Nama PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) merupakan usulan delegasi dari Bandung dan Surabaya yang mendapat dukungan dari utusan Surakarta. Nama PMII juga memiliki arti tertentu yang jarang sekali saat ini orang ketahui.

Makna "Pergerakan" adalah sebuah dinamika dari hamba yang senantiasa bergerak menuju tujuan yang idealnya yaitu memberi penerang bagi alam sekitarnya. Oleh karena itu PMII harus terus berkiprah menuju arah yang lebih baik sebagai perwujudan tanggung jawabnya pada lingkungan sekitarnya.

Bahkan bukan hanya hal itu PMII juga harus terus membina dan mengembangkan potensi ketuhanan dan kemanusiaan agar gerak dinamika menuju tujuannya selalu berada dalam kualitas kekhalifahannya.

Makna "Mahasiswa" adalah generasi muda yang menuntut ilmu di perguruan tinggi yang mempunyai identitas diri. Identitas diri mahasiswa itu sendiri terbangun oleh citra sebagai insan religius, insan akademis, insan sosial dan insan mandiri. Dari identitas tersebut terpantul tanggung jawab individu sebagai hamba Allah maupun sebagai warga Negara Indonesia.

Makna "Islam" yang dipahami sebagai paradigma Ahlussunah Wal Jama'ah yaitu konsep pendekatan terhadap ajaran agama Islam secara profesional terhadap Iman, Islam dan Ihsan yang di dalam pola pikir dan pola perlakuannya tercermin sifat-sifat selektif, akomodatif dan integratif.

Makna "Indonesia" adalah Masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia yang mempunyai falsafah dan ideologi bangsa Pancasila, serta UUD 1945 yang hal ini adalah bagian dari cita-cita bangsa Indonesia.

Bahkan terlihat jelas PMII memiliki konsep dalam menjunjung tinggi nilai-nilai Keislaman, Keindonesiaan dan menjadi wadah generasi muda khususnya mahasiswa untuk menjaga kesatuan bangsa dan menjunjung tinggi cita-cita para pejuang dan bangsa untuk sebuah arti kemerdekaan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Seperti halnya Tujuan PMII yang termaktub dalam AD (Anggaran Dasar) PMII Bab 4 pasal 4 yang berbunyi, "Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya, dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia".

Juga pada Trilogi PMII adalah Tri Motto, Tri Komitmen, dan Tri Khidmat.

Tri Motto mencakup tiga aspek, yakni (Dzikir, Fikir, dan Amal Sholeh) . Ketiga hal tersebut wajib tertanam pada diri setiap kader PMII guna sebagai arah melangkah dalam menjani kehidupan didunia sebagai khalifah fil ard. Selalu mengingat akan keberadaan sang Kholiq pemberi petunjuk. Kemudian menafsirkan setiap petunjuk tersirat dari-Nya. Dan mengimplementasikan dalam wujud amal sholeh. Inilah bentuk penerapan dari Tri Motto yang penting untuk difahami.

Tri Komitmen yakni berupa (Kejujuran, Kebenaran, dan Keadilan). Kader PMII yang juga merupakan seorang Organisator berkewajiban mengimplementasikan Tri Komitmen. Jujur sebagai bentuk tanggungjawab kepada Allah SWT. Kebenaran dalam berucap dan bertidak. Serta adil dalam memihak, agar kedamaian dapat terjaga. Ketiga hal tersebut merupakan sutau bentuk pertanggungjawaban terhadap dimensi yang berbeda-beda. Habblum minnallah, Habblum minnan nass, dan Habblum minal alam.

Tri Khidmat tersusun dari tiga kata (Taqwa, Intelektual, dan Profesional). Yang merupakan kapasitas diri yang wajib dimiliki oleh setiap kader PMII. Dengan kapasitas diri seperti itu, para kader PMII diharapkan faham siapa, apa, dan bagaimana diri mereka dengan melihat kondisi yang ada. Dalam menjalankan tugas dan menjaga fungsi, sublimasi Tri Khidmat pada tataran batin menjadi penting. Taqwa akan membawa pada pemahaman melaksanakan perintah Allah SWT, yang kemudian didukung oleh kadar intelektual yang cukup sehingga tumbuh kesadaran dalam menjalankan perintah Allah SWT. Sehingga nampaklah sifat profesionalisme. 

Hal seperti inilah yang harus terjadi pada diri setiap kader PMII ketika telah menjalankan amanat disetiap struktur keorganisasian, baik dalam struktur keorganisasian PMII maupun organisasi-organisasi lain. Pengetahuan dan pengamalan seperti ini lah yang akan  menumbuhkan kecintaan dan perjuangan warga PMII baik dalam berorientasi di PMII maupun masyarakat juga individu bahkan kelompok.

Juga hal diatas sangat berkaitan dengan NDP (Nilai Dasar Pergerakan) PMII yakni Tauhid, Habluminallah, Habluminnas, dan Hablumialalam. 

Secara esensial Nilai Dasar Pergerakan ini adalah suatu sublimasi nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan dengan kerangka pemahaman keagamaan Ahlussunnah wal jama’ah yang menjiwai berbagai aturan, memberi arah dan mendorong serta penggerak kegiatan-kegiatan PMII. Sebagai pemberi keyakinan dan pembenar mutlak, Islam mendasari dan menginspirasi Nilai Dasar Pergerakan ini meliputi cakupan aqidah, syari’ah dan akhlak dalam upaya kita memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. Dalam upaya memahami, menghayati dan mengamalkan Islam tersebut, PMII menjadikan Ahlussunnah wal jama’ah sebagai pemahaman keagamaan yang paling benar.

Fungsinya di sini dibagi menjadi 3 yakni landasan berpijak, berpikir, dan motivasi. Landasan berpijak: BahwaNDP menjadi landasan setiap gerak langkah dan kebijakan yang harus dilakukan. Landasanerpikir : BahwaNDP menjadi landasan pendapat yang dikemukakan terhadappersoalan-persoalan yang dihadapi. Sumberotivasi : Bahwa NDP menjadi pendorong kepada anggota untuk berbuat dan bergerak sesuai dengan nilai yang terkandung di dalamnya.