Media riuh kembali dengan kicauan nyaring moderasi beragama. Bukan hal baru, sejak dulu frasa “moderasi beragama” memang kerap dijadikan granat untuk memojokkan penerapan Islam otentik secara menyeluruh. Todongan berislam moderat yang terus digaungkan pemerintah menimbulkan pro dan kontra. Masuk dipihak mana anda menunjukkan sejauh mana tsaqofah anda menetapi Islam.

Kata moderation berasal dari bahasa Latin moderatio, yang berarti ke-sedang-an (tidak kelebihan dan tidak kekurangan). Juga terdapat kata moderator, yang berarti ketua (of meeting), pelerai, penengah (of dispute). Kata ini adalah serapan dari kata “moderat”, yang berarti sikap selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem, dan kecenderungan ke arah jalan tengah.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “moderasi” berarti penghindaran perilaku kekerasan atau penghindaran keekstreman. Dari arti kata moderasi saja kita sudah dapat menganalisa bahwa himbauan moderasi beragama tidak lain untuk memberikan doktrin berkepanjangan agar biasa-biasa saja mendalami agama atau dengan kata lain tidak menetapi Islam secara kaffah baik dari segi pemahaman maupun pengamalan.

Melalui laman website Kementerian Agama (kemenag.go.id), dituliskan bahwa telah dilangsungkan rapat koordinasi dari kantor Kementerian Agama pada Tanggal 2 November 2021 tentang implementasi penguatan moderasi beragama. Tidak tanggung-tanggung rapat ini dihadiri oleh para pejabat eselon I, serta ratusan pejabat eselon II dan III Kemenag, pusat dan daerah. Juga tim ahli dalam Pokja Moderasi Beragama, Lukman Hakim Saifuddin dan Alissa Wahid. Dalam forum ini, Menteri Agama memberikan kecakapan moderasi beragama dengan menggunakan berbagai pendekatan, system thinking, transformative leadership, hingga theory of changes. 

Fatalnya, moderasi beragama juga nyaring digaungkan dikampus-kampus. Dalam pembukaan kuliah mahasiswa baru IAIN Pare-Pare semester gasal tahun akademik 2021/2022, Dr. Joni Tapingku, M.Th. selaku Rektor IAKN Toraja mengambil topik Moderasi Beragama Sebagai Perekat dan Pemersatu Bangsa dalam pidatonya. (iainpare.ac.id)

Tidak hanya itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Nizar Ali dalam pidatonya tertanggal 15 Desember 2021 mengangkat isu ekstrimisme dan radikalisme sebagai alasan untuk menjalankan misi moderasi beragama dengan sungguh-sungguh. (antaranews.com)

Sepanjang tahun 2021, pemerintah melalui lembaga kementerian agama tampak tidak main-main menggencarkan moderasi beragama ke semua kalangan, baik kalangan ASN, masyarakat awam, hingga mahasiswa.

Anggaran yang tidak sedikit, forum berjilid-jilid hingga penyusunan tim ahli dalam pokja moderasi beragama merupakan gelagat pasti bahwa metode beragama khususnya Islam di negara kita telah dikoridori dengan pendekatan yang terkesan intelek agar tidak dikaji dan diamalkan dengan sungguh-sungguh.

Sekalipun dalam teorinya, moderasi beragama ini melingkupi semua agama namun secara praktisnya, proyek ini menyasar Islam. Hal ini dapat diindera dengan kerapnya moderasi beragama digencarkan esensi penerapannya dengan mengangkat isu jihad dan bom bunuh diri, maraknya halaqoh islam politik dan munculnya kaum yang diklaim intoleran hanya karena berperilaku sesuai dengan akidah Islamnya.

Moderasi beragama tidak lagi hanya sekedar gerakan, tapi sudah menjadi sebuah kebijakan politik, target kalangan tertentu juga misi yang subur dalam menghasilkan kader-kader baru. Pelik bukan main, karena moderasi beragama ini dikemas dengan kata-kata terpelajar, tidak sedikit yang menelan mentah-mentah dogma pendangkalan agama ini lalu kemudian menjadikannya sebagai objek perjuangan.

Mereka menggalakkan moderasi beragama dengan tujuan yang klaimnya untuk mempererat kesatuan dan meningkatkan ketahanan bangsa. Apakah akar masalah persatuan dan pertahanan negeri ini adalah karena keberadaan kelompok-kelompok Islam yang serius dalam beragama? 

Fakta berseliweran di luar sana, tidak dapat menampik bahwa persatuan negeri ini justru kerap dikeruhkan oleh kelompok moderat. Dalam persoalan pengucapan natal saja, mereka meributkan kaum muslimin yang memilih tidak ikut mengucapkan selamat dan tidak ikut merayakan tersebab akidahnya mengatur demikian. Namun yang terjadi adalah penyematan cap intoleran secara masif, padahal non muslim saja tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Menyoal pertahanan negeri, apakah benar radikalisme dan ekstrimisme yang paling besar sumbangsihnya dalam memporakporandakan ketahanan negeri kita?

Bukankah maraknya korupsi, suburnya utang luar negeri, pengelolaan sumber daya alam berasas kapitalisme dan politik setor mahar adalah sesungguhnya problem yang melemahkan ketahanan?

Sebagai muslim yang meyakini kebenaran Islam, moderasi beragama sangat perlu untuk dihalau sebab program ini secara gamblang menanamkan relativisme (tidak ada kebenaran yang absolut) dalam kehidupan, menekankan pluralisme (semua agama sama) juga menawar prinsip-prinsip Islam agar dapat selaras dan membebek tsaqofah barat.

Islam moderat adalah produk pembenci Islam agar kaum muslimin terperosok ke dalam pendangkalan akidah sehingga nilai-nilai Islam tidak lagi menjadi instruksi berkehidupan namun justru ditafsirkan ulang berdasarkan hawa nafsu lalu dipandang sesuai dengan perspektif yang justru mencederai Islam itu sendiri.

Dalam skala analisa yang lebih besar, kita tahu bahwa peradaban yang diayomi oleh sistem kapitalisme saat ini sangat bertolak belakang dengan prinsip-prinsip Islam. Tentu penerapan Islam secara menyeluruh menjadi ancaman terbesar para kapitalis dalam melanggengkan penjarahan kekayaan negera-negara kaum muslimin. Maka moderasi beragama adalah satu dari sekian banyaknya daya sistematis mereka agar kaum muslimin menerapkan sekulerisme dan menganut liberalisme baik dari sisi personal hingga bernegara.

Kampanye “Jangan Terlalu Dalam Ber-islam” adalah racun pemikiran. Islam moderat adalah penyerang bagi Islam itu sendiri. Mengimani Islam berarti menyerahkan diri sepenuhnya untuk mengamalkan prinsip-prinsipnya secara komprehensif. Yakin, tiada ajaran Islam yang melahirkan kemungkaran. Oleh karena Islam, rahmatan lil alaamiin.