Penulis
2 minggu lalu · 2798 view · 4 min baca menit baca · Keluarga 22550_63230.jpg
Ilustrasi: criminal.media

Di Balik Perkawinan Sedarah

Kisah cinta sepasang kakak-beradik asal Bulukamba sedang ramai dibicarakan. Keduanya menikah siri di Kalimatan setelah sebelumnya meminta izin merantau. Sang istri melaporkan kelakuan suaminya yang menikahi adik kandungnya sendiri. 

Inses (perkawinan sedarah) bukanlah hal baru. Jauh sebelum itu, perkawinan sedarah atau yang memiliki pertalian keluarga sering kita baca dalam kisah-kisah kerajaan. 

Umumnya perkawinan sedarah di masa itu dilandasi demi menjaga takhta. Bahkan dalam ajaran Islam, kisah perkawinan sedarah awalnya dibolehkan. Perkawinan sedarah terjadi dalam lingkaran anak-anak Adam As. Paling fenomenal, tentunya, kisah Habil dan Qabil.

Setiap kali mengandung, Hawa kemudian melahirkan dua anak kembar, laki-laki dan perempuan. “Adam diperintahkan untuk menikahkan anak laki-lakinya dengan putri dari kembaran anak laki-laki yang lain, dan seterusnya (Ibnu Katsir mengemukakan dalam Qashah al-Anbiyaa').

Bila pada masa Adam As tujuan perkawinan sedarah untuk melanjutkan generasi yang belum banyak, maka raja-raja melakukan perkawinan inses untuk menjaga takhta mereka. Mereka ingin pewaris takhta dari garis keturunan yang sama. Selain itu, mereka tak ingin hartanya jatuh pada keluarga lain. 

Cleopatra, misalnya, menikahi dua saudaranya sekaligus, meski akhirnya keduanya dibunuh. Konon, pemimpin Prancis Napoleon juga pernah meniduri adik, keponakan, dan anak tirinya.

Bila dahulu inses demi memperbanyak keturunan seperti masa Adam As, maupun karena harta dan takhta pada masa kerajaan, maka sekarang inses memiliki latar belakang yang berbeda.

Umumnya orientasi seks yang menyimpang menjadi sebab utamanya. Perilaku seks menyimpang itu bahkan terjadi antara orang tua dan anaknya. Pelecehan dan kekerasan seksual ayah pada anaknya kerap terjadi.


Inses tersebut bahkan ada yang memvideokan aksinya sebagai koleksi. Sebuah perilaku yang tentunya tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut masa depan anak.

Menurut pakar hipnoterapi perilaku dan ahli regresi Nicolas Aujula, umumnya inses terjadi antara anak laki-laki lebih tua kepada adik perempuan. Pemaksaan mulai terjadi pada masa pubertas. 

Dalam studinya yang dipublikasikan dalam film dokumenter Taboo Hunters, Aujula mencatat bahwa kasus ayah kandung atau ayah tiri melakukan kekerasan seksual maupun suka sama suka menduduki peringkat kedua.

Aujula mencatat kasus ayah terhadap anak 50 persen disebabkan ketertarikan sosial yang berujung pada ketertarikan seksual. Menurutnya, manusia pada umumnya mencari pasangan yang memiliki kesamaan fisik dan mental.

Kasus di Bulukumba, Sulawesi, hanya satu dari sekian banyak kasus inses di Indonesia. Kasus di Lampung malah melibatkan ayah dan abang kandung. 

Dalam pengakuannya, sang ayah telah menyetubuhi anaknya sebanyak 5 kali kepada putrinya yang masih berusia 15 tahun. Sang kakak (abang) mengaku telah menyetubuhi adiknya sebanyak 120 kali.

Umumnya, dalam kasus-kasus inses, pihak perempuan lebih muda. Hal itu menunjukkan dominasi laki-laki dewasa terhadap perempuan dalam budaya patriarki masih kuat.

Perkawinan sedarah memang dilarang dalam agama maupun hukum negara. Akan tetapi, dimensi kasus inses tidak bisa hanya dilihat dari kacamata agama. Banyak dimensi lain yang harus dijadikan concern dalam mencegah kasus inses di Indonesia.

Masyarakat kita yang masih tabu membicarakan seks di ruang publik, persoalan ekonomi, teknologi, bisa menjadi dorongan terjadinya inses.

Kita masih enggan membicarakan seks di ruang publik. Padahal, dengan membicarakan hal itu, pengetahuan dampak negatif persetubuhan genetik memiliki efek positif, apakah terhadap pelaku maupun bagi anak hasil hubungan seksual genetik.

Pendidikan seks dalam masyarakat masih menjadi isu sensitif. Padahal seks dan pornografi adalah dua hal berbeda. Masyarakat kita menganggap seks merupakan topik pembicaraan privasi. Tidak elok dibicarakan apalagi sampai diadakan seminar atau workshop segala.


Padahal, melalui pengetahuan itu kita, akan berusaha menjaga keluarga bahkan lingkungan dari perilaku seks menyimpang. Selain itu, edukasi akan meminimalisasi remaja pada masa pubertas mencari info sendiri di Internet.

Berkaca dari kasus di Lampung di atas, menurut pengakuan mereka, kakak-beradik itu kerap mengakses film porno melalui HP. Rasa ingin tahu memotivasi pelaku dan akhirnya berujung mempraktikkan apa yang dilihat.

Faktor ekonomi juga ikut berperan dalam kasus-kasus inses. Kamar tidak terpisah antara anak laki-laki dan perempuan pada masa pubertas menjadi faktor pendukung. Rumah yang memadai kamar laki-laki dan perempuan terkait dengan kemampuan ekonomi para orang tua.

Peran keluarga tentu sangat besar. Apalagi pelaku masih dalam lingkaran keluarga. Para orang tua harus lebih sigap melihat anaknya yang memasuki masa pubertas. 

Lalu bagaimana pelaku inses orang tua si anak? Menurut saya, negara harus hadir. Edukasi kepada anak-anak dapat dilakukan melalui sekolah maupun terjun langsung ke masyarakat. Anak-anak harus tahu apa itu pelecehan seksual, begitu pula masyarakat. 

Kerap terjadi kasus inses yang melibatkan orang tua korban sangat lamban terungkap. Pelaporan dilakukan setelah beberapa bulan bahkan tahunan. Tentu saja sangat merugikan si anak.

Jika kita analisis kasus inses yang melibatkan ayah pada anaknya, umumnya karena keinginan seks masih tinggi, namun tidak memiliki penyaluran. Entah karena ditinggal istri, atau istri yang terlalu sibuk sehingga lupa atau pura-pura lupa meladeni suami.

"Jika karena istri meninggal dunia atau bercerai, mengapa tidak menikah lagi?" Barangkali begitu nada protes kita pada orang tua yang menyetubuhi anaknya sendiri.

Menikah lagi memang solusi, namun faktor ekonomi terkadang menjadi kendala. Biaya yang harus dikeluarkan maupun pasca pernikahan itu sendiri. Sekali lagi, negara harus hadir agar faktor ekonomi tidak menjadi sebab inses di Indonesia.

Masyarakat juga hendaknya lebih peduli. Kepedulian masyarakat berperan strategis dalam meminimalisasi kasus inses, baik yang terjadi di Lampung maupun Bulukumba. Mari jaga keluarga kita.

Artikel Terkait