Mempunyai rambut yang panjang atau gondrong adalah pilihan hidup, namun ternyata tak semua orang paham bahwa selalu ada alasan di belakangnya. Apalagi jika menjadi seorang suami sekaligus ayah yang gondrong, tentu membawa permasalahan kecil tersendiri bagi keluarga intinya, anak dan istrinya.

# Terdapat Istri dan Mertua yang Pengertian

Mengapa istri dan mertua? Kalau untuk orang tua saya tentunya sudah maklum kalau anaknya ini berambut panjang. Walaupun sering mengingatkan kalau saya sudah berkeluarga diusahakan lebih rapi. Begini cerita ringkas perjalanan istri dan bapak mertua menghadapi saya yang berambut panjang.

Istri kerap kali ditanya, kok suamimu rambutnya panjang? Emang boleh? Istri pun menjawab dengan senyuman dan menyampaikan yang penting orangnya baik. Suamimu orangnya nyantai dan slengean ya?

Istriku lalu bilang, “Iya, dia orangnya santai, maklum keluarga besarnya seniman.” Kalau dipikir-pikir betul juga, adik, saudara-saudara, om, hingga pakdhe dari jalur ibu saya memang semuanya seniman.

Hanya saya saja yang berprofesi sebagai geografer dan kartografer alias tukang buat peta. Hmmm, kalau dipikir-pikir masuk ke kategori seniman juga, tukang gambar muka bumi atau fenomena kebumian.

Nah, menariknya lagi adalah bagaimana saya menghadapi mertua. Atau lebih tepatnya, bagaimana istri saya meyakinkan ayahnya, bahwa suaminya ini walaupun gondrong tapi orangnya keren.

Saya lihat berulang kali, istri berusaha menjelaskan bahwa saya termasuk orang yang serius dalam bekerja. Kemudian, atasan di tempat kerja saya juga bukan tipikal yang mempermasalahkan rambut panjang, selama penampilannya rapi.

Bisa jadi, ada penjelasan lain yang membuat saya terlihat elegan, karena gondrong itu tak selamanya menyeramkan.

Tapi masa-masa itu telah dilalui dengan apik, sehingga bapak mertua pun sudah paham bahwa menantunya ya memang tipikal cowok gondrong keren lah (izin memuji diri sendiri...jarang ada yang memuji soalnya).

# Terdapat Anak yang Belum Tentu Suka Rambut Panjang

Saya menghadapi tantangan baru saat memiliki anak lelaki yang kini berusia 11 tahun dan duduk di bangku kelas 5 SD. Teman-temannya di rumah sering bertanya, kok ayahmu gondrong, kayak cewek ya? Namun, anak lelakiku senantiasa menjawab dengan santai atau kadang cuek aja.

“Terserah ayahku, mau gondrong atau pendek rambutnya”, jawab anak lelakiku. Walau kadang kalau saat kami berdua berbincang empat mata, maka dia selalu bilang bahwa rambutnya lebih keren dibanding rambut panjangku.

Anak lelakiku ini sempat pula mengalami rambut panjang, saat kami berada di Belanda dan saat pandemi sekarang ini. Saat di Belanda, dia memilih memanjangkan rambut karena pangkas rambut di sana mahal dan dia tidak mau atau tepatnya kapok dipangkas rambutnya oleh saya maupun istri.

Semenjak tahun lalu pandemi menjajah, anak lelakiku ini pangkas rambut kira-kira 6 bulan sekali. Sekarang rambutnya panjang, tapi akhirnya sore ini (07/08) persis saat saya menulis celoteh sosok ayah gondrong, anak lelakiku sedang diajak istri untuk pangkas rambut.

Maklum, sekolah daring telah dimulai dan rambutnya yang panjang kerap menutup matanya. Saya pun menyepakati dia untuk dipangkas rambutnya, walaupun jika dipandang tentunya gondrong itu keren juga lho...Upss, bahkan dia lebih ganteng dari saya...Hahaha.

Dia pun sebenarnya lebih memilih untuk mempunyai rambut pendek mirip pemain sepakbola yang menjadi idolanya. Jadi, ternyata tak selamanya menjadi ayah gondrong akan diikuti anaknya menjadi anak gondrong pula.

Atau mungkin belum terinspirasi kali ya...heuheu. Biasanya nanti saat masa-masa perkuliahan ada masanya berambut panjang.

# Pastinya Mempunyai Alasan di Balik Rambut Panjang yang tidak Diketahui Orang Lain

Saya termasuk salah satu dari sekian sosok suami maupun ayah yang mempunyai rambut panjang, lebih tepatnya memilih untuk memanjangkan rambut ketimbang rambut pendek.

