Sabtu malam, 12 Mei 2018, menjadi malam yang penuh haru bagi berpasang-pasang mata yang menyaksikan pementasan tari bertajuk "Malam Apresiasi Seni" di sebuah sanggar tari yang berada di rumah tua dari kayu jati, yang didesain apik dengan taburan bunga sedap malam. Semerbak wangi kuntum bunganya pun turut mengiringi keharuan setiap hati malam itu, di bawah temaram lampu sorot yang telah ditata dengan sedemikian rupa.

Sudah enam tahun sanggar tari non-profit ini berdiri, dan baru kali ini mementaskan 15 anak didiknya dengan 4 tarian sekaligus. Dua tari klasik dan dua lagi tari kreasi baru.

Meskipun sudah beberapa kali mementaskan murid tamu asing, namun untuk anak didik sanggar sendiri baru kali ini pementasan tari dengan melibatkan orang tua dan wali ini akhirnya bisa berlangsung. Tentu saja semua tidak lepas dari campur tangan Tuhan dan keikhlasan berbagai pihak, baik orang tua/wali, anak didik sanggar, juga tim sanggar.

Dan malam itu, lagu nasional "Indonesia Pusaka" pun menggema dengan sempurna, membuka acara tersebut.

Sanggar Yang Misterius

Sanggar tari yang lebih mengedepankan pendidikan karakter anak ini memang kehadirannya terbilang misterius. Tidak pernah membuka pendaftaran murid baru atau promosi. Kedatangan murid baru pun, bagi sanggar ini, adalah sebuah takdir dan biasanya mereka mendapatkan informasi keberadaan sanggar ini dari tutur tinular (dari mulut ke mulut).

Bahkan, dari jalan raya ke gang kecil menuju jalan setapak yang mengarah ke sanggar ini pun sama sekali tidak ada penunjuk arahnya.

Dengan menganut istilah beksan dalam tari Jawa klasik, yang berarti bahwa seluruh gerak wiraga dalam tarian hendaknya ditujukan kepada Tuhan, maka bersama kemisteriusannya, sanggar tari ini pun menari sebagai wujud rasa syukurnya kepada Sang Pencipta dengan ikhlas tanpa pamrih.

Memang tidak mudah bagi banyak anak didik sanggar ini yang bertahan dengan menari tanpa kejelasan akan dipentaskan. Apalagi, sanggar ini selalu mengedepankan materi budi pekerti di setiap latihannya dengan dasar ikhlas tanpa pamrih, sesuai prinsip dasar sanggar ini yang diambil dari akar budaya Jawa.

Dan itu bukanlah hal yang mudah, yang bisa diterima siapa pun, tanpa perkenan Tuhan dan dukungan dari orangtua atau wali. Namun demikian, yang datang dan pergi di sanggar ini selalu diterima dengan tangan terbuka, dengan keikhlasan yang tanpa pamrih.

Anak didik di sanggar ini silih berganti dari tahun ke tahun. Dan seleksi alamlah yang memilih lima belas anak dari empat puluh anak yang terdaftar tahun ini untuk tampil dalam malam apresiasi seni tersebut,  yang sebelas di antaranya sudah lebih dari tiga tahun aktif di sanggar ini.

Sebuah Proses

Wajah sumringah tergambar jelas pada lima belas anak yang hampir lima bulan terakhir ini mempersiapkan diri mereka untuk tampil pada malam apresiasi seni di sanggar ini. Tidak hanya berlatih menari secara intens, tetapi pekerjaan rumah lainnya, seperti membangun komunikasi yang baik dengan keluarganya adalah bagian dari uji praktik kesiapan mental mereka untuk mempersembahkan keindahan hati seutuhnya dalam tarian di pementasan tersebut.

Membuang sampah pada tempatnya, serta minum air putih dengan jumlah yang cukup juga menjadi pekerjaan rumah mereka selama lima bulan terakhir ini.

Di sanggar ini, tata krama berjalan dengan pelan-pelan dan bersuara lirih, setelah mengenakan jarik dan stagen saat berlatih menari, sudah berlangsung dengan baik. Anak-anak sanggar ini pun juga telah dapat membangun solidaritasnya. Ucapan maaf dan terima kasih selalu dibiasakan di sanggar ini.

