ini, tapi tak mampu sama sekali. Inilah mungkin salah satu rahasia di balik produktivitasnya selama ini; yakni menjaga kedisiplinan dalam mengatur waktu sehari-hari; sesuatu yang sering luput dari perhatian kita selama ini.

Harus diakui, kalau dalam soal filsafat dan ilmu-ilmu humaniora, orang ini hebat sekali. Sejumlah bahasa asing dia kuasai. Bahasa arabnya pun lumayan tinggi.

Sejauh ini, Hanafi telah menelurkan sejumlah karya seperti: [1] Min al-'Aqîdah ilâ al-Tsaurah, [2] Min al-Fanâ ila al-Baqâ, [3] Min al-Naql ilâ al-'Aql, [4] Min al-Naql ilâ al-Ibdâ', [5] al-Yamîn wa al-Yasâr fi al-Fikr al-Dîniy, [6] Dirâsât Islâmiyyah, [7] Al-Turâts wa al-Tajdîd, [8] Muqaddimah fi 'Ilm al-Istighrâb, [9] Fi fikrina al-Mu'ashir, [10] Fi al-Fikr al-Gharbiy al-Mu'âshir, dan setumpuk karya lainnya yang tak bisa saya sebutkan satu persatu di sini.

Tapi itu tadi. Entah kenapa saya tak suka sekali dengan pemikiran orang ini. Suka atau tidak suka sih sejujurnya tak terlalu penting sekali. Karena yang penting ialah mengambil kebaikan dari manapun kebaikan itu kita temui, seperti yang dipesankan oleh Nabi.

Kedalaman wawasan filsafat orang ini mengingatkan saya akan sosok Abdurrahman Badawi. Seorang Filsuf Arab yang namanya tentu sudah tak asing lagi. Badawi dikenal sebagai Filsuf Eksistensialis (al-Failasûf al-Wujûdiy) pertama yang terlahir dari perut bumi para Nabi. Karya-karyanya tak kalah melimpah dengan karya-karya Hanafi.

Bahkan, bisa dipastikan bahwa wawasan filsafat Badawi lebih dalam dan luas ketimbang Hanafi.
Badawi menginfakkan sebagian besar waktunya dalam dunia kaji-mengkaji. Orang ini memang genius sekali. Dengan kapasitas linguistik yang dia miliki, dia mampu mendalami tradisi filsafat Islam dan Barat langsung dari bahasa aslinya itu sendiri. Hatta yang berbahasa Yunani.

Tapi, di akhir hayatnya—seperti yang dituturkan oleh Muhamamd 'Imarah, penulis Mesir yang masih eksis hingga saat ini—Badawi menyesal telah "menodai" khazanah turats keislaman dan lebih mendahulukan tradisi keilmuan Barat yang sejujurnya—jika dibandingkan dengan tradisi keilmuan Islam—tak berarti sama sekali.

Nalar orang barat, kata Badawi sendiri, sampai sekarang belum dan tak akan pernah mampu membangun peradaban besar seperti peradaban intelektual Islam-Arab yang kaya seperti yang kita nikmati dewasa ini.

Di penghujung hayatnya, Badawi berikrar, kalau Tuhan memanjangkan usianya di kemudian hari, ia akan mengerahkan seluruh kemampuan intelektualnya untuk membela ajaran Nabi, bukan membela tradisi filsafat Barat yang setengah abad lamanya dia tekuni.

Subhanallah. Penghujung kisah hidup Badawi, bagi saya, telah memberikan inspirasi yang berarti. Mudah-mudahan saja kelak akhir hayat Hanafi seperti Badawi. Atau lebih baik dari Badawi.

(Kairo, Zahra-Medinat Nasr, 05 Oktober 2016)