Richard Bell adalah sarjana Barat dan merupakan seorang menteri di Skotlandia. Bell berpendapat bahwa sebagian besar pengumpulan bagian-bagian wahyu ke dalam surat dilakukan sendiri oleh Nabi Muhammad di bawah bimbingan Allah. Dalam proses pengumpulan tersebut, Nabi Muhammad telah merevisi bagian-bagian al-Qur’an, seperti memperluas, mengganti ayat-ayat lama dengan yang baru, dll.

Bagi Bell, Muhammad ingin memberikan kepada pengikutnya sesuatu yang mirip dengan Alkitab yang dibaca oleh penganut monoteis (Saeed, 2016: 163). Perevisian ini juga melibatkan dokumen-dokumen wahyu yang telah ditulis. Hipotesis itu yang kemudian mendorong Bell melakukan rekonstruksi historis terhadap ayat-ayat yang terhimpun didalam al-Qur’an (Amal, 2011: 96). Rekonstruksi historis ini ia lakukan dengan cara menilik kisah hidup Nabi Muhammad dari awal ia dilahirkan sampai ia meninggal.

Dalam bukunya Introduction to the Qur’an, Bell menuliskan secara kronologis tahun dan uraian kejadian selama hidup Muhammad yang sebelum itu diawali dengan penjelasannya tentang dugaan jalur agama Kristen masuk ke negara Arab yang selanjutnya mempengaruhi dan sedikit banyak dikatakannya ‘dijiplak’ oleh Muhammad (Watt dan Bell, 1970). Selain itu, Bell juga menawarkan kembali susunan teks al-Qur’an berdasarkan kepada susunan yang telah dibuat sebelumnya oleh Noldeke dan Flugel (Saeed, 2016: 165).

Dalam anggapan Bell, Islam telah terpengaruh oleh Kristen. Menurutnya, hal ini bisa terjadi karena berbagai sebab. Beberapa alasan yang mungkin mendasari hal tersebut adalah sebagaimana dipaparkan Al-Makin dalam bukunya Antara Barat dan Timur yakni pertama, adanya gereja Kristen yang waktu itu sudah ada di negara Arab. 

Menurutnya, adanya gereja Kristen dari waktu yang jauh sebelum Islam ada, akan membawa sangat banyak pengaruh kepada ajaran Islam itu sendiri. Islam telah terpengaruh ajaran Kristen dengan berkali-kali bersinggungan, yakni pada masa awal pra-Islam dimana kontak antara negara Arab dengan ajaran agama Kristen telah nyata adanya karena Islam datang beratus-ratus tahun setelah Kristen.

Selain itu, yakni ketika pada masa Nabi Muhammad yang memang waktu itu banyak terjadi di kota Makkah dan Madinah yang dalam hal ini, dua kota tersebut didominasi pemeluk Kristen dan Yahudi. Tak hanya itu, kontak langsung dengan Kristen terjadi pada masa ekspansi Islam dimana Islam telah lumayan berkembang dan harus memperluas cakupan wilayahnya. Kedua, pengaruh sajak-sajak oleh penyair Arab yang beragama Kristen seperti Umayah ibn Abi Shalt dan Zuhair yang dirasa sajaknya mirip dengan bahasa Al-Quran (al-Makin, 2015: 107).

Pada The Origin of Islam in Its Christian Environment, Bell menuliskan beberapa pemaparan analisisnya tentang beberapa kata dalam Al-Quran yang dirasa mirip dan senada dengan kata dalam Alkitab. Tradisi bahasa Aramaik dan peminjaman kosakata tradisi Kristen untuk digunakan dalam perumusan Al-Quran menurut Bell merupakan tindakan yang sangat terlihat dan bisa diamati secara langsung. Dimana beberapa surat dalam Al-Quran yang menurutnya banyak mengutip dari isi Perjanjian Baru  (Bell, 1968: 56).

