Di masa sekarang nama SpaceX  sudah menjadi pengetahuan umum bagi masyarakat. Dengan julukan future company-nya, SpaceX menjadi perusahaan swasta terbesar milik Amerika Serikat yang bergerak di bidang Antariksa.

Julukan tersebut tidaklah salah mengingat pencapaian yang sudah diukir di sejarah antariksa dunia. Tak berlebihan kalau menyebut perusahaan ini sudah sekelas dengan NASA yang dimiliki oleh Pemerintah Amerika Serikat. 

Namun di balik kesuksesan itu semua, dibutuhkan perjalanan yang panjang dan pemikiran jenius serta tangan dingin dari CEO SpaceX yaitu Elon Musk.

Awal Perjalanan

SpaceX (Space Exploration Technologies Corporation) didirikan pada 7 Mei 2002 dengan modal USD 90 juta dari uang saku Elon Musk. Ia menginginkan penjelajahan antariksa yang murah sehingga dapat menyentuh ke kalangan masyarakat sipil. 

Dalam rencana pembuatan roketnya, Elon mengemukakan sebuah ide yang sangat brilian,, yaitu ia merancang sebuah sistem kontrol roket yang dapat mendarat secara otomatis di tempat yang sudah disesuaikan di koordinator ruang kontrol. Pada saat itu kalangan masyarakat awam dan intelektual sampai menyebutnya gila karena belum ada yang mampu melakukannya dengan sukses bahkan untuk sekelas badan pemerintah Amerika Serikat seperti NASA sekalipun.

Krisis dan Bayang-bayang Kebangkrutan

Sesuai peribahasa lokal "Bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian". Pada periode awal (2002-2008) merupakan masa masa yang sulit untuk SpaceX, karena dari seluruh percobaan yang hanya beberapa yang berhasil sesuai target. Tak ayal pada tahun 2008 SpaceX terancam bangkrut. Namun, di sinilah letak kecerdasan dan keyakinan dari seorang Elon Musk. 

Ia menanamkan modal dari uang dompetnya sebesar USD 40 juta untuk kelangsungan operasional SpaceX. Ia percaya bahwa pengorbanan yang dilakukannya tidak akan sia-sia.

Prestasi

Perjalanan SpaceX mulai menemui titik terang terjadi pada Desember 2015. SpaceX berhasil melakukan penerbangan Orbital dengan kesuksesan 100/100.

Roket Falcon 9 Heavy berhasil mendarat dengan selamat secara otomatis di lokasi yang sudah ditentukan. Diikuti dengan keberhasilan pendaratan droneship pertama kali pada Juli 2016.

Kedigdayaan 

Keberhasilan tersebut membawa berkah bagi SpaceX itu sendiri. Investor-investor tak ragu lagi untuk menhamburkan uangnya untuk investasi di SpaceX

Oleh karena itu, dengan budget yang sudah berkali-kali lipat SpaceX mulai berkembang dengan pesat hingga saat ini. Sejarah pun mencatat pada 2 Agustus 2018 ditandai dengan pulangnya astronot SpaceX ke Bumi dengan selamat. 

Capaian tersebut adalah prestasi yang sangat luar biasa karena untuk saat ini hanya SpaceX sebagai perusahaan swasta yang berhasil dalam penerbangan antariksa berawak. 

Untuk sekarang SpaceX masih menjadi primadona untuk jasa pengiriman satelit dari berbagai negara, hebatnya Indonesia pernah menggunakan jasa SpaceX dalam Proyek Merah Putih dengan mengirimkan Satelit Telekomunikasi dari PT Telekomunikasi Indonesia. 

SpaceX juga masih menjadi kontraktor utama dalam urusan pengiriman segala kebutuhan astronot di ISS (International Space Station)

Munculnya Para Kompetitor 

Kesuksesan SpaceX dalam bisnis antariksanya menginspirasi beberapa kalangan untuk mengikuti jejaknya. Seperti Billionare Amazon yaitu Jeff Bezos dengan Blue Origin-nya dan Virgin Atlantic milik Sir Richard Branson.

Blue Origin menjadi lawan yang sengit bagi SpaceX. Beberapa tahun terakhir Blue Origin sukses melaksanakan peluncuran percobaan reusable rocket yang mirip dengan SpaceX. Itu sudah cukup untuk menjadi kompetitor SpaceX.

Oleh karena itu, SpaceX dan Blue Origin pada dekade mendatang memulai bersaing ketat dalam perebutan kontrak pemerintah dari dalam negeri yaitu NASA maupun dari luar negeri untuk program luar angkasanya dan kalangan masyarakat atas untuk bisnis wisata perjalanan antariksa. 

Namun, SpaceX memiliki keunggulan yang mutlak dari para pesaingnya, yaitu dengan banyaknya pengalaman yang didapat dari beberapa flight test yang sudah dilakukan serta sarana prasarana yang lebih mumpuni menjadikan nilai lebih untuk SpaceX dibandingkan kompetitor-kompetitornya.

Harapan Baru SpaceX 

Untuk sekarang SpaceX masih aktif dalam kegiatan peluncuran satelit dan misi-misi dari NASA. Proyek ambisius yang sedang dikerjakan SpaceX saat ini adalah Starlink Project yaitu dengan mengirim ratusan satelit yang bertujuan untuk membangun sistem komunikasi internet berbasis satelit dengan performa yang andal dan harga yang terjangkau. 

Tak hanya itu, SpaceX juga berambisi untuk mengirimkan manusia ke Mars dan membangun peradaban manusia pertama di Mars.

Berbagai persiapan sudah dilakukan oleh SpaceX dari pembuatan roket yang lebih canggih dan konsep hidup di lingkungan Mars. Jadi, hanya tinggal menunggu waktu saja bagi manusia untuk menjadi alien di Planet Mars.

Pionir Masa Depan

SpaceX menjadi nama besar bukanlah karena pemberitaan yang selalu digaung-gaungkan oleh media massa, melainkan dari prestasi prestasi yang luar biasa dan proses perjalanan menuju titik sampai sekarang. 

Prestasi SpaceX bukanlah hal yang mudah untuk ditiru. Diperlukan tekad, ambisi dan optimisme yang kuat dari berbagai elemen perusahaan tersebut. 

Persaingan luar angkasa di versi abad 21 sudah dimulai dan telah menjadi fakta bahwa bukan lagi menjadi persaingan antarnegara melainkan persaingan inovasi yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan swasta seperti SpaceX dari Elon Musk, Blue Origin milik Sang Billionare Jeff Bezos,dan Virgin Atlantic milik Sang Bangsawan Sir Richard Branson. 

Namun, untuk sekarang SpaceX masih satu langkah di depan dan menjadi Pionir 'pemimpin' persaingan bisnis antariksa di Bumi.