protester_rally.jpg
Unjuk rasa protes terhadap kemenangan Donald Trump
Budaya · 2 menit baca

Di Balik Kemenangan Donald Trump: Rendahnya Kesadaran Masyarakat Akan Rape Culture

Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan Presiden Amerika 2016 cukup mengejutkan dunia, bahkan bisa dikatakan tidak diprediksi. Secara popularitas, Hillary Clinton memenangkan simpati dunia dengan semangat demokrasi dan feminismenya, serta dukungan dari mantan Presiden Amerika dan First Lady, Barrack dan Michelle Obama dalam kampanyenya yang selalu menarik perhatian dunia.

Salah satu kampanye yang sempat heboh dan menjadi perhatian dunia adalah kampanye yang mengkritisi perilaku Donald Trump yang terekam dalam salah satu footage milik sebuah acara talkshow populer di Amerika sebelas tahun yang lalu. Dalam footage tersebut terekam pembicaraan Donald Trump dan sang pembawa acara Billy Bush mengenai perkosaan terhadap perempuan.

Dalam pembicaraan tersebut terekam jelas perkataan Donald Trump yang menjadi viral mengenai bagaimana menaklukkan tubuh perempuan yaitu dengan langsung meraba bagian vagina, "Grab them by the p**sy".

Setelah insiden menyebarnya footage pembicaraan tersebut dalam internet dan reaksi kubu kampanye Hillary Clinton yang begitu menarik perhatian publik, banyak orang yang berpikir elektabilitas Trump akan menurun, tetapi justru sebaliknya.

Pendukung Trump di Amerika dan banyak netizen di berbagai belahan dunia menanggapi pembicaraan tersebut sebagai hal yang lazim dilakukan oleh laki-laki dalam kehidupan sehari-hari, yang kemudian disebut sebagai "locker room talk" dan menganggap kubu Hillary hanya membesar-besarkan makna dari pembicaraan tersebut untuk menjatuhkan Trump. 

Pembelaan terhadap perilaku asusila Trump yang kemudian mengantarkannya kepada posisi sebagai orang paling berpengaruh di Amerika Serikat dan salah satu yang berpengaruh di dunia, memperjelas bahwa rape culture (budaya perkosaan) masih menjadi bagian dalam kebudayaan masyarakat dunia, di mana banyak bentuk kekerasan seksual terhadap perempuan yang masih dianggap wajar.

Hal tersebut kemudian memperjelas bahwa masyarakat masih belum teredukasi dengan baik mengenai berbagai macam kekerasan seksual sehingga banyak yang berfikir bahwa, misalnya, menggoda perempuan dijalanan atau memaksa istri berhubungan seksual merupakan sesuatu yang lumrah.

Kemudian memperjelas lagi bahwa mayoritas masih menganggap tubuh wanita sebagai objek seksual yang wajar bila dijadikan sasaran pelampiasan seksual oleh laki-laki, yang mana kerap membuat korban perkosaan disalahkan sebagai penyebab perkosaan.

Pada akhirnya memperjelas, jika di negara adidaya yang menjadi salah satu pionir gerakan pembela hak perempuan saja kesadaran akan rape culture-nya masih rendah, di negara yang masih menjunjung patriarki, seperti Indonesia, sudah pasti tingkat kesadarannya sangat buruk. 

Tetapi yang harus difokuskan dalam hal ini bukanlah seberapa buruk tingkat kesadaran masyarakat terhadap rape culture, tetapi apa yang dapat kita lakukan seberapapun buruknya kesadaran masyarakat akan hal tersebut.

Pada dasarnya mengakhiri rape culture tidak harus turun ke jalan dan melakukan orasi, meskipun terkadang hal tersebut dibutuhkan untuk meningkatkan kesadaran secara masal, tetapi mulailah terapkan kesadaran pada diri sendiri dan orang sekitar, bahwa tidak ada satu pun bentuk kekerasan seksual, baik verbal maupun non verbal, terhadap siapapun yang wajar.

Segala bentuk kekerasan seksual adalah kejahatan yang patut untuk diberi perhatian dan ditindaklanjuti sesuai dengan tingkatannya!