Tradisi menggulung stagen tanpa bersuara dengan pandangan mata fokus pada stagen pun sudah lama berjalan. Lima belas anak yang siap pentas ini dipastikan sudah bisa melipat jarik dengan rapi dan dengan tanpa dikomando pun mereka sudah saling menunggu satu sama lain untuk melakukannya bersama-sama.

Malam Apresiasi Seni

Malam itu keindahan hati lima belas anak sanggar ini benar-benar tercermin dari senyum dan binar mata polosnya pada saat pementasan berlangsung. Tari Bondan yang mengawali pementasan dibawakan oleh Rosarie Nayda Artanti, Vara Yuli Angelina, dan Nanda Risma Septi Arini.

Penonton yang hadir malam itu begitu khidmat menyaksikan tarian ini. Handphone pun wajib dimatikan, dan seluruh penonton juga mengikuti gerakan sembahan pada saat para penari melakukan gerakan manembah di awal tarian yang membuat suasana malam itu pun semakin khidmat. 

Tarian yang menggambarkan tentang kasih sayang seorang ibu kepada anaknya ini benar-benar membawa keharuan tersendiri dan membuat berpasang-pasang mata dari sosok yang bernama ibu menitikkan air mata.

Anak-anak sanggar ini memang benar-benar menari dengan hatinya, mereka menari untuk Tuhan dengan segenap jiwa dan raga, maka tidaklah mengherankan bila tangis haru pun tak lagi bisa dibendung dan sesungguhnya itu adalah tanda kehadiran Tuhan yang menyentuh setiap hati malam itu.

Prosesi pecah kendi dilakukan setelah tarian berakhir oleh para penari didampingi oleh pimpinan sanggar dan oleh perwakilan dari orang tua anak sanggar. Dengan doa dan harapan yang indah untuk semesta raya, maka pecah kendi yang merupakan simbol terpecahkannya segala permasalahan dan berpijak pada sejarah baru, akhirnya menuntaskan Tari Bondan dengan sempurna malam itu.

Tari Rantaya Putri adalah tarian berikutnya yang akan ditampilkan. Dan dibalik sebuah pintu, ketiga penari Tari Rantaya Putri itu berpelukan saling menguatkan sebelum pementasan berlangsung. Entah mengapa jantung mereka berdetak lebih cepat dari biasanya, padahal sehari sebelumnya mereka telah siap dan percaya diri dengan pementasan ini.

Entahlah, apakah mereka menyadari bahwa kejadian itu adalah bagian dari sebuah proses yang bisa dimaknai bahwa mereka kini telah benar-benar menjadi satu keluarga yang seutuhnya, yang satu sama lain bisa saling mendukung secara alamiah.

Disadari atau tidak, malam itu mereka telah erat berpelukan, berdoa bersama dan kemudian bersama-sama pula menuju tempat menari sebagai satu saudara.

Langkah kaki mereka pun kemudian berjalan dengan pasti dan pelan-pelan menyibak taburan bunga sedap malam yang telah menyambut kaki-kaki kecil mereka di tempat pementasan. Seluruh penonton pun khidmat menyaksikan dan turut larut dalam tarian yang dipersembahkan kepada Sang Pencipta itu.

Tari Rantaya Putri adalah untaian gerak dasar tari Jawa klasik dan gendhing yang mengiringi Rantaya Putri di sanggar ini adalah Ladrang Ketawang Ibu Pertiwi yang syairnya adalah tentang penggambaran rasa syukur kepada ibu pertiwi (Alam) ciptaan Tuhan, yang telah menyediakan keperluan hidup seluruh makhluk dengan ikhlas tanpa pamrih.

Adalah Cinta Dina Puspita, Dea Bunga Islaminda dan Yasinta Asti Damayanti yang menarikan Tari Rantaya Putri ini dengan anggun malam itu.

