2 tahun lalu · 859 view · 3 menit baca · Filsafat bs-lqd.jpg
www.news.tazbeet.net

Di Balik Kejombloan Abbas Mahmud al-'Aqqad

Mendengar nama pemikir yang satu ini publik intelektual Mesir pasti angkat topi. Pasalnya, dialah salah satu pemikir besar sekaligus penulis prolifik yang pernah terlahir dari perut bumi para Nabi. Ketajaman pemikiran dan produktifitasnya dalam soal tulis-menulis hampir tak sulit untuk disepakati. Sosoknya unik, dan perjalanan hidupnya pun menarik untuk kita ketahui.

Kepada orang ini, Syekh Mahmud Syaltut, Mantan Grand Syekh al-Azhar, rela mencium tangannya dengan penuh rasa hormat dan tanpa rasa gengsi sama sekali. Syaltut mengakui bahwa sumbangsih orang ini kepada dunia intelektual Islam sangat besar sekali. Karena itu kedudukannya harus dihormati.

Tapi Aqqad menolak. Dia merasa tak berhak untuk dijunjung tinggi. Karena orang yang mencium tangannya merupakan Imam Besar yang menaungi Universitas Islam tertua di bumi para Nabi. Ketika berjumpa, kedua-duanya sama-sama menunjukan sikap rendah hati. Dan inilah keteladanan dari para ulama yang perlu untuk kita ikuti.

Selain Syaltut, Syekh Ahmad al-Thayyib, Grand Syekh al-Azhar saat ini, juga pernah mengekspresikan kekagumannya kepada pemikir yang satu ini. Dalam soal ketajaman berpikir, kata al-Thayyib, orang ini hampir tak ada tandingannya sama sekali. Tanpa malu al-Thayyib sendiri berterus terang bahwa dia adalah salah satu penikmat buku-bukunya yang sampai saat ini masih terwariskan dari generasi ke generasi.

Sampai sekarang, kalau membaca buku orang ini, saya harus mengerenyitkan dahi berkali-kali. Bahasanya tinggi, spirit intelektualitasnya pun terasa sekali. Padahal orang ini tak pernah duduk di bangku perguruan tinggi. Orang ini betul-betul otodidaktor sejati yang mampu membuktikan pada dunia bahwa pendidikan formal itu tak selamanya berarti. Karena yang terpenting dalam menuntut ilmu ialah kesungguhan dan kemurnian niat untuk mengabdi kepada Yang MahaSuci.

Namun, meskipun tak pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, Aqqad merupakan penikmat buku sejati. Dalam salah satu bukunya, yang ia beri judul Ana (Aku)—salah satu buku favoritnya Syekh Ahmad al-Thayyib—ia berterus terang bahwa tumpukan buku yang menjejali ruangan pribadinya mampu memenjarakannya selama berhari-hari.

Bahkan, seperti yang dituturkan oleh Dr. Najih Ibrahim, ketika menulis buku 'Abqariyyat Muhammad (Kejeniusan Muhammad Saw), orang ini, katanya, rela untuk tidak keluar rumah selama tiga bulan demi menghormati sosok agung yang sedang dia kaji. Subhanallah. Mengharukan sekali.

Memang, harus diakui, bahwa dedikasi sosok yang satu ini kepada dunia intelektual Islam sangat tinggi sekali. Saking tingginya, orang ini sampai tak terpikirkan untuk mencari istri. Sebagian besar waktu luangnya lebih banyak ia gunakan untuk membaca buku-buku yang ia koleksi. Seolah-olah buku itu, bagi dirinya, merupakan "istri" yang paling berarti.

Dalam koran Akhbar el-Youm, edisi 12 Maret, 2016, rahasia di balik kejombloan Aqqad ini akhirnya mulai terkuak dan hasilnya menarik untuk kita ketahui. Ternyata, semasa mudanya Aqqad pernah ditimpa penyakit yang memalingkan perhatiannya untuk mencari istri.

Ditambah lagi, katanya lebih lanjut, dengan meruaknya kegaduhan politik yang pernah menimpa bumi para Nabi. Akhirnya, boro-boro dia mikirin istri. Negerinya sendiri sedang tidak aman dan hampir tak terkendali.

Aqqad juga berterus terang bahwa soal mencari istri itu baginya sangat sulit sekali (amrun syâqq). Sebab, katanya, di samping kriteria istri tertentu itu tak mudah untuk dicari, kondisi kesehariannya pun sudah tak mampu lagi memberikan ruang baginya untuk mencari istri.

Bagi Aqqad, pilihan untuk beristri itu bisa membatasi kebebasannya dalam membaca dan menulis sebagai dua aktivitas yang dia tekuni setiap hari; dari mulai malam, siang dan pagi.

Orang ini rela tak beristri hanya demi menghabiskan waktu untuk melahap ribuan buku yang sudah dia koleksi. Ia rela tak beristri demi memusatkan konsentrasi. Ia rela tak beristri demi memaksimalkan intelektualitas yang dia miliki. Padahal, orang besar seperti ini tak akan sulit mencari istri kalau bukan karena alasan dan pertimbangan pribadi.

Tulisannya pun tak dibayar dengan harga tinggi. Padahal, seperti yang dia tuturkan sendiri dalam salah satu bukunya, kalau menulis dia harus merujuk ke ratusan referensi. Dan menghimpun sekian ratus referensi itu tentu membutuhkan biaya tinggi. Tapi dia tak peduli. Yang penting tulisan bisa berkualitas tinggi, sehingga pembaca pun kemudian bisa menikmati.

Inilah 'Abbas Mahmud al-Aqqad. Pemikir sejati yang rela hidup menyendiri. Pemikir sejati yang tak peduli dengan gaji tinggi. Dan pemikir sejati yang tak tersetankan oleh kegemerlapan duniawi. Dialah orang yang, oleh Dr. Najih Ibrahim dikenang sebagai, "khair man dafa'a an al-Islâm bi al-Qalami."

Allahuma aku bersaksi, bahwa meskipun orang ini hidup menyendiri, karya-karya yang telah diwariskannya sangat bermanfaat sekali. Semoga kelak orang ini dibangkitkan bersama para Nabi dan para sahabat yang ia cintai. Dan semoga ia hidup tenang di alam sana dalam keadaan rida dan diridai oleh Yang MahaSuci.

Kairo, Zahra, Nasr City, 04 Oktober 2016