Di balik gerbang ini, pada celah di antara susunan besi panjang bercat putih, mataku menatap ke arahmu. Kupanggil namamu. Terus memanggil. Namun tak jua beroleh perhatianmu. Kau hanya diam menunduk. Mengapa? Padahal jarak kita begitu dekat.

Ingin kulangkahkan kaki ke sana, namun tak ada daya untuk melangkah. Seolah kaki terikat. Tertanam pada tempat berpijak. Akhirnya aku hanya terdiam di balik gerbang ini.

Padahal hari ini aku telah berdandan secantik mungkin. Kau pasti akan takjub dengan kecantikanku. Seperti saat kita duduk berdampingan di altar suci pengesahan ijab kabul beberapa hari lalu.

“Kau cantik sekali. Sangat berbeda dengan tanpa make-up.”

Aku hanya tersipu. Menjatuhkan tatap ke bawah. Malu karena bisikmu turut dinikmati telinga para tamu.

Itu memang pertama kali dalam hidupku bersolek. Sebelumnya, jangankan merias wajah, peralatan make up saja tak kenal.

Setelah sah melengkapi rusukmu, aku berjanji akan selalu bersolek ria. Mempercantik paras ini. Dan hari ini, aku sudah melakukannya. Aku sudah beroleh pengetahuan yang cukup untuk berdandan dan merias wajah. Kau pasti akan terkagum-kagum dan tak mampu beralih tatap. Tak hanya dirimu, tapi juga semua orang, pasti akan memuji kecantikanku.

Cantik. Kata itulah yang pertama kali terlontar dari lisanmu. Tak hanya darimu, kata itu pula yang diucapkan semua yang datang bersamamu; Ayah, Ibu, serta kerabat dekatmu.

Saat itu, matahari belum sepenuhnya memanjat puncak. Panasnya belum lagi menghunus ubun-ubun, ketika kutapak langkah sepulang dari menoreh pohon karet di hutan ujung desa.

Saat melewati rumah pak RT, tertangkap oleh mataku sebuah mobil mewah terparkir di halaman rumahnya. Di teras, ia tengah berbincang dengan seorang lelaki setengah baya bertubuh tambun.

“Mala!” Pak RT meneriakkan namaku. “Sini!”

Aku pun menghampiri. Tanpa sungkan, karena pak RT sudah kuanggap sebagai bapak angkat. Pengganti sosok Bapak setelah tiada.

Belakangan, aku baru tahu jika lelaki setengah baya itu adalah ayahmu, yang sedang berburu menantu. Dan pak RT mempromosikan diriku sebagai calon tunggalnya.

Bagi penduduk desa, aku diibaratkan sebagai bunga yang tengah mekar. Banyak kumbang yang mencoba hinggap di tujuh belas pergerakan usiaku kini.

Namun, cantiknya paras ini belumlah sempurna jika tak disertai akhlak mulia. Menjaga martabat dan kehormatan bagi keluarga kami adalah segalanya.

Keluargaku memang tak berharta. Kami hanya berkasta sudra. Namun ajaran agama tak pernah kami lalaikan. Menjunjung tinggi nilai syariat dan mengamalkannya. Menjadikan keluargaku istimewa, hingga tak sembarang kumbang yang boleh menghinggapiku di taman bunga.

Mula-mula aku ragu saat pak RT dan ayahmu menyertaiku untuk bertemu Ibu. Lalu menyatakan pinangan untukku darimu.

Aku tak yakin, sebab aku tahu bahwa di kota pasti sudah banyak kautemui gadis-gadis cantik. Bahkan mungkin, kau bisa dengan mudah memilih satu dari mereka untuk diperistri. Bukankah keluargamu berkasta tinggi. Mengapa jauh-jauh mencari pelengkap jiwa hingga ke desa?

Namun, setelah kudengar ayahmu bertutur, akhirnya kupahami mengapa beliau memilih menantu seorang gadis desa sepertiku.

“Gadis kampung itu masih steril. Tak seperti gadis kota yang sudah banyak terkontaminasi. Anak saya anak baik, pantaslah bersanding dengan yang baik pula.”

 “Kami tak memilih kaya atau miskin, berpendidikan atau tidak, yang penting perilakunya baik.”