Setelah Tari Rantaya Putri, berikutnya adalah Tari Wercita yang berkisah tentang ayam yang sedang mencari cacing. Dengan kostum nuansa warna hijau dan emas ini, Tari Wercita telah memikat seluruh penonton. Untuk pementasan Tari Wercita ini ada beberapa gerakan yang mungkin tidak sesuai seperti pada saat latihan. Namun demikian, tak ada yang bisa memungkiri bahwa keindahan yang nyata, tergambar jelas pada setiap gerakan penari-penarinya.

Memang konsep menari sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta ini tidak memandang benar dan salah pada setiap gerakannya, tetapi pada ketulusan hati sang penari pada saat menarikan tariannya. Maka, keindahannya pun tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata dan tepuk tangan yang meriah berkali-kali terdengar, tanda bahwa seluruh penonton tak sanggup lagi membendung luapan hati yang penuh kegembiraan dengan tampilan Tari Wercita ini, yang dibawakan oleh Najwa Risna Nurfaiza, Siti Asyela Salsabila Sekariani, Meiditya Isaputri dan Siti Aryeta Alana Rui.

Fenomena Alam Terindah

Dan malam itu, kabut tebal terus turun menyelimuti sebuah rumah tua yang berada di tempat terpencil yang jauh dari perkampungan, yang menjadi terlihat begitu megah setelah disibak oleh bidadari-bidadari cantik yang menari di atas bunga sedap malam. Adalah Tari Candhik Ayu yang kemudian juga menghipnotis seluruh penonton di puncak pementasan tarian malam itu.

Bagai bidadari-bidadari yang turun dari Kahyangan, mereka adalah Rehmalem Shassy Narri Beruginting, Maria Lavina Nadine, Moza Gresia Gandi, Agatha Dani Setyaningsih dan Nana Asri Oktavia yang telah menarikan Tari Candhik Ayu dengan indah malam itu.

Tarian ini adalah tarian yang menggambarkan tentang sekelompok anak perempuan yang sedang bermain dengan tingkah laku  polos, apa adanya dan bermandikan cahaya sang mentari laksana bidadari.

Namun demikian, bagi anak-anak sanggar ini, tarian ini adalah berkisah tentang bidadari yang sedang menari di atas pelangi pada saat kemunculan Candhik Ayu yang tidak pernah bisa diprediksi. Candhik Ayu adalah fenomena alam terindah dan langka, yang ditunggu-tunggu belum tentu datang dan pada saat muncul tidak semua orang dapat menyaksikan.

Pementasan tari yang bertajuk Malam Apresiasi Seni malam itu, memang bagai Candhik Ayu, begitu indah dan langka, tidak dapat diprediksi kapan pementasan ini akan berlangsung kembali di tempat ini, karena memang tidak semua anak yang pernah berlatih menari di sanggar ini dapat tampil dan atau dapat menyaksikan keindahan pementasan malam itu. 

Namun demikian, keikhlasan setiap hati, tentunya dapat menerima vibrasi keindahan pementasan malam itu dan menyelipkannya menjadi bahagia di relung hati yang terdalam.

Candhik Ayu itu sendiri adalah sebuah fenomena alam terindah dan langka yang terjadi di pagi hari ketika sang fajar mulai merekah, pada saat yang sama turun rintik-rintik hujan yang sangat lembut, yang titik-titik airnya membiaskannya sebagai spektrum yang membentangkan warna pelangi, sehingga pemandangan yang terhampar tampak lebih indah. 

Nuansa yang indah perpaduan hangatnya cahaya sang mentari, lembutnya rintik hujan serta indahnya warna pelangi itulah yang disebut Candhik Ayu, sebuah fenomena alam terindah dan langka, yang menjadikannya sebagai sebuah refleksi kemurnian, kesucian dan keindahan yang sempurna dari Sang Penciptanya.

Maka di masa lalu, di tanah Jawa ini pernah ada sebuah tradisi, bahwa apabila Candhik Ayu muncul, anak-anak perempuan akan diminta keluar rumah, menyempatkan diri untuk bermandikan cahayanya, dengan tujuan untuk memurnikan jiwa-jiwa mereka.