Ada beberapa alasan di balik itu, salah satu alasan yang utama adalah saya memiliki flat head syndrome atau kepala peyang. Istilah keren dalam bahasa medisnya disebut plagiocephaly.

Kondisi kepala peyang pada salah satu sisinya, sehingga kepala saya menjadi asimetris. Oleh karena itu, untuk menutupi kondisi kepala peyang saya memilih untuk tidak (kembali) gundul.

Seumur hidup dua kali saya menggunduli rambut yaitu memenuhi nazar dan yang kedua karena kewajiban mengikuti prajabatan CPNS. Oh ya, satu lagi kemungkinan saat masih bayi di awal-awal sempat dipangkas agak tipis, tidak sepenuhnya digundul (berdasarkan cerita dari orang tua).

Nah, dari kondisi kepala tersebut ditambah jenis rambut. Setelah saya pelajari (bertanya ke tukang pangkas rambut dan salon), ternyata jenis rambut saya masuk ke kategori jenis sangat lurus.

Ditambah teksturnya yang halus seperti rambut bayi. Sejumlah faktor tersebut menyebabkan saya susah menemukan tukang pangkas rambut yang tepat, bahkan kadang lebih memilih ke hair stylist di salon pangkas rambut (wanita).

Kira-kira ada yang mengalami seperti saya gak ya? Seringkali itu salah satu pertanyaan yang menghantui diri ini. Adakah sosok-sosok Ayah gondrong lainnya yang mengalami hal serupa.

Bahwa memilih untuk memanjangkan rambut bukan semata-mata untuk bergaya, namun ada kondisi di baliknya yang menjadi alasan kuat untuk gondrong.

Lalu, permasalahan kecil pun timbul dan memerlukan dukungan dan pemahaman dari anak dan istri yang hebat. Untuk istri tentunya karena sudah mengenal saya sejak pertama kali berkenalan, walau saat ketemu dulu dalam posisi gundul rambut tipis pasca nazar.

Namun, seiring waktu, rambut saya pun kembali panjang. Saat pernikahan untungnya, posisi rambut tidak begitu gondrong, walau perlahan dan pasti mulai dibiarkan memanjang lagi.

Saat ini, saya pun masih memanjangkan rambut karena mempunyai nazar akan pangkas rambut pasca berhasil menyelesaikan studi S3 yang masih dalam tahap penantian sidang disertasi. Mohon doanya ya kawan-kawan semua agar dapat memangkas rambut saya sedikit saja...heuheu

# Jangan Menilai Orang dari Rambutnya

Poin terakhir adalah jangan menilai orang dari cover bukunya, eh dari panjang rambutnya. Seseorang yang gondrong adalah sosok orang yang sebenarnya mau repot membersihkan atau menjaga rambutnya.

Kemudian, selain sosok gondrong identik dengan santai, slengean, atau mungkin menakutkan? Sejatinya dia adalah sosok orang yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya (berasa membaca dasa darma pramuka).

Jika melihat sekilas dari penampilan fisik tentu banyak akan tertipu, Anda perlu mengenalnya lebih dalam.

Sejumlah orang pun sering bertanya, emang boleh ya di kantor rambutnya panjang? Pertanyaan ini muncul tidak hanya dari istri, namun kolega kantor pun pernah ditanya pula ama pasangannya saat melihat rapat daring dan menyaksikan sosok diriku yang gondrong.

Untungnya nih ya, atasan saya menganut prinsip bahwa seseorang dinilai secara objektif dari kinerjanya. Maklum, beliau-beliau termasuk yang pernah mengenyam pendidikan di luar negeri sehingga mungkin tau betapa susah dan mahalnya pangkas rambut #eh.

Ini bukan berarti yang tidak berpendidikan di luar negeri punya pemikiran berbeda ya. Sekali lagi, kembali ke pribadi atau peraturan di tempat kerja kita masing-masing.

Berhubung pekerjaan yang saya lakukan bukan bagian dari pelayanan publik sehingga penampilan dalam bentuk rambut pendek dan rapi bukan prioritas. Akan amat berbeda jika saya bekerja di bidang pelayanan yang mesti bertatap muka dengan masyarakat secara langsung.

Itu sekilas mengenai di balik perjuangan Ayah dan/atau Suami berambut panjang. Adakah yang mempunyai kisah perjuangan yang sama?

Apapun pilihannya, jika berambut panjang jangan lupa tetap jaga kesehatan rambutmu dan tetap berpenampilan rapi serta sekeren mungkin.