Bagi kami insan papa, dipersunting keluarga kaya adalah kehormatan. Mengangkat harkat keluarga. Menambal lubang kesengsaraan. Terlebih ia juga seorang yang  baik sepertimu. Karena itu, tanpa pikir panjang, Ibu menerima dengan suka cita, khitbah seorang putra saudagar kaya dari kota.

Keesokan harinya, ayahmu bertandang lagi. Lengkap memboyong Ibu, kau, dan kerabat dekatmu. Meminangku secara resmi.

Tak perlu lama menyita waktu, kenduri pernikahan pun digelar di desaku. Lengkap dengan  sajian hidangan yang melimpah. Memuaskan segenap  penduduk desa. Berbagai hiburan rakyat pun digelar. Kita bertahta di singgasana. Menjadi raja dan ratu. Tiga hari berturut-turut.

*****

“Saat pengabdianmu telah tiba. Ikutlah kata suamimu. Orang tuanya adalah orang tuamu, patuh jualah pada mereka.”

Ada aliran bening tertahan di sudut mata Ibu, saat melepas kepergianku menuju kota. Ibu juga menitip harap, agar aku tak mengkhawatirkan keadaannya. Memang Ibu lebih sehat setelah menyambut pinanganmu. Padahal setelah mangkatnya bapak setahun yang lalu, Ibu lebih sering mengeluh sakit.

Aku berharap Ibu mengangguk mengiyakan, saat kau memintanya turut serta. Menetap bersama di kota. Namun, dengan halus disanggahnya. Ia telah sangat nyaman bersuaka di desa.

Diam-diam kuusap mata yang mengembun, menatap  lambai tangannya. Bagai lambaian terakhir.

*****

Sebuah istana berpagar tinggi menyambut tibaku. Megah dengan balutan cat putih berornamen keemasan di setiap sudutnya. Taman rumput luas terhampar di setiap sisi, dengan ratusan burung dara yang tengah bermain dan bercanda.

Hamparan kemegahan membuatku terperangah saat pintu terbuka. Membentang perabot berukuran besar dan mewah yang didominasi warna putih. Tampak pula dayang-dayang kerajaan berbaris, menunduk sopan ke arahku. Serempak mengucap selamat datang.

Aku melangkah masuk, diiringi alunan musik klasik. Kudongakkan kepala ke atas. Ke langit-langit berupa langit dengan juntaian lampu  kristal berkilauan.

Kemudian, kunaiki anak tangga menuju bilik utama di lantai dua.

Kembali kudapati pesona menyuguh mata. Kamar berdinding cermin dengan ranjang putih berukuran besar di tengahnya. Ukiran berbentuk mahkota di bagian sandaran lengkap dengan taburan permata, membuat ranjang pengantin beralaskan sutera putih berbulu tebal dan menjuntai menutup lantai itu, tampak sempurna sebagai peraduan mereguk cinta.

Wangi semerbak pun menyapa. Memenuhi tarikan dan embusan napas. Selayaknya harum kamar pengantin saat merajut cinta di malam pertama.

Sejenak aku tertegun. Takjim. Namun, serasa ada yang kurang. Saat aku berbalik tubuh, kudapati tiada seorang pun menyertai. Tak jua dirimu. Mengapa aku hanya sendiri? Ke mana dirimu dan mereka yang tadi membersamai?

Aku berbalik langkah. Keluar bilik peraduan, menuruni anak tangga yang meliuk-liuk, ke lantai dasar, ke pintu utama, ke taman depan, menuju gerbang. Tak kutemui seorang pun di antara langkah-langkah yang tertapak.

Gerbang pun tertutup rapat. Tak ada siapa-siapa di tempat ini. Hanya aku sendiri. Seorang diri.

Kuintip melalui celah tongkat-tongkat besi putih bersusun rapi. Tampak sosokmu terlihat samar di antara kabut tipis. Menunduk dan menutupi mata dengan sebelah tangan.

Kucoba berteriak memanggil. Namun tak jua beroleh hiraumu. Kau tetap khusuk menunduk. Kau terasa begitu jauh dari dekat mataku.

Kucermati apa yang sedang kauhadapi. Oh, mengapa ada diriku di sana? Berbaring dengan mata terpejam. Terbungkus kain panjang.

Aku mendongak ke atas saat kudengar suara dentuman keras, berasal dari benturan mobil ke pembatas jalan. Dan, semua tiba-tiba berubah gelap di mataku.