Puncak Sebuah Proses

Setelah empat tarian selesai dipentaskan, acara puncak adalah pemberian piagam penghargaan kepada lima belas anak yang telah menuntaskan sebuah proses penting dalam hidup mereka. Pementasan tarian malam itu adalah puncak sebuah proses yang telah menumpahkan derai air mata mereka untuk menjadi anak-anak atau pribadi yang indah.

Anak-anak atau pribadi yang indah di sanggar ini adalah anak-anak atau pribadi yang dengan perkenan Tuhan senantiasa membiasakan diri mereka untuk ikhlas tanpa pamrih, penuh syukur dan baik dalam berpikir, bertutur kata juga berperilaku di kesehariannya.

Dan mereka telah melakukan proses itu selama mempersiapkan pementasan ini. Tidak mudah dan hanya campur tangan Tuhanlah yang menguatkan mereka dalam menuntaskan/menyelesaikan proses yang mungkin tidak mereka sadari. Maka sudah sepatut dan sepantasnya, mereka (putri-putri) sanggar ini menari untuk Tuhan dengan keindahan hati mereka.

Piagam penghargaan yang berisi ucapan terima kasih telah turut berpartisipasi dalam pelestarian budaya Jawa ikhlas tanpa pamrih dan sekaligus sebagai tanda kelulusan telah menyelesaikan satu materi tari pun diterima lima belas anak setelah selesai pementasan didampingi orang tua atau wali mereka. Tak hanya piagam penghargaan, rapor pun dibagikan bersamaan dengan penyerahan piagam penghargaan.

Setelah menerima rapor, masing-masing anak menyerahkan rapor mereka kepada orang tua atau wali mereka.

Setiap orang tua dan wali pun diminta membacakan rapor yang ternyata berisi ungkapan hati yang ditulis oleh putrinya sendiri.

Dan tentunya ini sangat mengagetkan para orang tua dan wali, karena rapor di sanggar ini bukanlah penilaian berupa angka maupun analisa baik-buruk dari evaluasi hasil belajar selama belajar menari di sanggar tari ini.

Sebuah kejujuran hati dan ungkapan rasa terima kasih dan permohonan maaf yang murni dan apa adanya dari seorang anak kepada orang tuanya atau walinya malam itu, akhirnya menuntaskan sebuah proses kematangan jiwa anak-anak dari usia 7 tahun sampai 13 tahun yang belajar menari di sanggar ini.

Tidak mudah mengungkapkan semua itu. Tapi, mereka telah berjalan bersama-sama melewati sebuah proses melawan rasa malu, tidak tahu harus berkata apa dan tidak tahu bagaimana cara menuliskannya. 

Namun niat tulus dan alasan yang luhur, serta dengan perkenan Tuhan, maka surat dan puisi indah pun akhirnya terlahir sempurna pada  lembaran yang di sanggar ini dinyatakan sebagai rapor yang sesungguhnya.

Air mata haru pun membanjiri rumah tua yang malam itu begitu wangi dengan aroma bunga sedap malam. Betapa pada momen itu anak-anak benar-benar menyadari bahwa orang tuanya telah memberikan banyak hal, dan juga kasih sayang yang tak terhingga kepadanya selama ini.

Mereka pun menangis tersedu-sedu pada saat orang tua dan wali membacakan rapornya. Mereka semua menangis tiada henti, bukan karena ingin menuntut ini dan itu. Tapi betapa rasa syukur dan keharuan telah memenuhi seluruh rongga dadanya pada momen malam itu.

Bapak-bapak yang tak pernah menangis pun, akhirnya tak dapat menyembunyikan lagi tangisnya, dan menunjukkan bahwa hatinya pun juga telah tersentuh lembut oleh hati putrinya yang menangis terisak-isak di hadapannya.

Para orang tua dan wali, akhirnya mendapatkan kesempatan di momen itu untuk mendengarkan indahnya ungkapan hati yang murni dari putrinya, yang tentunya menjadi malam bersejarah dimana orang tua atau wali dapat merasakan betapa putrinya sangat menyayangi, mengerti dan menghargainya.