Tak hanya melihat dari segi kebahasaan, Bell angkat bicara juga seputar ajaran Islam yang dianggapnya sebagai hasil saduran dari agama Yahudi dan Kristen yang lebih dulu hadir ketimbang Islam. Pada masa awal Madinah, menurut Bell, Muhammad melihat banyak kesamaan antara kaum Israel sebagai kaum penganut Nabi Musa dengan Yahudi di Madinah.

Selanjutnya Muahmmad dianggap mengambil ajaran mereka untuk dipraktekkan dalam agama baru yang dibawanya misalnya puasa Asyura dan penghadapan kiblat kepada Yerussalem, dengan harapan agar umat Yahudi Madinah mau mengakui klaim kenabiannya. Namun ternyata Yahudi Madinah menolak (al-Makin, 2015: 108). Berangkat dari anggapan itulah selanjutnya Bell menyusun bukunya Origin of Islam in Its Christian Environment yang mengkritik habis perihal Islam dan Muhammad dengan analisis historisitas kronologi kehidupan Muhammad secara runtut.

Selain pada konteks sejarah agama Islam dan kebahasaan Al-Qur’an, Bell juga menyorot perihal kronologi penyusunan Al-Quran yang menurutnya tidak runtut dan acak. Menurut Bell, tidak ada satu surat pun yang satu periode dalam pewahyuannya. Satu kesatuan atau unit bukan merupakan satu surat, tapi satu tema. Karena satu surat terdiri dari beberapa unit, maka turun juga pada periode yang berbeda (al-Makin, 2015: 108).

Bell merumuskan susunan Al-Quran baru yang menurutnya lebih pas yakni bahwa komposisi al-Qur’an terbagi kedalam tiga periode utama: 1). Periode awal yang darinya hanya tersisa beberapa “ayat pertanda” dan perintah untuk menyembah Tuhan; 2) Periode al-Qur’an yang mencakup bagian akhir periode Makkah dan satu atau dua tahun pertama di Madinah, ketika tugas Muhammad adalah memproduksi suatu Qur’an, suatu kumpulan pelajaran untuk peribadatan; 3) Periode Kitab, bermula pada penghujung tahun kedua setelah Hijrah, sewaktu Muhammad mulai memproduksi suatu kitab suci tertulis. 

Namun, asumsi Bell terhadap rekonstruksi al-Qur’an sulit diterima kaum muslimin meskipun ia berpendapat bahwa Nabi Muhammad melakukan revisi terhadap wahyu-wahyu al-Qur’an berdasarkan inspirasi Ilahi (Amal, 2011: 105).

Secara umum, karya-karya Bell dianggap sebagai kontribusi yang sangat berharga di bidangnya karena membantu menggeser fokus penelitian Barat dari teori-teori tentang Al-Qur’an yang dilakukan sarjana Barat sebelumnya menuju studi yang meneliti tentang teks aktual Al-Qur’an itu sendiri. Tapi tak sedikit juga yang mengkritik habis tentang apa-apa yang dituliskan Bell yang dianggap sebuah kekeliruan, seperti yang dilakukan sarjana Barat Andrew Rippin yang selanjutnya ia tuliskan sebagai karya ‘Review: Reading the Qur’an with Richard Bell’(Saeed, 2016: 165). Terlepas dari variasi tanggapan terhadap karya Bell yang bermacam-macam, selanjutnya dilanjutkan estafet penelitian terhadap Al-Quran oleh murid sekaligus rekan kerjanya William Montgomery Watt.

Referensi:

Abdullah Saeed, 2016, Pengantar Studi Al-Qur’an, Yogyakarta : Baitul Hikmah Press

Al-Makin, 2015, Antara Barat dan Timur, Jakarta : Serambi Ilmu Peserta

Richard Bell, 1926, The Origin of Islam in Its Christian Environtment, New York : Frank Cass and Company Limited

Taufik Adnan Amal, 2011, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an, Jakarta : Divisi Muslim Demokratis.

William Montgomerry Watt dan Richard Bell, 1970, Introduction to the Qur’an, Edinburgh University Press.