Keharuan pun akhirnya memuncak pada saat salah satu anak sanggar membacakan hasil rapornya untuk almarhumah ibunya yang mengamanahkan dia untuk belajar menari sebelum sang ibundanya meninggal karena sakit, sewaktu sang anak masih berusia dua tahun. Dan di malam itu, sang Nenek yang merawatnya selama ini menangis tersedu-sedu di antara para orang tua dan mengatakan bahwa inilah sanggar tari yang dimaksud ibunda sang anak.

"Mama, malam ini saya pentas menari!" begitulah sang anak membacakan kalimat pertama suratnya, dengan suara yang tersendat-sendat di antara isak tangisnya.

Semua yang mendengar pun sontak tak kuasa menahan tangis harunya. Bahkan vibrasinya sampai kepada bapak-bapak penjaga yang berada di halaman depan gapura yang tidak bisa menyaksikan secara langsung. Mereka pun tak kuasa pula menahan haru.

Pembacaan rapor pun selesai dan sesuai rencana, anak-anak akan mempersembahkan sebuah lagu dari Sherina yang berjudul "Andai Aku Besar Nanti" untuk orang tua dan wali mereka. 

Pada saat latihan suara anak-anak sanggar ini memang begitu lantang dan merdu, namun derai air mata yang bercucuran pada saat mereka menyanyikannya dengan sepenuh hati malam itu, menenggelamkan suara lantangnya dan dengan suara di antara isak tangis malam itu, akhirnya suara hati mereka pun kembali menyentuh hati siapapun yang mendengarkannya. Suara hati mereka, ternyata tak hanya merdu tapi lebih indah dari kata merdu itu sendiri.

Acara malam itu pun kemudian ditutup dengan menyanyikan lagu "Untukmu Indonesiaku" karya Guruh Soekarno Putra bersama seluruh hadirin, yang malam itu adalah seluruh orang tua, wali dan keluarga anak-anak sanggar. Hadir pula beberapa pejabat desa, juga beberapa anak sanggar yang pernah berlatih menari di sanggar ini.

Dan sebelum acara benar-benar berakhir, Bapak Rudi Hartono, salah satu orang tua dari anak sanggar, mewakili seluruh orang tua mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada sanggar yang dikelola oleh sebuah keluarga dengan empat orang putri di dalamnya, yang tidak bersekolah formal, yang gerak dasar tari Jawa klasik berikut filosofinya pun dipelajari mereka secara mandiri di rumah tua itu.

Di Balik Indahnya Sebuah Proses

Dari seluruh rangkaian acara malam itu, terdapat satu hal yang tidak kalah penting yang terjadi di ruang ganti setelah pementasan selesai. Tidak ada satupun yang menyangka, tanpa dikomando, setiap anak saling berpelukan, menangis tersedu-sedu dan saling meminta maaf satu sama lain. Itulah sebenarnya puncak sebuah proses, dibalik kemegahan indahnya sebuah pementasan seni, dengan konsep menari sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Sesungguhnya, semua yang terjadi malam itu adalah sebuah tanda kehadiran Tuhan pada setiap hati, bahwa ternyata ketulusan dan keikhlasan itu adalah sebuah penghubung antara manusia dengan Sang Penciptanya. 

Dan seluruh rangkaian pementasan malam itu, termasuk ketulusan hati setiap penari dalam menarikan tariannya, semua adalah sebagai sebuah persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Jejak-Jejak Indah

Sanggar yang berada di rumah tua dari kayu jati itu, benar-benar menyuguhkan keindahannya malam itu. Bintang bertabur dengan cahayanya yang terang saat sang malam tepat berada di puncak dan menerangi setiap hati yang merasakan sentuhan dari Sang Pencipta.

Dan tetap dengan kemisteriusannya yang tidak bisa diprediksi kapan lagi akan memunculkan keindahannya seperti Candhik Ayu, maka biarlah kabut gunung Sakya kembali turun menyelimuti sanggar ini kembali, sampai sang waktu kembali memunculkan fenomena alam terindahnya yang langka dan meninggalkan kembali jejak-jejak indah pada setiap hati.